kisah

Terlunta damba suaka

Terdapat hampir 14 ribu pengungsi dari negara-negara muslim di Indonesia.

06 Februari 2017 23:55

Baru semalam Umar, 27 tahun, menghirup udara ibu kota. Dia tiba setelah melakoni perjalanan jauh dan melelahkan dari Medan ke Jakarta selama tiga hari tiga malam.

Lelaki lajang ini berasal dari Ibu Kota Mogadishu, Somalia. Dia pantas lari dari negara Arab di Afrika itu karena sudah lama dililit konflik berkepanjangan. Pasukan pemerintah dan milisi Asy-Syabab saling serang.

Ketika ditemui Albalad.co hari ini di kawasan Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, Umar bilang belum ada staf UNHCR (Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa) menemui dirinya dan menanyakan keadaannya.

Pelariannya dari Mogadishu dimulai sepekan lalu. Dari Somalia dia menyeberang ke Kenya, lalu terbang ke Ibu Kota Doha, Qatar. Dari sana, perjalanannya dilanjutkan menuju Kuala Lumpur.

"Karena berpaspor Somalia, kami tidak bisa memasuki wilayah Indonesia," kata Umar, mengaku tadinya bekerja sebagai dosen di sebuah kampus di Mogadishu. "Sehingga kami memakai jasa penyelundup untuk masuk ke Indonesia lewat Medan, kemudian berlanjut ke Jakarta."

Untuk tiba di Jakarta dari Malaysia dengan cara ilegal itu, Umar mesti merogoh US$ 1.200. Dia tidak peduli bakal ditempatkan di negara ketiga mana, yang penting aman dan bisa memulai hidup baru. Secara keseluruhan dia menghabiskan tujuh hari dari Mogadishu untuk tiba di Jakarta dengan biaya US$ 5 ribu.

Masalah pengungsi menjadi sorotan global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melarang masuknya pengungsi dari semua negara selama 120 hari. Sedangkan bagi pengungsi asal Suriah tanpa batas waktu.

Trump juga menutup pintu bagi imigran dari tujuh negara berpenduduk mayoritas muslim, yakni Iran, Irak, Suriah, Yaman, Libya, Sudan, dan Somalia. Larangan ini berlaku 90 hari.

Menurut Veronica Koman, pengacara hak asasi manusia ikut mengurus masalah pengungsi, terdapat hampir 14 ribu pengungsi dari negara-negara muslim di Indonesia, termasuk seratusan orang dari Suriah.

Di lokasi penampungan pengungsi di Jakarta itu, juga banyak dihuni para pencari suaka dari Afghanistan. Salah satunya bernama Yahya Rafii. Pemuda 19 tahun ini lari dari kampung halamannya sendirian pada 2013. Sedangkan orang tua bersama empat adiknya memilih pindah ke Iran.

"Sebagai orang Hazara berpaham Syiah, kami tidak aman di Afghanistan. Taliban dan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) memusuhi kami," kata Yahya.

Kedua milisi itu memang menganggap Syiah sebagai ajaran sesat dan para penganutnya halal dibunuh.

Yahya hanya lulusan sekolah dasar dan sempat bekerja sebagai pelayan restoran sebelum memutuskan mencari suaka. Untuk sampai ke Indonesia, ayahnya menggelontorkan sekitar Rp 40 juta.

Yahya sudah lebih dari setahun mendapat status pengungsi. Dia berharap UNHCR bisa menempatkan dirinya di Australia karena memiliki kerabat di sana.

Dia mengaku UNHCR tidak pernah menanggung biaya hidupnya selama di Jakarta. Dia cuma mengandalkan kiriman uang dari keluarganya di Australia sebesar Rp 1-2 juta sebulan.   

Perjalanan dimulai dari Afghanistan ke India, lalu terbang ke Malaysia, baru ke Indonesia. Semua perjalanan itu, menurut Yahya, dilakukan secara ilegal. Dia mencontohkan dari Malaysia hingga sampai ke Jakarta, dia membayar Rp 20 jutaan kepada penyelundup.

Di pagar depan Menara Ravindo, tempat UNHCR berkantor di Jakarta, Abu Bakar Mansyur, pengungsi asal Darfur, Sudan, menyandarkan tangan kirinya. Dia dan keluarganya sudah empat tahun di Indonesia menunggu penempatan di negara ketiga. Ayah tiga anaknya ini seolah berpesan dia dan keluarganya bersandar pada lembaga PBB itu untuk memulai hidup baru di negara ketiga.   

Satu keluarga miskin di Kota Gaza bepergian menggunakan gerobak keledai, 22 Otober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Palestina Baru versi Trump

Jika Hamas dan Jihad Islam, dua kelompok pejuang Palestina di Gaza, menolak meneken kesepakatan damai versi Trump, Israel dengan sokongan penuh Amerika akan memerangi Hamas dan Jihad Islam.

Paket makanan dibagikan kepada rakyat Mesir memilih amandemen konstitusi dalam referendum digelar selama 20-22 April 2019. (Twitter)

Intimidasi demi Sisi

Pejabat keamanan memaksa para pemilik toko, pebisnis, pengusaha restoran, dan keluarga-keluarga terpandang memajang spanduk menyokong referendum.

Buku Son of Hamas karya Musab Hasan Yusuf, putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi Barat, Syekh Hasan Yusuf. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

Sinagoge Beith Shalom di Jalan Kayoon 4-6, Surabaya, Jawa Timur, pada 2007. (Jono David, HaChayim Ha Yehudim Jewih Photo Library)

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Palestina Baru versi Trump

Jika Hamas dan Jihad Islam, dua kelompok pejuang Palestina di Gaza, menolak meneken kesepakatan damai versi Trump, Israel dengan sokongan penuh Amerika akan memerangi Hamas dan Jihad Islam.

08 Mei 2019
Intimidasi demi Sisi
26 April 2019
Bertemu pemuka Yahudi
04 Maret 2019

TERSOHOR