kisah

Novel Yahya murka Palestina

Otoritas Palestina melarang novel karya Abbad Yahya dan memerintahkan penangkapan atas penulisnya.

10 Februari 2017 23:55

Tiga pemuda Palestina ini bersahabat. Mereka tinggal di Kota Ramallah, Tepi Barat, menjadi pusat pemerintahan Palestina. Ketiganya sama-sama bekerja di sebuah bar, tempat di mana seorang gadis dibunuh.

Salah satu dari ketiga pemuda itu adalah seorang gay, ditangkap dan diinterogasi soal kasus pembunuhan tersebut. Meski bebas dari tuduhan, polisi sadar dia homo kemudian memukuli dan mempermalukan dirinya. Dia lantas pindah ke Prancis agar bisa diterima.  

Pemuda kedua ditentang keluarganya setelah tahu dia bekerja di bar menjual minuman beralkohol, diharamkan oleh Islam. Dia lalu berubah menjadi saleh dan beraliran keras.

Pemuda ketiga adalah pacar dari gadis dibunuh di bar itu. Dia terus dihantui trauma akibat pembunuhan kekasihnya ini. Ketika menyaksikan kejadian tersebut, dia tidak yakin apakah harus mengejar pelaku atau menolong pacarnya sedang sekarat.

Tidak kuat dihantui kematian pacarnya, dia akhirnya bunuh diri. Peristiwa ini melambangkan gerakan nasional Palestina gagal mewujudkan kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel, telah berlangsung hampir tujuh dasawarsa.

Itulah ringkasan dari novel karya Abbad Yahya, berjudul Jarimah fi Ramallah (Kejahatan di Ramallah) dan telah membikin heboh serta murka warga dan kaum elite Palestina di Tepi Barat.

"Seperti masyarakat lainnya di Timur Tengah, masyarakat kita makin fanatik dan ekstremis sehingga menghasilkan konservatisme sosial," kata Yahya. "Kecenderungan ini terlihat dalam masyarakat dengan slogan campuran agama dan nasionalis."

Novelnya dianggap mengolok-olok para pemimpin Palestina dan memotret mereka sebagai pecundang. Jarimah fi Ramallah juga menggunakan bahasa-bahasa vulgar bagi banyak pihak tidak bisa diterima oleh masyarakat masih konservatif.  

Alasan itulah membikin novel bikinan Yahya dilarang. Otoritas Palestina juga telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap sang penulis.

Ketika larangan dan perintah penangkapan itu keluar, Yahya tengah berada di Ibu Kota Doha, Qatar. Karena takut, dia memutuskan tidak pulang ke Ramallah.

"Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan. Kalau saya kembali, saya akan ditangkap," ujarnya. "Bila saya teetap di sini, saya tidak bisa jauh dari rumah dan keluarga saya."

Kecaman terhadap Yahya juga datang dari koleganya. "Yahya sudah melangkah terlalu jauh melewati batasan norma masyarakat Palestina," tutur Adil Usta, profesor literatur. "Novelnya menampilkan gambaran buruk Otoritas Palestina dan menggunakan kata-kataa seksual jarang dipakai. Inilah membikin Otoritas Palestina melarang novel itu."

Ketua Persatuan Penulis Palestina Murad Sudani bilang Yahya telah menulis sebuah novel bodoh. "Novel telah melanggar nilai-nilai nasional dan agama buat menyenangkan Barat dan mendapat penghargaan."

Sejak surat perintah penangkapan atas nama dirinya, Yahya mengaku dia dan keluarganya mendapat banyak ancaman.

Ghassan Khadir menulis dalam laman Facebooknya, "Yanhya mesti dibunuh, ditahan, atau dideportasi."

Pengguna Facebook lain bernama Husain Mihyar mendukung larangan atas novel karya Yahya itu. "Novel ini demi kepentingan Israel dan merusak generasi muda kita," katanya.

Kontroversi itu mendongkrak penjualan Jarimah fi Ramallah. Seorang pemilik toko buku di Ramallah mengaku dalam dua bulan pertama sejak diluncurkan novel itu terjual sepuluh saja. Tapi di hari pelarangan, dia mampu menjual 17 novel karya Yahya itu sebelum polisi menyita stoknya.   

Distributor buku Fuad Aklik mengatakan polisi telah merampas 500 novel Jarimah fi Ramallah di toko-toko buku dan 500 lagi di perpustakaan di seantero Tepi Barat.

Satu keluarga miskin di Kota Gaza bepergian menggunakan gerobak keledai, 22 Otober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Palestina Baru versi Trump

Jika Hamas dan Jihad Islam, dua kelompok pejuang Palestina di Gaza, menolak meneken kesepakatan damai versi Trump, Israel dengan sokongan penuh Amerika akan memerangi Hamas dan Jihad Islam.

Paket makanan dibagikan kepada rakyat Mesir memilih amandemen konstitusi dalam referendum digelar selama 20-22 April 2019. (Twitter)

Intimidasi demi Sisi

Pejabat keamanan memaksa para pemilik toko, pebisnis, pengusaha restoran, dan keluarga-keluarga terpandang memajang spanduk menyokong referendum.

Buku Son of Hamas karya Musab Hasan Yusuf, putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi Barat, Syekh Hasan Yusuf. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

Sinagoge Beith Shalom di Jalan Kayoon 4-6, Surabaya, Jawa Timur, pada 2007. (Jono David, HaChayim Ha Yehudim Jewih Photo Library)

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Palestina Baru versi Trump

Jika Hamas dan Jihad Islam, dua kelompok pejuang Palestina di Gaza, menolak meneken kesepakatan damai versi Trump, Israel dengan sokongan penuh Amerika akan memerangi Hamas dan Jihad Islam.

08 Mei 2019
Intimidasi demi Sisi
26 April 2019
Bertemu pemuka Yahudi
04 Maret 2019

TERSOHOR