kisah

Singapura dan lawatan Rabin ke Jakarta

Rabin bilang pertemuannya dengan Soeharto terlaksana karena tercapainya Perjanjian Oslo.

20 Februari 2017 23:28

Israel sadar betul Singapura adalah pijakan mereka buat memasuki negara-negara berpenduduk mayoritas muslim di Asia Tenggara. Apalagi negara kota ini berbatasan langsung dengan Malaysia dan hanya dipisahkan oleh Selat Malaka dengan Indonesia.

Singapura amat berhati-hati dalam membina hubungan dengan neegara Zionis itu. Meski sudah menjalin kerja sama sejak berdiri 42 tahun lalu, Singapura baru kali ini mengundang kepala pemerintahan Israel.

Dan mulai hari ini hingga besok, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakoni kunjungan kenegaraan di Singapura. "Singapura dan Israel adalah teman lama," kata Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dalam jumpa pers bareng Netanyahu hari ini di Singapura.

Lee menjelaskan Israel membantu pembentukan angkatan bersenjata Singapura saat negara ini baru berdiri pada 1965. Kerja sama terus berlanjut dan bahkan Israel menjadi investor asal Timur Tengah terbesar di Singapura. Dia mengakui banyak perusahaan Israel mendirikan cabang di Singapura untuk memasuki pasar di negara-negara Asia Tenggara.

Netanyahu bilang sangat terkejut melihat kemajuan dicapai Singapura dan dia ingin belajar mengenai perumahan dari negara kota ini. Dia menambahkan meski mungil, Israel dan Singapura sama-sama kekuatan berpengaruh di tingkat global.

Dalam kesempatan itu, Lee berharap solusi dua negara bisa menciptakan perdamaian abadi bagi Israel dan Palestina. "Konflik ini bersifat emosional bagi kaum muslim," ujar Lee. Karena itu, dia mengatakan, konflik Palestina-Israel berpengaruh langsung bagi Singapura - memiliki komunitas muslim - dan Indonesia serta Malaysia, dua negara mayoritas muslim terbesar di Asia Tenggara.

Lee menekankan Netanyahu adalah perdana menteri pertama melawat ke Singapura, meski mendiang Perdana Menteri Yitzhak Rabin sempat menginap di sana setelah mengunjungi Jakarta pada 1993.

Kunjungan Rabin menggegerkan itu terjadi pada Jumat, 15 Oktober 1993. Dia melakukan pertemuan dengan Presiden Soeharto di kunjungan berlangsung dalam hitungan beberapa jam saja tersebut. "Pertemuan kami menurut pandangan saya sangat penting," kata Rabin kepada Israel Radio saat diwawancarai dalam perjalanan ke Singapura, sebelum kembali ke Israel dua hari berikutnya.

Rabin, tiba di Indonesia secara rahasia setelah lawatan resmi ke Cina, bilang pertemuannya dengan Soeharto bisa terwujud setelah dirinya dan pemimpin PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) Yasir Arafat meneken Perjanjian Oslo sebulan sebelumnya.

Meski memimpin Gerakan Non-Blok, Soeharto lebih berpihak kepada Palestina dalam konflik dengan Israel.

"Keputusan diambil Soeharto untuk menerima kunjungan Rabin karena Gerakan Non-Blok mendorong terlaksananya perjanjian damai Israel-Palestina," ujar Menteri Sekretaris Negara Moerdiono.

Rabin meminta Soeharto, lebih dulu menerima lawatan Yasir Arafat, untuk mengajak Gerakan Non-Blok menyokong perjanjian damai itu. "Tujuan uatama saya adalah Gerakan Non-Blok akan mendukung proses dan perjanjian telah dicapai," tutur Rabin. "Ini akan menggaet sokongan lebih luas di antara negara-negara menolak perjanjian damai itu."

Rabin menilai pertemuan dengan Soeharto di istana kepresidenan di Jakarta berlangsung bersahabat. Namun dia tidak berharap hubungan diplomatik dengan Indonesia bisa terwujud dalam waktu cepat.

Oded Ben-Ami, juru bicara Rabin, menolak memberitahu kapan pertemuan Rabin dan Sorharto itu dirancang. Moerdiono mengungkapkan hal itu muncul atas permintaan Rabin dan Soeharto menyetujui setelah mempertimbangkan secara mendalam.

Israel Radio melaporkan seorang pejabat senior Indonesia membahas rencana pertemuan kedua pemimpin itu dengan seorang diplomat Israel di Singapura.

Meski belum berhasil ke Jakarta, Netanyahu mengikuti pendahulunya, Rabin, yakni menjejakkan kaki di Singapura. 

Sultan Oman Qabus bin Said melakukan pembicaraan bilateral dengan tamunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Ibu Kota Muskat, Oman, 26 Oktober 2018. (Courtesy)

Netanyahu bilang stabilitas Arab Saudi sangat penting

Dia menyebut persoalan nuklir Iran lebih penting ketimbang pembunuhan Khashoggi.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.

Sultan Oman Qabus bin Said melakukan pembicaraan bilateral dengan tamunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Ibu Kota Muskat, Oman, 26 Oktober 2018. (Courtesy)

Netanyahu melawat ke Oman

Kunjungan itu atas undangan penguasa Oman, Sultan Qabus bin Said.

Delegasi muslim asal Indonesia, termasuk dua pejabat MUI - Profesor Istibsyaroh dan Kiai Mayshudi Suhud - saat diterima di kediaman Presiden Israel Reuven Rivlin pada 18 Januari 2017. (Albalad.co/Istimewa)

Netanyahu: Kami ingin bina hubungan diplomatik dengan Indonesia

Sudah tiga kali terjadi pertemuan antara perdana menteri Israel dengan pemimpin Indonesia, yaitu Yitzhak Rabin dan Soeharto (1993), Abdurrahman Wahid dan Ehud Barak (2001), serta Jusuf Kalla dan Netanyahu (2018).





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.

31 Oktober 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018
Bungkam ulama guncang Al-Haram
26 September 2018

TERSOHOR