kisah

Sinagoge di pojokan Manama

Komunitas Yahudi sudah ada di Bahrain sejak akhir 1880-an. Sebagian besar adalah imigran asal Irak.

27 Februari 2017 17:39

Kawasan Bab al-Bahrain di Ibu Kota Manama - gerbang di sana adalah pusat dari negara mungil Bahrain - memiliki keunikan dalam hal agama. Tidak seperti negara Arab Teluk lainnya berpenduduk mayoritas muslim.

Manama adalah satu-satunya kota di Timur Tengah dihuni masjid Sunni dan Syiah. Bahrain, negara berpenduduk mayoritas Syiah tapi rajanya Sunni, juga berdiri sejumlah gereja dari beragam sekte Nasrani dan sebuah kuil Hindu. Tempat-tempat beribadah ini jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Dan di sebuah pojokan di Manama, di belakang Hotel Sahara, berdiri sebuah sinagoge. Jaraknya cuma melangkah beberapa menit saja dari Masjid Maatam Madan milik kaum Syiah dan kuil Hindu Sri Krishna.

Komunitas Yahudi di Bahrain berasal dari imigran Irak tiba di sana pada 1880-an. Orang-orang Yahudi di Bahrain maju di sektor ekonomi dan politik. Mereka tadinya berjumlah sekitar 2.500, lalu turun menjadi ratusan saja, dan kini tersisa sedikit keluarga Yahudi tersohor.

Salah satunya adalah Nancy Khedouri, politikus sekaligus pengusaha. Dia telah meluncurkan bukunya soal sejarah komunitas Yahudi di Bahrain berjudul From Our Beginning to Present Day.

Dalam wawancara khusus dengan Al-Arabiya, Nancy bilang orang Yahudi tinggal di Bahrain saat ini berjumlah 36 orang saja. "Komunitas Yahudi di Bahrain mulanya adalah imigran dari Irak pada 1880-an, ketika Syekh Isa bin Ali al-Khalifah berkuasa," katanya. "Mereka berupaya mencari kehidupan lebih baik di Bahrain."

Meski catatan sejarah menyebutkan orang Yahudi tertua di Bahrain tinggal di negeri itu sejak 1873, menurut Nancy, komunitas Yahudi asal Basrah, Irak, baru muncul di Bahrain akhir 1880-an.

Keluarga Nancy generasi ketiga tiba di Bahrain. Ada pula yang generasi keempat dan kelima.

Dia menjelaskan meski Bahrain dihuni banyak pemeluk agama tapi mereka rukun. Warga beragam keyakinan ini sama-sama berjasa membangun Bahrain.

Nancy mencontohkan komunitas Yahudi sangat berjasa di sektor ekonomi dengan bekerja di bank atau penukaran uang. Orang-orang Yahudi juga banyak menjadi guru di sekolah negeri dan swasta. Di bidang kesehatan ada perawat Yahudi dikenal dengan sebutan Ummu Jan dan lebih terkenal dengan sapaan Ibu Semua Orang.

Di Bahrain ada dua politikus perempuan Yahudi ternama. Nancy, kini anggota Majelis Syura, dan sepupunya, Huda Nunu, diangkat menjadi duta besar.

"Ada penghormatan sangat besar antara saya dan kolega meski memiliki perbedaan agama. Kami bekerja sama seperti sebuah keluarga," ujar Nancy. "Saya senang melayani negara saya dan rakyat Bahrain."

Sinagoge di Manama adalah satu-satunya di Bahrain. Dibangun pada 1930-an dan dibiayai oleh orang Yahudi asal Prancis, berprofesi sebagai saudagar permata. Namun, kata Nancy, sinagoge itu tidak lagi dipakai untuk beribadah karena sulit untuk mengumpulkan miniman sepuluh jemaat buat bersembahyang tiga kali sehari.

Sebagai orang Yahudi, Nancy sangat bersyukur penguasa Bahrain menjamin kebebasan semua pemeluk agama dalam menjalankan ibadahnya. Pasal 18 dan 22 dalam konstitusi bahrain mengizinkan semua warga negara menjalankan kebebasan beribadahnya. Mereka juga dibolehkan memakai simbol-simbol agama secara terbuka.

"Keterbukaan pandangan bangsa Bahrain adalah anugerah mengagumkan bagi banyak masyarakat di seluruh dunia," tutur Nancy. "Saya merasa sangat bangga karena negara saya menjadi contoh bagus soal hidup berdampingan secara damai."

Keterbukaan akan perbedaan itulah membikin sinagoge masih berdiri di pojokan Manama.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

Foto raksasa mendiang Imam Khomeini tergantung di tembok sebuah bangunan dekat rumahnya di kawasan elite Jamaran di utara Ibu Kota Teheran, Iran, 31 Mei 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.

Rahaf Muhamnad al-Qunun, 18 tahun, gadis asal Arab Saudi kabur dari keluarganya dan ingin meminta suaka ke Australia. (Twitter)

Harap Rahaf

"Hidup di Arab Saudi seperti tinggal dalam penjara. Saya tidak bisa membikin keputusan sendiri," ujar Rahaf. "Bahkan soal rambut pun saya tidak boleh memutuskan sendiri."

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

15 Februari 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR