kisah

Kolektor mobil kuno dari Aleppo

"Saya mencintai mobil-mobil kuno saya karena mereka seperti perempuan, cantik dan kuat," kata Abu Umar seraya tersenyum.

13 Maret 2017 16:49

Muhammad Muhidin Anis menatap sedih ke arah Buick Super keluaran 1955, salah satu dari koleksi mobil kunonya rusak akibat pertempuran hebat antara pasukan pemerintah dan kaum pemberontak selesai akhir tahun lalu.

Rumah lelaki 70 tahun ini terletak di Distrik Asy-Syaar, timur Aleppo, dikepung dan digempur pasukan Suriah berbulan-bulan.

"Lihatlah, ia (Buick Super) menangis. Ia luka dan meminta bantuan saya," kata pria akrab dipanggi Abu Umar ini. Dia berjanji akan memperbaiki 20 dari 30 koleksi mobil antik miliknya masih tersisa.

Perang di Aleppo sudah berakhir pada Desember 2016, ketika pasukan pemerintah menguasai kembali wilayah timur Aleppo. Seluruh kawasan di timur Kota Aleppo telah luluh lantak akibat perang. Pecahan kaca, debu, dan reruntuhan bangunan berserakan di jalan-jalan.

Abu Umar, lelaki beristri dua dan beranak delapan, mulai jatuh cinta dengan mobil-mobil antk buatan Amerika Serikat ketika kuliah kedokteran di Kota Zaragoza, Spanyol, pada 1970-an. Dia kemudian pindah ke Kota Turin, Italia, untuk menjadi penerjemah buku panduan manual mobil-mobil produksi Fiat, dari bahasa Italia ke bahasa Arab.

Ketika kembali ke Aleppo, ibu kota bisnis Suriah sebelum pecah perang, Abu Umar memulai berbisnis dengan membuka pabrik kosmetik diberi nama Mila Robinson. Namun hobinya mengoleksi mobil kuno tidak luntur karena warisan dari ayahnya, pengusaha tekstil tajir suka mengendarai Pontiac bikinan 1950, juga menjadi koleksi Abu Umar saat ini.

Sebanyak 30 mobil antik miliknya sudah berkurang dan sekarang tinggal 20, karena ada yang hancur atau dicuri selama perang. Sebanyak 13 mobil kuno itu diparkir di depan rumah barunya dan di taman, sedangkan tujuh lainnya disita polisi karena menghalangi jalan.

"Saya mencintai mobil-mobil kuno saya karena mereka seperti perempuan, cantik dan kuat," kata Abu Umar seraya tersenyum.

Abu Umar mempunyai dua istri, satu tinggal di Aleppo dan yang lain menetap di Hama. Anaknya ada delapan.

Dia lebih menyukai mobil-mobil Amerika keluaran 1950-an. Dia memiliki koleksi Buick, Cadillac, Chevrolet, Hudson, dan Mercury. Meski begitu dia juga mengoleksi masing-masing satu Volkswasgen buatan Jerman dan Citroen bikinan Prancis.

"Saya mempunyai tiga Cadillac karena mereka adalah mobil paling mewah. Tiap kolektor mesti mempunyai sebuah Cadillac," ujar Abu Umar dengan nada serius. "Kalau seorang kolektor tidak memiliki Cadillac, koleksinya seperti tanpa kepala."

Koleksi kebanggaannya adalah Cadillac convertible berwarna merah ceri buatan 1947. Mobil ini sudah pernah dipakai buat mengangkut enam presiden, sebagian terpilih secara demokratis, yang lain berkuasa melalui kudeta.

Presiden Mesir Jamal Abdul Nasir dan Presiden Suriah Syukri al-Quwatli naik Cadillac merah ceri kepunyaan Abu Umar untuk berkeliling Ibu Kota Damaskus, saat merayakan berdirinya negara Republik Arab Bersatu pada 1958.

"Saya membeli Cadillac itu 12 tahun lalu dalam lelang dengan harga hanya 620 pound Suriah," tutur Abu Umar. "Tapi kemudian saya harus membayar pajaknya seratus kali lebih mahal dari harga saya beli karena mobil ini masuk tanpa melalui bea cukai."

Agar tidak dicuri, Abu Umar mencopot setir dan semua kursi Cadillac merah ceri tersebut, serta dibiarkan tetap beraada dalam garasi.

Ketika perang berkecamuk di timur Aleppo, Abu Umar pergi mengungsi selama dua bulan. Ketika kembali ke rumah dua lantai miliknya dibangun pada 1930-an, semua koleksi mobil antiknya rusak.

Sebanyak 20 yang tersisa akan dia perbaiki untuk menjadi harta warisan. "Saya akan membagikan kepada anak-anak saya sesuai hukum Islam, dua untuk masing-masing anak lelaki dan satu buat tiap anak perempuan."    

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

Foto raksasa mendiang Imam Khomeini tergantung di tembok sebuah bangunan dekat rumahnya di kawasan elite Jamaran di utara Ibu Kota Teheran, Iran, 31 Mei 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.

Rahaf Muhamnad al-Qunun, 18 tahun, gadis asal Arab Saudi kabur dari keluarganya dan ingin meminta suaka ke Australia. (Twitter)

Harap Rahaf

"Hidup di Arab Saudi seperti tinggal dalam penjara. Saya tidak bisa membikin keputusan sendiri," ujar Rahaf. "Bahkan soal rambut pun saya tidak boleh memutuskan sendiri."

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

15 Februari 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR