kisah

Pemberontakan kaum hawa di negara Kabah

"Saya seorang tahanan dan kejahatan saya adalah karena saya seorang perempuan Saudi."

24 April 2017 17:02

Akhirnya banyak perempuan Arab Saudi berbicara lantang menenytang kontrol kaum lelaki atas kehidupan mereka.

Dua pekan lalu, Dina Ali laslun, perempuan Saudi berumur 24 tahun, berusaha kabur dari rumahnya ke Australia. Beberapa kerabatnya lantas terbang ke Ibu Kota Manila, Filipina, untuk mencegat Dina tengah transit di sana. Mereka memaksa Dina pulang.

Namun sebelum berhasil diringkus keluarganya, Dina mengunggah sebuah rekaman video dari telepon seluler. Dia bilang keluarganya akan membunuh dirinya dan dia memohon pertolongan. Video bikinan Dina segera tersiar luas di Arab Saudi.

Perempuan lainnya, Alaa Anazi, mahasiswi kedokteran, ditahan di bandar udara di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, setelah dia menanyakan kapan pesawat ditumpangi Dina mendarat. Para pengunjuk rasa memberitahu lewat Twitter dan berkumpul mendukung Dina.  

Pekan lalu, aktivis kaum hawa Maryam al-Utibi ditangkap setelah lari dari rumahnya untuk hidup mandiri di Riyadh. Rekan-rekannya sesama pegiat lantar menyebarluaskan kasusnya itu di media sosial.

Tiga kasus tersebut adalah bagian dari kampanye dilakoni kaum hawa di Saudi, menyebarluaskan video-video nekat dengan telepon seluler mereka, memakai Facebook buat mengumpulkan massa untuk berunjuk rasa di jalan, dan mengunggah pesan lewat Twitter untuk menolak dominasi kaum adam atas kehidupan mereka.

Kampanye menolak pengekangan perempuan Saudi ini disokong gadis-gadis muda nan cerdas, jauh lebih hebat ketimbang kampanye menolak larangan kaum hawa mengemudi mobil.

Mereka bilang buat apa berhak menyetir kalau untuk keluar rumah saja perlu izin seorang lelaki?

Bahkan di kalangan kaum aktivis sendiri kaget dukungan begitu luar biasa atas kampanye menolak pengekangan perempuan di negara Kabah itu. "Saya sangat terkesan, beberapa tahun lalu saya kira hanya saya saja menempuh cara ini," ujar Maudi al-Johani, 26 tahun. Dia dikunci dalam rumahnya sepulang dari pelesiran ke Florida, Amerika Serikat, bareng teman-teman kampusnya.

Maudi menceritakan ayahnya marah karena dia hidup sendirian di Riyadh dan mengurung dirinya berbulan-bulan di rumah. Dia tahun lalu kemudian kabur ke Amerika meminta suaka. Dia termasuk kaum perempuan Saudi memulai kampanye daring bertema #StopEnslavingSaudiWomen. Maudi mengklaim tanda pagar ini telah populer selama lebih dari 230 hari.

Aktivis kaum hawa Saudi kerap bertindak provokatif di dunia maya. Mereka kerap mengunggah foto dan video menunjukkan perempuan-perempuan tanpa jilbab di tempat umum, tindakan berisiko ditangkap oleh polisi syariah rajin bekerliaran di tempat-tempat keramaian.

Dalam sebuah pesan Twitter, seorang wanita menunjukkan kertas bertulisan: "Saya seorang tahanan dan kejahatan saya adalah karena saya seorang perempuan Saudi."

Sebagian perempuan merekam kegiatan terlarang bagi kaum hawa di Saudi, yakni menyetir mobil, bersepeda, dan bercelana pantalon.

Dalam kasus Dina berupaya kabur ke Australia tanpa izin ayahnya, pemerintah Saudi meminta para pejabat Filipina menahan dia saat paman-pamannya terbang menyusul ke Manila. Sebelum mereka tiba, Dina meminjam telepon seluler seorang perempuan Kanada dia temui di bandar udara, lalu merekam video dirinya minta tolong.

Kalau keluarga saya datang, mereka bakal membunuh saya," tutur Dina. Jika saya kembali ke Arab Saudi, saya akan mati."

Menurut Human Rights Watch, seorang pejabat keamanan di Manila menyaksikan Dina dibawa keluarganya dengan mulut disumpal, kedua kaki dan tangannya diikat. Paman-pamannya membawa pulang Dina dengan menumpang pesawat Saudi Arabian Airlines.

Rekaman video Dina minta tolong segera tersiar luas di Timur Tengah, dengan tanda pagar #SaveDinaAli.

Kedutaan Besar Arab Saudi di Manila melansir keterangan tertulis, menyebut pemulangan Dina merupakan kasus keluarga. Pihak berwenang Filipina sejatinya menolak pemulangan Dina karena dirinya menentang.

Dalam Visi Arab Saudi 2030, Wakil Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman menyerukan sebuah masyarakat lebih terbuka. Dia menjelaskan kaum hawa telah menjadi bagian penting dari masyarakat Saudi dan mesti dibolehkan berperan lebih besar lagi.

Pangeran Muhammad kemudian mengurangi kewenangan polisi syariah, termasuk tidak boleh menangkap perempuan dianggap melanggar syariat Islam. Kebijakan inilah membikin kaum hawa di Saudi berani bersuara lantang menentang pengekangan kaum adam atas kehidupan mereka.

"Kita tengah melihat sebuah fenomena berbeda saat ini di mana makin banyak gadis-gadis muda berani bersuara lantang soal nasib mereka dan menyebarluaskan sikap itu," kata Hatun al-Fassi, sejarawan Saudi sekaligus aktivis perempuan.

Sejak lari ke Amerika tahun lalu, kisah Maudi menggaet perhatian banyak gadis Saudi ingin bebas dari pengekangan kerabat lelaki mereka. "Saya kebanjiran puluhan pesan saban hari dari kaum hawa Saudi meminta pertolongan. "Tiap hari mereka bertanya bagaimana kamu bisa selamat, bagaimana kami bisa dapat bantuan?"

Tapi dia juga kebanjiran pesan kebencian dan ancaman pembunuhan dari lelaki dan perempuan Saudi.  

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

Foto raksasa mendiang Imam Khomeini tergantung di tembok sebuah bangunan dekat rumahnya di kawasan elite Jamaran di utara Ibu Kota Teheran, Iran, 31 Mei 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.

Rahaf Muhamnad al-Qunun, 18 tahun, gadis asal Arab Saudi kabur dari keluarganya dan ingin meminta suaka ke Australia. (Twitter)

Harap Rahaf

"Hidup di Arab Saudi seperti tinggal dalam penjara. Saya tidak bisa membikin keputusan sendiri," ujar Rahaf. "Bahkan soal rambut pun saya tidak boleh memutuskan sendiri."

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

15 Februari 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR