kisah

Para pencari aman di negeri orang

Suriah tetap menjadi negara dengan pemasok pengungsi terbesar di seluruh dunia, yakni 5,5 juta orang.

21 Juni 2017 08:28

Muhammad, 10 tahun, dan adiknya, Humam (6 tahun), kemarin asyik bermain di sebuah gereja di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Keduanya berlarian ke sana ke mari.

Muhammad dan Humam adalah anak keluarga pengungsi asal Ibu Kota Baghdad, Irak. Datang bersama ibu mereka, Iman (32 tahun), ke gereja itu untuk menghadiri acara peringatan Hari Pengungsi Dunia digelar saban 20 Juni.

Iman mengaku sudah setahun berada di Indonesia. Dia bersama suami dan tiga anak - yang bungsu bernama Adam (2 tahun) - kini mengontrak sebuah rumah di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. "Kami lari dari Irak karena di negara kami sudah tidak aman. Ada ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) serta serangan bom hampir saban hari," kata Iman menjawab pertanyaan dari Albalad.co.  

Seperti para pengungsi asing lainnya di Indonesia, Iman sekeluarga Mereka tidak berhak atas layanan kesehatan, pendidikan, perumahan, dan pekerjaan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, selain mengandalkan uang saku dari UNHCR (Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi), Iman sekeluarga mengandalkan kiriman fulus dari keluarga di Irak.

Iman bilang dia ingin ditempatkan di negara mana saja asal masa depan ketiga anaknya, termasuk soal pendidikan terjamin.         

Kesedihan tidak terlihat di wajah sekitar 200 pengungsi - kebanyakan asal Afghanistan dan sisanya dari Iran, Irak, dan Somalia - berkumpul dalam peringatan Hari Pengungsi Dunia tersebut. Perwakilan dari para pengungsi itu tampil bergantian di atas panggung. Dua pengungsi berkulit gelap menyanyikan rap dan pengungsi Afghanistan dari suku Hazara menyanyikan lagu tradisional mereka.

Cerita mereka sama: lari dari negara asal dibelit konflik untuk mencari negara aman. Afghanistan menjadi medan pertempuran milisi Taliban, Irak dihantui pengeboman dan perang terhadap ISIS, serta Somalia menjadi palagan kelompk Asy-Syabab.

Secara global, pengungsian paksa akibat perang, kekekerasan, dan persekusi tahun lalu mencapai tingkat tertinggi sejak Perang Dunia Kedua, menurut laporan diluncurkan UNHCR kemarin. Hingga akhir 2016, 65,6 juta orang di seluruh dunia terpaksa berpindah, meningkat 300 ribu dari tahun sebelumnya.

Pengungsi di Indonesia 2
Zuhal, pengungsi asal Provinsi Ghazni, Afghanistan, tiba di Indonesia setengah tahun lalu. Gadis 22 tahun ini mengaku sebagai orang Hazara berpaham Syiah, mereka menjadi target pembunuhan dari kelompok Taliban, meyakini Syiah sebagai ajaran sesat dan menghalalkan darah para penganutnya.

Menurut Zuhal, Provinsi Ghazni adalah salah satu wilayah paling banyak dikuasai Taliban. Dia lari dari Afghanistan bersama keluarga besarnya.

"Karena situasi di Afghanistan tidak aman, terutama di Provinsi Ghazni kondisinya sangat buruk," ujar Zuhal. "Kami (kaum perempuan) tidak dibolehkan pergi ke sekolah, pergi ke universitas. Kami selalu tinggal di rumah."

Zuhal dan keluarga besarnya menyewa sebuah rumah di Kopo, Bandung, Jawa Barat. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka, dia dan kakak perempuannya mengajar di sebuah sekolah dikelola oleh lembaga nirlaba urusan pengungsi.

Muhammad bersama istri dan satu putranya pergi meninggalkan Iran karena ketakutan setelah dia berpindah agama dari Islam menjadi Kristen. Di Iran, orang keluar dari agama Islam merupakan sebuah tindakan pidana. "Saya meninggalkan negara saya pada 2010. Saya diburu karena masalah agama, sebab saya berpindah menjadi penganut Kristen," tuturnya.

Ketua SUAKA Febi Yonesta menjelaskan para pengungsi asing berada di Indonesia bukan karena tertarik ingin ke Indonesia. Mereka hanya mempunyai kesempatan untuk mencari tempat perlindungan sementara di Indonesia sebelum ke negara ketiga menjadi tujuan.  

Febi menambahkan SUAKA berfungsi sebagai lembaga advokasi dan hukum bagi para pengungsi. Dia mengatakan peringatan Hari Pengungsi Dunia merupakan salah satu bagian dari kampanye SUAKA soal eksistensi pengungsi di Indonesia.

Febi mengatakan saat ini terdapat 14.337 orang terdaftar di UNHCR. Terdiri dari 8.636 pengungsi dan 5.701 pencari suaka. Pengungsi terbesar berasal dari Afghanistan (52 persen), disusul Somalia (11 persen), serta Irak dan Myanmar (6 persen).

Febi mengakui masih banyak pekerjaan rumah mesti diselesaikan pemerintah dalam menangani para pengungsi asing. Dia menyebutkan para pengungsi asing di Indonesia itu tidak memiliki hak atas kesehatan, pendidikan, perumahan yang layak, dan hak atas pekerjaan. Para pengungsi teersebut dilarang untuk bekerja baik formal atau informal.

Febi mengatakan para pengungsi di Indonesia mendapat dukungan dari IOM (Organisasi Migrasi Internasional) dan UMHCR. Dari IOM, mereka mendapat akomodasi dan logistik. Ketika sudah berstatus pengungsi, mereka akan menerima uang saku dari UNHCR. Besarnya sekitar Rp 1,2 juta per kepala tiap bulan dan Rp 500 ribu bagi anak-anak.

Mitra Salima Suryono, Associate External Relations UNHCR, menjelaskan makin lama jumlah pengungsi di Indonesia diterima di negara ketiga makin menurun karena jumlah pengungsi secara global meningkat.

Dia mengatakan dari 65,6 juta pengungsi tersebut merupakan akumulasi dari tiga komponen penting. Pertama, jumlah pengungsi dunia mencapai 22,5 juta merupakan angka tertinggi pernah tercatat. Di antaranya 17,2 juta dalam naungan UNHCR dan selebihnya merupakan pengungsi teregistrasi dalam organisasi serupa di bawah PBB yaitu UNRWA.

Suriah tetap menjadi negara dengan pemasok pengungsi terbesar di seluruh dunia, yakni 5,5 juta orang.

Kedua, pengungsi dalam negaranya sendiri sebanyak 40,3 juta hingga akhir tahun lalu. Suriah, Irak, dan Kolombia memiliki angka pengungsi internal terbesar di dunia. Ketiga, pencari suaka, yaitu orang-orang meninggalkan negara asalnya dan mencari perlindungan internasional sebagai pengungsi. Hingga akhir 2016 jumlah pencari suaka secara global mencapai 2.8 juta jiwa.

Sebanyak 14 ribuan pengungsi asing di Indonesia itu memang belum sampai ke negara idaman, tapi setidaknya mereka sudah merasa aman.

Ben Tzion, lelaki Yahudi asal Israel, berpose di dalam Masjid Nabawi di Kota Madinah, Arab Saudi. (Times of Israel/Courtesy)

Lirik Kabah gamit Bintang Daud

Pada 1990-an, Mufti Agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz berfatwa raja Saudi boleh berbaikan dengan negara musuh, termasuk Israel, kalau sejalan dengan kepentingan negara.

Pangeran Al-Walid bin Talal dan mantan istrinya, Puteri Amira binti Aidan bin Nayif. (Dhaka Tribune/Collected)

Satu bani senegara

Pesta seks, narkotik, dan minuman beralkohol adalah hal lazim dilakukan para pangeran Arab Saudi.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Perang sedarah Bani Saud

Penangkapan terhadap kaum elite di Arab Saudi, termasuk para pangeran, dinilai sebagai siasat Putera Mahkota Muhammad bin Salman buat menyingkirkan lawan-lawan politiknya.

Kios fatwa dibangun Al-Azhar di sebuah stasiun kereta bawah tanah di Ibu Kota Kairo, Mesir. (Press TV)

Kedai fatwa di stasiun kereta

Al-Azhar juga menugaskan para ulamanya berceramah di kedai-kedai kopi dan teh di seluruh Mesir.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lirik Kabah gamit Bintang Daud

Pada 1990-an, Mufti Agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz berfatwa raja Saudi boleh berbaikan dengan negara musuh, termasuk Israel, kalau sejalan dengan kepentingan negara.

01 Desember 2017
Satu bani senegara
15 November 2017
Perang sedarah Bani Saud
10 November 2017
Minyak Saudi darah Rohingya
22 September 2017

TERSOHOR