kisah

Mati perlahan di Yaman

Sebanyak 10,3 juta orang di antaranya amat sangat membutuhkan bantuan pangan. Sekitar 3,3 juta anak serta ibu hamil dan menyusui mengalami malnutrisi akut.

13 September 2017 14:16

Setelah 2,5 tahun perang meletup, hanya sedikit bisa berfungsi di Yaman.

Pengeboman berulang-ulang telah meluluhlantakkan jembatan, rumah sakit, dan pabrik-pabrik. Banyak dokter dan pegawai negeri sudah tidak digaji lebih dari setahun. Kekurangan gizi dan sanitasi buruk mengakibatkan negara Arab termiskin itu rentan terhadap wabah penyakit.

Hanya dalam tiga, bulan, kolera telah membunuh lebih dari dua ribu orang dan menjangkiti lebih dari setengah juta lainnya, salah satu yang terburuk di dunia dalam setengah abad terakhir.

Pada 2011, wabah kolera menyerang 340 ribu orang di Haiti dan 323 ribu orang di Peru pada 1991.

"Ia (kolera) adalah sebuah kematian datang perlahan," kata Yakub al-Jayafi, tentara Yaman sudah tidak menerima gaji sejak Januari tahun ini dan putrinya berumur enam tahun, Syaima, tengah dirawat lantaran kekurangan gizi di sebuah klinik di Ibu Kota Sanaa.

Sejak simpanan keluarga habis, Jayafi sekeluarga hidup mengandalkan sumbangan susu dan yoghurt dari tetangga. Tapi itu tidak mencukupi untuk menjaga kesehatan Syaima. Kulitnya layu dan tubuhnya ceking.

"Kami hanya sedang menunggu ajal atau keajaiban dari langit," kata Jayafi.

Yaman sudah lama dikenal sebagai negara Arab paling miskin dan dibelit konflik bersenjata. Perang terbaru dimulai tiga tahun lalu, ketika milisi Al-Hutiyun dari wilayah utara bergabung dengan sebagian militer pemerintah menyerbu Sanaa, memaksa pemerintahan diakui dunia internasional mengasingkan diri.

Pada Maret 2015, Arab Saudi dan pasukan koalisi Arab mulai melancarkan kampanye militer buat mendesak Al-Hutiyun dan mengembalikan pemerintahan sah. Gempuran dilakukan Saudi sekawan sejauh ini gagal. Yaman terbelah: Al-Hutiyun menguasai wilayah barat dan pasukan pemerintah dibantu koalisi Arab mengontrol bagian selatan dan timur negara itu.

Serangan-serangan udara dilancarkan pasukan koalisi Arab telah membunuh dan melukai banyak warga sipil, serta menghancurkan infrastruktur di Yaman: jembatan, rumah sakit, sistem sanitasi, dan pabrik-pabrik. Beragam layanan amat dibutuhkan rakyat Yaman lenyap dan perekonomian negara sudah lemah kian ambruk.

Gempuran pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi telah membikin bandar udara internasional di Sanaa tutup lebih dari setahun. Alhasil, para saudagar tidak bisa membawa masuk barang, warga Yaman sakit dan cedera tidak dapat keluar negeri untuk mendapat perawatan. Banyak dari mereka akhirnya meninggal.

Dua rezim bersaing - Al-Hutiyun dan Presiden Abdu Rabbu Mansyur Hadi - sama-sama tidak menggaji banyak pegawai negeri lebih dari setahun, sehingga keluarga mereka menjadi miskin dan cuma sedikit tersedia lapangan kerja. Di antara yang digaji adalah dokter, perawat, dan teknisi sistem pembuangan limbah, profesi berkaitan dengan upaya menangani krisis kemanusiaan di Yaman.

Kheancuran akibat perang membikin Yaman subur bagi wabah kolera. Sampah menggunung dan sistem pembuangan limbah macet memaksa banyak warga Yaman mengandalkan air sumur sudah tercemar untuk kebutuhan air minum. Hujan lebat sejak April lalu membuat kolera menggila di sana.

Di negara-negara maju, kolera mudah diobati, namun di Yaman lantaran banyak orang mengalami malnutrisi, terutama anak-anak, membuat mereka makin tidak berdaya. "Karena banyak anak menderita kekurangan gizi, jika mereka terkena diare saja sulit bagi mereka untuk pulih," ujar Meritxell Relano, perwakilan United Nations Children's Fund (UNICEF) di Yaman.

Di luar sebuah klinik kolera di Sanaa, Muhammad Nasir sedang menanti kabar putranya baru berusia enam bulan, tengah dirawat. Buruh tani miskin ini meminjam fulus untuk membawa anak lelakinya tersebut ke rumah sakit, tapi itu pun tidak cukup buat sampai melunasi biaya perawatan. "Situasi saya hadapi benar-benar buruk," tuturnya.

Lima tenda telah didirikan di halaman belakang klinik itu untuk melayani jika ada lonjakan pasien kolera. Sepanjang hari, banyak yang datang membawa kerabat sakit, kebanyakan orang tua renta dan anak-anak.  

Bila wabah kolera terus berlanjut, para peneliti mencemaskan jumlah penderitanya di Yaman bisa mengalahkan rekor 750 ribu orang terjangkit kolera di Haiti pada 2010, setelah gempa dahsyat di sana.

"Kita sudah memasuki tahun ketiga perang namun situasinya bukan makin membaik," kata Meritxell. "Ada batas-batas terhadap apa yang bisa kami lakukan di sebuah negara gagal (seperti Yaman)."

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyimpulkan situasi di Yaman merupakan krisis kemanusiaan terparah sejagat. Sejak perang meningkat Maret dua tahun lalu, lebih dari 7.600 orang terbunuh - kebanyakan penduduk sipil, dan hampir 42 ribu lainnya luka.

OCHA (Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan) memperkirakan 18,8 juta dari 27 juta penduduk Yaman kelaparan. Sebanyak 10,3 juta orang di antaranya amat sangat membutuhkan bantuan pangan. Sekitar 3,3 juta anak serta ibu hamil dan menyusui mengalami malnutrisi akut.

Sebelum 2015 pun, hampir setengah dari total rakyat Yaman hidup di bawah garis kemiskinan, dua pertiga anak-anak muda menganggur, dan beragam layanan sosial nyaris hilang. Hampir 16 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Saleh al-Khaulani, mengungsi bareng istri dan enam anaknya dari wilayah utara ke Sanaa, termasuk yang sangat membutuhkan bantuan. "Kebanyakan kami hanya bisa makan siang kadang juga tidak," ujarnya. "Kalau kami dapat makan siang, kami tidak punya buat makan malam."

PBB bilang Yaman tahun ini memerlukan bantuan kemanusiaan senilai US$ 23 miliar tapi baru 41 persen diterima. Sumbangan terbesar dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dua negara bertanggung jawab atas kehancuran di Yaman.

Putera Mahkota sekaligus Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman, penggagas perang, diam-diam mengaku kalah. Dia berencana keluar dari Perang Yaman sehabis menciptakan gelombang kematian datang perlahan-lahan.
 

Pangeran Al-Walid bin Talal dan mantan istrinya, Puteri Amira binti Aidan bin Nayif. (Dhaka Tribune/Collected)

Satu bani senegara

Pesta seks, narkotik, dan minuman beralkohol adalah hal lazim dilakukan para pangeran Arab Saudi.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Perang sedarah Bani Saud

Penangkapan terhadap kaum elite di Arab Saudi, termasuk para pangeran, dinilai sebagai siasat Putera Mahkota Muhammad bin Salman buat menyingkirkan lawan-lawan politiknya.

Kios fatwa dibangun Al-Azhar di sebuah stasiun kereta bawah tanah di Ibu Kota Kairo, Mesir. (Press TV)

Kedai fatwa di stasiun kereta

Al-Azhar juga menugaskan para ulamanya berceramah di kedai-kedai kopi dan teh di seluruh Mesir.

Euforia Rohingya alpa Yaman

Situasi dihadapi rakyat Yaman, kebanyakan orang Islam, tidak kalah mengerikan dibanding Rohingya akibat kebiadaban Arab Saudi.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Satu bani senegara

Pesta seks, narkotik, dan minuman beralkohol adalah hal lazim dilakukan para pangeran Arab Saudi.

15 November 2017
Perang sedarah Bani Saud
10 November 2017
Minyak Saudi darah Rohingya
22 September 2017

TERSOHOR