kisah

Minyak Saudi darah Rohingya

Saudi Aramco memasok 200 ribu barel minyak sehari ke Cina melalui jaringan pipa melewati Rakhine.

22 September 2017 17:50

Ketika etnis minoritas muslim Rohingya lari dari perburuan dan pembantaian di Myanmar beberapa dasawarsa lalu, puluhan ribu orang Rohingya mencari perlindungan di Arab Saudi.

Tapi kali ini, sejak konflik meletup lagi di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, para pemimpin dari enam negara Arab Teluk - Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman - memberikan sedikit kecaman dan bantuan kemanusiaan amat diperlukan.

Padahal sudah lebih dari 500 ribu pengungsi Rohingya menyeberang ke negara tetangga Bangladesh. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut pembantaian dilakukan tentara Myanmar dan milisi Buddha atas komunitas Rohingya sebagai pembantaian etnis.

Arab Saudi sudah menampung sekitar 250 ribu pengungsi Rohingya pada 1960-an, ketika Raja Faisal bin Abdul Aziz menjadi penguasa negara Kabah itu.

Tapi sekarang Raja Salman bin Abdul Aziz dikabarkan memenjarakan sekitar tiga ribu warga Rohingya dan akan mendeportasi mereka tanpa alasan jelas. Saudi pekan ini juga menjanjikan bantuan US$ 15 juta bagi pengungsi Rohingya.

Sebagai eksportir minyak terbesar sejagat, Arab Saudi bersaing dengan Rusia untuk menjadi pemasok utama buat Cina. Karena itulah Saudi membutuhkan Myanmar.

Baru-baru ini jaringan pipa dbuka melalui Myanmar, mengalirkan minyak dari negara-negara Arab dan Kaukasus ke Provinsi, Yunan, Cina. Pipa sepanjang 771 kilometer ini dimulai dari Teluk Bengali di Rakhine.

Pada 2011, anak usaha Saudi Aramco, perusahaan minyak dan gas milik pemerintah Arab Saudi, dan PetroChina, unit usaha China National Petroleum Company (CNPC), menandatangani perjanjian kerja sama buat memasok minyak mentah 200 ribu barel sehari ke Yunan, setengah dari kapasitas pipa melintasi Rakhine tersebut.

"Orang bisa berpendapat Arab Saudi irit berbicara mengenai isu Rohingya karena negara itu mengandalkan pemerintah Myanmar untuk melindungi jaringan pipa minyak itu," kata Bo Kong, peneliti senior di the Centre for Strategic and International Studies.

Jaringan pipa minyak melewati Rakhine ini mulai beroperasi April lalusetelah bertahun-tahun tertunda. Pipa ini memotong jalur pengiriman minyak tujuh hari karena tidak haru melintasi Selat Malaka.

Jaringan pipa gas dari ladang gas di Shwe, Myanmar, juga melewati Rakhine dan bersebelahan dengan pipa minyak.

Daniel Wagner, pendiri lembaga konsultan Cpuntry Risk Solution, bilang Arab Saudi terus melanjutkan agenda politik dan ekonominya di Myanmar. Negara Kabah ini masih bisa berkilah mereka sebelumnya sudah menampung para pengungsi Rohingya dan memberikan bantuan. "Poin pentingnya adalah aliran minyak dan gas melalui Rakhine," ujarnya.

Jason von Mediang, spesialis tanggap bencana di Universitas Newcastle, Australia, menjelaskan perbedaan agama bukan satu-satunya alasan etnis Rohingya diusir dari Myanmar. Dia menambahkan pemerintah Myanmar telah menyediakan lahan seluas tiga juta akre di Rakhine untuk pembangunan daerah kaya sumber mineral. Para petani dan kelompok-kelompok minoritas menentang skema tersebut karena pengambilalihan lahan mereka tidak dibarengi kompensasi memadai.

Dia mengakui ada banyak ketegangan etnis dan agama di Myanmar. "Persoalan ini menjadi alasan nyaman bagi sebagian pihak untuk melakukan kesepakatan poltiik dan bisnis kotor di balik konflik."

Ben Tzion, lelaki Yahudi asal Israel, berpose di dalam Masjid Nabawi di Kota Madinah, Arab Saudi. (Times of Israel/Courtesy)

Lirik Kabah gamit Bintang Daud

Pada 1990-an, Mufti Agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz berfatwa raja Saudi boleh berbaikan dengan negara musuh, termasuk Israel, kalau sejalan dengan kepentingan negara.

Pangeran Al-Walid bin Talal dan mantan istrinya, Puteri Amira binti Aidan bin Nayif. (Dhaka Tribune/Collected)

Satu bani senegara

Pesta seks, narkotik, dan minuman beralkohol adalah hal lazim dilakukan para pangeran Arab Saudi.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Perang sedarah Bani Saud

Penangkapan terhadap kaum elite di Arab Saudi, termasuk para pangeran, dinilai sebagai siasat Putera Mahkota Muhammad bin Salman buat menyingkirkan lawan-lawan politiknya.

Kios fatwa dibangun Al-Azhar di sebuah stasiun kereta bawah tanah di Ibu Kota Kairo, Mesir. (Press TV)

Kedai fatwa di stasiun kereta

Al-Azhar juga menugaskan para ulamanya berceramah di kedai-kedai kopi dan teh di seluruh Mesir.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lirik Kabah gamit Bintang Daud

Pada 1990-an, Mufti Agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz berfatwa raja Saudi boleh berbaikan dengan negara musuh, termasuk Israel, kalau sejalan dengan kepentingan negara.

01 Desember 2017
Satu bani senegara
15 November 2017
Perang sedarah Bani Saud
10 November 2017

TERSOHOR