kisah

Perang sedarah Bani Saud

Penangkapan terhadap kaum elite di Arab Saudi, termasuk para pangeran, dinilai sebagai siasat Putera Mahkota Muhammad bin Salman buat menyingkirkan lawan-lawan politiknya.

10 November 2017 15:43

Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, kerap menjadi tempat menginap kaum miliarder, kepala negara, dan anggota keluarga kerajaan Saudi. Namun sejak Sabtu malam pekan lalu, hotel bintang lima menempati lahan seluas 210.437 meter persegi ini telah berubah menjadi penjara supermewah.

Lusinan orang - termasuk 12 pangeran empat menteri, sepuluh mantan menteri, pejabat, dan pengusaha - ditangkap atas tudingan korupsi kini ditahan dalam Ritz Carlton.

Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman. Sebagian pihak menilai penangkapan besar-besaran atas tuduhan rasuah itu merupakan akal-akalan calon penguasa Arab Saudi tersebut untuk membungkam lawan-lawan politiknya.

Dari rekaman video dan foto diperoleh Albalad.co, kaum elite itu tidur di lantai beralaskan kasur dan berselimut. Mereka rebah di Ballroom B dengan penjagaan aparat keamanan bersenjatakan senapan serbu M4. Ruangan tersebut seluas 1.858 meter persegi dan mampu menampung dua ribu tamu undangan resepsi.

Sumber Albalad.co di Arab Saudi mengungkapkan sudah lusinan anggota keluarga kerajaan dibekuk.  

Apa yang tengah dilakoni anak kesayangan Raja Salman bin Abdul Aziz itu seperti tengah melancarkan perang saudara. Sebab yang ditangkap masih sepupu dan paman sendiri.

Pemilik Kingdom Holding Company Pangeran Al-Walid bin Talal adalah anak dari Pangeran Talal bin Abdul Aziz, kakak dari Raja Salman. Jadi Pangeran Al-Walid, berharta sekitar US$ 18 miliar menurut majalah Forbes tahun ini, merupakan abang sepupu dari Pangeran Muhammad bin Salman.

Kabar terbaru adalah anak perempuan Pangeran Al-Walid juga ditahan. "Pihak berwenang Arab Saudi telah menangkap Puteri Rim, anak perempuan dari konglomerat telah ditahan, Pangeran Al-Walid bin Talal," kata sumber Albalad.co kemarin.

Pangeran Muhammad bin Salman juga membekuk dua anak mendiang Raja Abdullah bin Abdul Aziz, yakni bekas Menteri Garda Nasional Pangeran Mutaib bin Abdullah dan mantan Gubernur Riyadh Pangeran Turki bin Abdullah.

Dia juga menahan Pangeran Muhammad bin Fahad, putra kedua mendiang Raja Fahad bin Abdul Aziz. Sedangkan cucu Raja Fahad, Pangeran Turki bin Muhammad bin Fahad dilaporkan kabur ke Iran buat mencari suaka.

Nasib putra bungsu Raja Fahad, Pangeran Abdul Aziz bin Fahad, lebih tragis lagi. Dia tewas dalam baku tembak saat akan dibekuk. Pangeran Abdul Aziz ini pernah ditahan atas perintah Pangeran Muhammad bin Salman pada September lalu.

Pangeran Mansur bin Muqrin jua sama. Helikopter dia tumpangi diduga ditembak jet tempur Arab Saudi lantaran dia akan kabur ke Yaman.

Mantan Kepala Badan meteorologi dan Lingkungan Pangeran Turki bin Nasir juga ditangkap. Dia adalah putra dari mendiang bekas Gubernur Riyadh Pangeran Nasir bin Abdul Aziz.

Penangkapan juga dilakukan terhadap Pangeran Fahad bin Abdullah. Mantan wakil menteri pertahanan ini merupakan putra dari Pangeran Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz.  

Genderang perang sejatinya sudah dibunyikan Pangeran Muhammad bin Salman sejak dia menyingkirkan abang sepupunya, Pangeran Muhammad bin Nayif, dari kursi putera mahkota. Tidak puas sampai dia situ, anak kesayangan Raja Salman dari istri termuda (ketiga) itu menetapkan status tahanan rumah terhadap Pangeran Muhammad bin Nayif.

Bahkan, menurut sumber Albalad.co, rekening milik Pangeran Muhammad bin Nayif sudah dibekukan, dan keluar besarnya menjadi sasaran penyelidikan atas dugaan korupsi.

Dia menambahkan investigasi juga dilakukan terhadap keluarga mendiang Putera Mahkota Pangeran Sultan bin Abdul Aziz.

Jaksa Agung Arab Saudi Saud al-Mujib kemarin mengakui korupsi sudah mebawah di negara Kabah itu selama berpuluh-puluh tahun.

Dia mengungkapkan dalam penyelidikan selama tiga tahun terakhir, praktek rasuah di Arab Saudi telah merugikan negara lebih dari US$ 100 miliar. "Sedikitnya US$ 100 miliar telah disalahgunakan melalui korupsi dan penggelapan secara sistematis dan berlangsung selama beberapa dekade," kata Mujib dalam keterangan tertulisnya.

Dia menambahkan sejauh ini sudah 208 orang ditangkap atas tuduhan korupsi dan mulai dimintai keterangan. Dari jumlah itu, menurut dia, tujuh orang dibebaskan tanpa dakwaan. Mujib menjelaskan pihaknya belum bisa mengumumkan siapa saja telah ditahan.

Kristian Coates Ulrichsen, peneliti Timur Tengah di Rice University's Baker Institute for Public Policy berpendapat penangkapan serampangan atas tudingan rasuah merupakan akal-akalan calon raja Arab Saudi. "Saya kira mereka memakai korupsi sebagai alat untuk mempermulus jalan putera mahkota menjadi raja,: ujarnya.

Sejatinya sudah ada beberapa pangeran menolak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi raja. Dua tahun lalu, seorang anggota keluarga kerajaan senior tidak disebutkan namanya menulis surat terbuka dan menyerukan penggulingan Raja Salman. Dia kala itu didampingi Putera Mahkota Muhammad bin Nayif dan Wakil Putera Mahkota Muhammad bin Salman dianggap tidak layak memimpin negeri Dua Kota Suci itu.

Perlawanan terbaru dilakukan anak dari mantan Putera Mahkota Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz, digeser pada April 2015. Barangkali alasan sakit hati pula membuat Pangeran Turki bin Muqrin nekat berusaha membunuh Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman. Dia ingin membalas dendam karena kesempatan ayahnya menjadi pengganti Raja Salman pupus dua tahun lalu.

Menurut sumber Albalad.co, upaya pembunuhan itu terjadi pada 3 Juli lalu di Jeddah. Pangeran Turki bin Muqrin menembak ke arah Pangeran Muhammad bin Salman namun meleset.

"Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman luka ringan di tangan kiri," katanya. Dia menambahkan Pangeran Turki bin Muqrin langsung ditangkap.

Peristiwa ini tentunya menyadarkan Pangeran Muhammad bin Salman. Posisinya sebagai calon penguasa negara Kabah belum benar-benar aman hingga dia menduduki singgasana.     

Jamal Khashoggi, pengkritik pemerintah Arab Saudi. (Twitter)

Para senator senior Amerika yakin anak Raja Salman perintahkan habisi Khashoggi

"Kalau disidangkan, juri bisa memutuskan Bin Salman bersalah dalam 30 menit," tutur Bob Corker.

Pegasus, aplikasi telepon seluler bikinan NSO Group, perusahaan berbasis di Ibu Kota tel Aviv, Israel. (slideshare.net)

Pembangkang Arab Saudi gugat perusahaan Israel karena sadap telepon selulernya

Kementerian Pertahanan Israel menolak permintaan untuk mencabut izin NSO Group buat menjual aplikasi mata-mata itu ke pemerintah negara lain.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Anak Raja Salman pantau misi pembunuhan Khashoggi

Pangeran Muhammad bin Salman mengirim sebelas pesan kepada penasihatnya, Saud al-Qahtani, beberapa jam sebelum dan setelah Khashoggi dilenyapkan.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Politikus Tunisia tawarkan suaka bagi putera mahkota Saudi

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bilang pemberi perintah untuk menghabisi Khashoggi adalah otritas tertinggi di Arab Saudi, Raja Salman atau Bin Salman.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR