kisah

Satu bani senegara

Pesta seks, narkotik, dan minuman beralkohol adalah hal lazim dilakukan para pangeran Arab Saudi.

15 November 2017 23:14

Kerabat dekat Raja Salman bin Abdul Aziz tidak cuma menguasai Arab Saudi. Mereka juga berbisnis.

Sebuah perusahaan investasi besar Saudi dibentuk oleh salah satu putra dari Raja Salman dan sekarang dipimpin oleh putra lainnya, memiliki saham dalam jumlah dominan di sebuah konglomerasi menguasai proyek-proyek pemerintah, termasuk usaha patungan dengan sebuah kontraktor pertahanan asal Prancis untuk membangun sebuah kapal perang.

Perusahaan lain beraset lebih sedikit didirikan oleh anak lelaki Raja Salman lainnya berinvestasi di layanan kesehatan, telekomunikasi, pendidikan, dan sektor-sektor didanai pemerintah.

Tidak ada konflik kepentingan kelihatannya melanggar undang-undang.

Tapi kini, Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman tengah memimpin bersih-bersih atas nama korupsi. Sejak awal bulan ini, Komisi Pemberantasan Korupsi diketuai Pangeran Muhammad bin Salman telah menangkapi ratusan anggota keluarga kerajaan, pejabat, dan konglomerat. Langkah ini mengguncang keutuhan keluarga Bani Saud berkuasa sejak Saudi dibentuk 87 tahun lalu.

Tuduhan ini memang membingungkan. Karena selama ini tidak ada hukum di Arab Saudi mengatur soal keluarga kerajaan dan lien-klien terdekat mereka. Keluarga kerajaan juga tidak pernah mengumumkan sumber pendapatan mereka, berapa banyak mereka mendapat fulus dari kontrak-kontrak pemerintah, dan bagaimana mereka bisa hidup supermewah.

Raja Salman tidak pernah pula menjelaskan dari mana dia dapat duit untuk membeli rumah-rumah mewah di Ibu Kota London, Inggris, seharga US$ 28 juta. Begitu pula putra kesayangannya, Pangeran Muhammad bin Salman, tidak pernah bilang kenapa dia mampu membeli sebuah kapal pesiar supermewah seharga lebih dari US$ 500 juta ketika dia baru sekali melihat dan langsung kepincut.

Saudi, sebuah kerajaan absolut, tidak pernah berupaya menciptakan sebuah sistem peradilan independen untuk memutuskan beragam klaim atau perkara. Dan kalau korupsi diartikan sebagai mengeruk keuntungan pribadi dari uang negara, praktek di negara Kabah tersebut masif sehingga perubahan revolusioner dilakoni calon raja menjadi sekadar penangkapan tebang pilih.

"Karena korupsi sesautu sangat dipedulikan orang banyak, propaganda ini dipakai untuk merebut dukungan masyarakat sebagai pembenaran atas pembersihan (lawan-lawan politik)," kata Katherine Dixon, peneliti di Transparency International pernah meneliti industri pertahanan Saudi.

Dia membandingkan kampanye antikorupsi dilancarkan  Pangeran Muhammad bin Salman dengan Presiden Xi Jinping di Cina dan Presiden Vladimir Putin di Rusia, di mana perburuan dan penangkapan kerap bermotif politik.

Sejauh ini sudah 500 orang dibekuk atass tudingan korupsi. Kebanyakan ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh.

Jaksa Agung Arab Saudi Saud al-Mujib menjelaskan penangkapan terhadap ratusan pangeran, pejabat, dan pengusaha tersebut, mereka mengklaim hanya 201 orang, berdasarkan hasil penyelidikan terhadap dugaan korupsi dalam tiga tahun terakhir. Dia bilang negara dirugikan sekitar US$ 100 miliar.

Menurut dia, Komisi Pemberantasan Korupsi sudah membekukan setidaknya 1.700 rekening senilai lebih dari US$ 800 miliar.

Tapi sampai sekarang pemerintah belum mengumumkan tuduhan atau bukti, atau bahkan nama-nama mereka yang ditangkap. Yang ada nama-nama beredar di media sosial, termasuk pemilik Kingdom Holding Company pangeran Al-Walid bin Talal, mantan Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat Pangeran Bandar bin Sultan, dan komandan Garda Nasional Pangeran Mutaib bin Abdullah.

Penangkapan pertama dimulai beberapa jam setelah pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi diketuai oleh Pangeran Muhammad bin Salman, sehingga hanya mempunyai sedikit waktu buat penyelidikan. Apalagi semua pengadilan di Arab Saudi berada di bawah kontrol Raja Salman dan putera mahkota.

Juga tidak jelas pengadilan mana nantinya akan mengadili orang-orang ditahan atas tuduhan korupsi tersebut?

"Pada akhirnya raja dan beberapa pangeran senior bisa melakukan apa yang mereka mau dan kemudian membuat itu menjadi sah secara hukum," ujar Nathan J. Brown, peneliti sistem hukum Arab Saudi dari Universitas George Washington.

Banyak rakyat Saudi memuji langkah putera mahkota. Dua pertiga warga Saudi berumur dia bawah 30 tahun, banyak yang frustasi karena menganggur dan sebagian tentu senang melihat banyak orang supertajir dan berkuasa tidak berdaya ditangkap karena rasuah.

"Para pebisnis di Saudi mengeluhkan gangguan dari keluarga kerajaan selama berpuluh-puluh tahun," tutur Stefen Hertog, profesor di the London Schol of Economics sekaligs penulis buku mengenai birokrasi Saudi.

Salah satu kasus korupsi diselidiki adalah terkait banjir melanda Jeddah pada 2009 dan menewaskan lebih dari seratus orang. Seorang pengusaha Saudi dituduh menggelapkan dana jutaan dolar Amerika Serikat untuk pembangunan sistem pembuangan kotoran di Jeddah namun pipa-pipanya tidak pernah dipasang.

"Kita semua tahu dan kita tidak pernah melaporkan kasus itu," kata Jamal Khashoggi, editor sebuah surat kabar ternama di Saudi dan kini hidup di pengasingan.

Menurut sejumlah sumber, Pangeran Mutaib bin Abdullah dituding menggelapkan dana Garda nasional karena mempekerjakan karyawan-karyawan palsu dan menggelembungkan nilai proyek dikerjakan perusahaan-perusahaan miliknya.

Tuduhan korupsi terhadap Pangeran Al-Walid tentu dianggap menggelikan. Dia merupakan investor di banyak perusahaan global, seperti Apple, Twitter, dan salah satu orang paling tajir di planet ini. Sumber-sumber kekayaannya pun lebih transparan ketimbang kebanyakan pangeran Saudi.

Sebab itu, lazim saja Puteri Amira bin Aidan bin Nayif, mantan istri Pangeran Al-Walid, mencak-mencak. "Orang menuduh orang lain terlibat korupsi dan pencucian uang, pada kenyataannya mereka sendiri sangat korup," katanya dalam wawancara khusus dengan surat kabar Le Monde asal Prancis, seperti dilansir portal berita Fort Russ.

Puteri Amira pun membuka kelakuan bobrok para pangeran di negara Kabah itu. Dia bilang perbudakan dalam beragam bentuk masih terus berlangsung di Saudi, namun itu dilakukan secara rahasia dan hanya bleh dilakoni keluarga kerajaan.

Menurut dia, salah satu hal menjijikkan adalah praktek jual beli ddan penyewaan anak-anak perempuan, terutama anak yatim dari Bangladesh, Sri Lanka, Filipina, Djibouti, Somalia, Nigeria, Nigeria, Rumania, dan Bulgaria.

"Mereka dikumpulkan di pasar budak di Jeddah, di mana gadis-gadis di bawah umur itu akan dipakai untuk pesta seks dilengkapi narkotik dan minuman beralkohol," ujar Puteri Amira.

Dia menekankan praktek bejat ini bisa terus berlangsung oleh keluarga kerajaan karena polisi syariah takut menindak. Kalau sampai nekat bertindak, mereka bisa dipecat.

Puteri Amira menambahkan baru-baru ini digelar sebuah pesta halloween di Jeddah dihadiri 150 orang, termasuk pegawai sejumlah konsulat. Tempat pesta itu mirip klub-klub malam di luar negeri. Para pasangan asyik berjoget dan minuman anggur tersedia.

Dia mengatakan harga minuman beralkohol diselundupkan ke Arab Saudi sangat mahal. Dia mencontohkan sebotol vodka Smirnoff seharga US$ 400.

Perdagangan gadis kulit putih untuk kebutuhan seks, lanjut Puteri Amira, juga menjadi hal lazim di kalangan para pangeran.

Pangeran Al-Walid bin Talal, pemilik Kingdom Holding Company sekaligus keponakan dari Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. (Syed Saleem/Facebook)

Misteri pembebasan Pangeran Al-Walid

Pangeran Al-Walid dikabarkan merelakan hampir seluruh hartanya untuk menebus kebebasannya dan dia akan diberi tunjangan bulanan.

Pemilik Kingdom Holding Company Pangeran Al-Walid bin Talal. (Gulf Business)

Arab Saudi bebaskan Pangeran Al-Walid dari tahanan

Seorang pejabat senior Arab Saudi mengatakan Pangeran Al-Walid, 62 tahun, tiba di kediamannya di Riyadh kemarin pukul sebelas waktu setempat.

Infografis hasil pemberantasan korupsi dilakukan Arab Saudi sejak awal November 2017. (Saudi Gazette)

Arab Saudi segera adili 95 pangeran dan konglomerat terlibat korupsi

Belum diketahui apakah mereka akan diadili termasuk pemilik Kingdom Holding Company Pangeran Al-Walid bin Talal dan Chairman Saudi Binladin Group Bakar Bin Ladin.

Pemilik Kingdom Holding Company Pangeran Al-Walid bin Talal. (Gulf Business)

Pangeran Al-Walid bin Talal masih rundingkan harga pembebasannya

Arab Saudi akan mengupayakan ekstradisi atas para tersangka korupsi tinggal di luar negeri.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR