kisah

Hariri bukan boneka Saudi

"Di Libanon, pergantian kepemimpinan politik terjadi lewat pemilihan umum, bukan dengan bersumpah setia," ujar Menteri Dalam Negeri Libanon Nuhad Machnuk.

27 Desember 2017 10:29

Keganjilan sudah terasa sedari pesawat mengangkut Perdana Menteri Libanon Saad Hariri mendarat pada Jumat, 3 November lalu, di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. Dia kaget.

Sejumlah sumber dekat dengan Hariri mengungkapkan tidak ada barisan pangeran atau pejabat menyambut layaknya lawatan resmi kepala negara atau kepala pemerintahan. Dia mendapat telepon sehari sebelumnya dan diminta datang ke negara Kabah itu untuk bertemu Raja Salman bin Abdul Aziz.

Dari Bandar Udara Raja Khalid bin Abdul Aziz, Hariri langsung menuju kediamannya di Riyadh. Keluarganya sudah lama memupuk harta di Saudi dan memiliki banyak properti di negeri Dua Kota Suci tersebut.

Seorang sumber bilang, Hariri mendapat telepon dari protokoler kerajaan pada Sabtu pagi. Dia diminta menemui Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di istana pukul 8:30, terlalu pagi menurut kebiasaan.

Hariri, sekutu lama Saudi, datang dengan bercelana jins dan berkaus oblong. Dia berpikir bakal diajak berkemping ke gurun oleh Pangeran Muhammad bin Salman.

Dia salah sangka. Para pengawal kerajaan menyita semua telepon selulernya. Dia dipisahkan dari anggota rombongannya lain, kecuali para pengawal intinya.

Ternyata inilah alasan sebenarnya Hariri disuruh datang ke Riyadh. Dia dipaksa berhenti dan secara terbuka menyalahkan Iran atas segala konflik terjadi di Timur Tengah. Saudi memperlakukan dia seperti pekerja dan bukan pemimpin dari negara berdaulat.  

Bahkan sebelum muncul di depan televisi, Hariri tidak dibolehkan pulang ke rumahnya sendiri. Dia meminta para pengawalnya untuk mengambilkan pakaian safari lengkap.  

Dia menunggu sekitar empat jam sebelum disodori sebelum disodori pidato pengunduran diri mesti dibacakan melalui siaran televisi. "Sejak Hariri tiba, Saudi tidak menghormati dia," kata seorang politikus senior Libanon.

Malamnya, ketika sebelas pangeran dan konglomerat Saudi mulai ditangkapi atas tudingan korupsi, Pangeran Muhammad bin Salman mengajak Hariri pelesiran ke tengah gurun.  

Hariri sebenarnya sudah biasa berkunjung ke Saudi. Dalam lawatan beberapa hari sebelumnya, Pangeran Muhammad bin Salman mengatur pertemuannya dengan para pejabat intelijen Saudi dan Menteri Urusan Teluk Thamir as-Sabhan.

Menurut beberapa sumber dalam rombongannya, Hariri pulang ke Beirut dalam keadaan senang dan santai. Dia percaya telah berhasil meyakini Saudi soal perlunya mempertahankan Hizbullah dalam pemerintahan koalisi demi kestabilan Libanon.

Rupanya dia keliru. Sehari setelah menjejakkan kakinya lagi di Saudi, dia dipaksa berhenti. Saudi menyimpulkan Hariri mesti lengser karena dia tidak ingin melawan Hizbullah.

Sepulangnya ke Beirut, Hariri membatalkan pengunduran dirinya. Sebab rakyat dan pejabat Libanon tidak ingin Hariri menjadi boneka Saudi. "Di Libanon, pergantian kepemimpinan politik terjadi lewat pemilihan umum, bukan dengan bersumpah setia," ujar Menteri Dalam Negeri Libanon Nuhad Machnuk.  
 

Pangeran Sultan bin Turki (Hugh Miles)

Jejak gelap pengkritik penguasa negara Kabah

Sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni lalu, Arab Saudi kian getol menangkapi para pembangkang, termasuk ulama.

Syekh Dr. Saleh bin Muhammad at-Talib, imam Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi. (Twitter)

Bungkam ulama guncang Al-Haram

"MUI mendesak agar pemerintah Saudi membebaskan semua ulama ditangkap tanpa proses hukum adil," kata Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI Muhyiddin Junaidi.

Kapal pesiar Topaz menjadi milik Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman setelah ditukar dengan lukisan wajah Yesus berjudul Salvator Mundi. (Daily Mail)

Wajah Yesus gengsi dua pangeran

Pangeran Muhammad bin Salman menukar Salvator Mundi dengan kapal pesiar Topaz milik Pangeran Muhammad bin Zayid.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz mencium tangan abang tirinya, Pangeran Talal bin Abdul Aziz saat datang menjenguk di Rumah Sakit Raja Faisal, Riyadh, November 2017. (Sabq)

Mogok makan Pangeran Talal

Raja Salman menjenguk dia di rumah sakit akhir November tahun lalu.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

12 Oktober 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018
Bungkam ulama guncang Al-Haram
26 September 2018

TERSOHOR