kisah

Kota dermawan nihil kelaparan

Tradisi itu pertama kali berlangsung pada 1940-an di Merkez, salah satu restoran pertama dibuka di Karakocan.

19 Januari 2018 09:03

Di bawah terim surya pada suatu Sabtu Agustus lalu, sebuah restoran di kota kecil di timur Turki menyambut para pelanggannya paling berharga.

Restoran ini satu di antara banyak rumah makan di seantero kota kecil tersebut di mana menyediakan makanan gratis bagi kaum papa. Tradisi ini telah berjalan dari generasi ke generasi selama berpuluh-puluh tahun.

Karakocan, bisa ditempur dengan bermobil selama sekitar 70 menit dari pusat Provinsi Elazig, menarik perhatian dalam beberapa tahun belakangan lantaran tradisi masyarakatnya suka memberi makan gratis bagi orang-orang membutuhkan. Bagi penduduk setempat, kebiasaan ini merupakan cara mereka untuk membantu pihak-pihak kurang beruntung.

Mehmet Ozturk, 55 tahun, pemilik sekaligus manajer salah satu restoran tersibuk di Karakocan, Merkez, mengaku sudah hampir 35 tahun menyediakan paling sedikit tiga meja untuk orang-orang miskin meski di jam-jam banyak pembeli. "Kaum miskin tidak pernah saya kecewakan ketika mereka datang ke sini," katanya.

Dia bercerita pernah suatu hari datang 15 orang untuk makan gratis di rumah makan miliknya.

Menurut warga lokal, sekitar seratus orang fakir saban hari makan gratis di beragam restoran di seantero Karakocan, kota berpenduduk 28 ribu orang.

Galip adalah salah satu pengunjung setia Merkez. Dia sudah sepuluh tahun makan gratis tiap hari di restoran kepunyaan Ozturk itu. "Dia biasanya datang untuk sarapan dan makan malam," ujar seorang pelayan muda.

Karena gangguan kejiwaan, Galip tidak bisa banyak bercerita. "Meerkez adalah tempat favorit saya di Karakocan karena makanannya lezat," tuturnya.

Merkez meberikan banyak pilihan kepada Galip dan orang-orang memerlukan, seperti kebab, daging ayam, sup, nasi, hingga salad.

Ozturk bilang tradisi memberi makan gratis buat orang-orang miskin ini sudah berlaku 70 tahun. "Bagi kami, itu hal alamiah untuk dilakukan, sesuatu kami pelajari dari para sesepuh kami," katanya.

Menurut warga setempat, tradisi itu pertama kali berlangsung pada 1940-an di Merkez, salah satu restoran pertama dibuka di Karakocan. Pemiliknya mulai memberi makan gratis bagi orang miskin saban hari dan kebiasaan ini diikuti oleh warung-warung makan lainnya.

Ozturk masih ingat betul bagaimana Haci Huseyin, pemilik Merkez sebelumnya, begitu bersemangat memberi makan orang-orang miskin ada di jalanan. "Dia membawa mereka dalam rombongan, kadang tiga atau lima kali sehari Huseyin memberi mereka makan gratis," kenangnya.

Pada 1982, abang-abang Ozturk pulang ke kampung halaman setelah bekerja di Jerman. Mereka lalu membeli Merkez dan menjadikan restoran ini sebagai bisnis keluarga. Kini Ozturklah pemilik Merkez.

Ada lima restoran besar di Karakocan dan semuanya melakukan tradisi tersebut. Orang-orang miskin datang untuk makan gratis di sana setidaknya dua kali sehari.

Ozturk menjelaskan bisanya yang datang untuk makan malam gratis adalah orang-orang cacat, seperti orang gila. Tapi dia juga kadang menerima dengan tangan terbuka wajah-wakah baru dari kota tetangga Bingol dan Tunceli, untuk menyiarkan tradisi baik itu.

Restoran-restoran di karkocan tidak menyebut mereka yang makan gratis dengan sebutan miskin. Untuk tidak menghina mereka, para pemilik rumah makan di sana memberi julukan alti boluk, pasukan kavaleri di era Kesultanan Usmaniyah. Para prajurit alti boluk dilarang menikah, berbisnis, atau berpacaran dengan orang lain. Mereka hanya wajib taat kepada sultan.

Tradisi memberi makan gratis ini meningkat menjadi buat semua warga Karakocan selama Ramadan dan perayaan Idul Fitri serta Idul Adha.

Karakocan telah menjelma sebagai kota dermawan nihil kelaparan.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bersua Mustafa di Lembah Bekaa

Di akhir lawatannya, seperti biasa Dato Tahir berdoa memohon kebaikan bagi Mustafa sekeluarga dan seluruh pengungsi Suriah.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir didampingi Duta Besar Indonesia buat Yordania berbincang dengan keluarga Isa Saleh, pengungsi Suriah asal Palmyra di kamp Azraq, Yordania, 10 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan hambar di kamp Azraq

Di sanalah, seperti tahun lalu, sinterklas Suriah dari Indonesia ini merayakan ulang tahunnya ke-66.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Menerka dalang upaya kudeta di Arab Saudi

"Kalau cuma pesawat nirawak mainan kenapa baku tembaknya berlangsung dua sampai tiga jam? Mengapa menggunakan senapan mesin?"

23 April 2018

TERSOHOR