kisah

Lika liku IPO Aramco

Pertanyaannya adalah sejauh mana Saudi bakal membuka tabir Aramco untuk memaksimalkan perolehan dana dari IPO?

02 Februari 2018 11:34

Kabar mengagetkan itu muncul Januari dua tahun lalu. Wakil Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman - kemudian menjadi putera mahkota pada Juni tahun lalu - mengumumkan apa yang bisa menjadi IPO (penjualan saham perdana) terbesar sepanjang sejarah. Negara Kabah ini ingin menjual lima persen saham Saudi Aramco, di bawah kontrol pemerintah sejak dinasionalisasi pada 1970-an.

Dengan cadangan minyak sepuluh kali lebih besar ketimbang milik ExxxonMobil, Aramco adalah produsen minyak terbesar di dunia dan perusahaan ini bisa bernilai US$ 2 triliun.

Brookings Institute menjelaskan salah satu tantangan besar IPO itu adalah Aramco bersifat rahasia. Perusahaan berpelat merah tersebut tidak pernah membuka keadaan keuangannya dan hanya baru-baru ini saja mengundang para auditor independen untuk memverifikasi cadangan minyak dikelola Aramco.

Rincian mengenai cadangan minyak Saudi sangat dirahasiakan, tapi Aramco mengklaim negeri Dua Kota Suci itu mempunyai 260 miliar barel atau 15 persen dari total cadangan minyak dunia.

Informasi mengenai kegiatan operasional Aramco juga masih tertutup. Mei tahun lalu, Pangeran Muhammad bin Salman bilang keputusan soal produk minyak dan gas serta investasi bakal tetap di tangan pemerintah Saudi setelah IPO. Keputusan-keputusan diambil Aramco bakal masih menjadi pertimbangan utama bagi beragam kebijakan OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak).

Sebagai contoh, saat Saudi setuju mengurangi kuota produksi minyak, OPEC dan produsen non-OPEC, termasuk Rusia, juga sepakat memperpanjang pemotongan produksi hingga akhir Maret tahun ini.

Dengan rencana IPO ini, Saudi juga harus menghormati keterbukaan. Makin besar transparansi dapat menaikkan nilai jual Aramco karena keterbukaan tersebut mengecilkan risiko investasi.

Pangeran Muhammad bin Salman menekankan salah satu keuntungan dari privatisasi adalah akan meningkatkan transparansi dan membantu membatasi korupsi. "Orang biasanya tidak senang karena data Aramco tidak dibuka, tidak jelas, dan tidak transparan," katanya. "Sekarang semua itu bakal terbuka. Kalau Aramco melakoni IPO, artinya Aramco mesti mengumumkan secara terbuka kondisinya."

Namun sebagian pihak di Saudi, terutama keluarga kerajaan, tidak ingin keterbukaan penuh mengenai operasional Aramco. Pertanyaannya adalah sejauh mana Saudi bakal membuka tabir Aramco untuk memaksimalkan perolehan dana dari IPO?

Tantangan lainnya adalah berapa nilai jual Aramco? Metode valuasi biasa dipakai, seperti nilai per barel cadangan, tidak bisa digunakan pada sebuah perusahaan tujuan utamanya bukan memaksimalkan nilai pemegang saham.

Investor kadang mengurangi nilai perusahaan-perusahaan raksasa milik pemerintah demi menurunkan risiko politik. Hal ini terjadi pada IPO Petrobras kepunyaan Brasil dan Rosneft milik Rusia.   

Aramco juga memainkan banyak peran lain di Saudi di luar industri hulu dan hilir minyak. Aramco secara umum dipandang profesional dan berjalan bagus. Aramco dinilai sebagai pembangun pilihan pemerintah dan menjadi operator proyek bergengsi, termasuk pembangunan stadion dan rumah sakit. Fungsi-fungsi di luar bisnis inti tersebut secara negatif dalam mempengaruhi valuasi Aramco.

Salah satu hal kerap menjadi sorotan mengenai IPO Aramco adalah penurunan permintaan minyak akan menggerus nilai perusahaan. Sejumlah skenario menyebutkan permintaan minyak global mulai melorot pada 2030-an.

Tapi sebagian pihak meyakini minyak terakhir dunia akan dihasilkan di Arab Saudi. Sebab ongkos produksi minyak di negeri Dua Kota Suci ini sangat murah dan cadangannya amat banyak.

Alhasil, meski harga minyak mentah global anjlok, minyak Saudi bakal tetap kmpetitif.

Kebijakan pajak dan deviden juga menjadi persoalan lain untuk mengukur valuasi Aramco. Perusahaan ini sekarang membayar royalti 20 persen dari total pendapatan dan pajak penghasilan 50 persen, turun dari 85 persen setelah rencana IPO Aramco diumumkan.

Langkah ini menandai perubahan struktur soal bagaimana pemerintah memperoleh pendapatan dari Aramco. Berubah dari tadinya mengandalkan pajak menjadi kombinasi antara pajak dan deviden dibayar ke PIF (Dana Investasi Publik). Perubahan ini juga dirancang untuk membuat kepentingan pemerintah lebih sejalan dengan kemauan para pemegang saham lantaran kedua pihak bakal menerima dana dari deviden.  

Sehingga valuasi Aramco belum jelas sampai IPO itu benar-benar dilaksanakan. Namun konsensus umum menyebutkan nilai Aramco sekitar US$ 1,5 triliun, di bawah dari perkiraan Perkiraan dilontarkan Pangeran Muhammad bin Salman yakni antara US$ 2 triliun hingga US$ 3 triliun.

Pertanyaan selanjutnya adalah di mana IPO Aramco akan dilakukan. Sebagian saham dipastikan bakal dilepas di Bursa Saham Riyadh atau Tadawul. Namun buat menggaet modal asing, mayoritas saham harus dilepas di satu atau lebih bursa internasional.

IPO Aramco memang menarik lantaran ukurannya. Meski mematok valuasi terendah bagi Aramco, lima persen IPO kemungkinan besar melewati IPO Alibaba pada 2014, berhasil meraup dana US$ 25 miliar.

Sejumlah bursa internasional berlomba untuk mendapat kehormatan tersebut, termasuk London, Hong Kong, Tokyo, dan New York. LSE (Bursa Saham London) mewajibkan minimum 25 persen saham dalam IPO, telah bersedia mengubah aturan ini agar sesuai dengan rencana IPO Aramco.

Hong Kong dan Tokyo merupakan alternatif menarik karena Asia merupakan pembeli minyak terbesar dari Aramco. Cina bahkan sudah menawar untuk membeli lima persen saham Aramco sebelum IPO dilakukan nantinya.

Beberapa sumber mengungkapkan sejumlah investor nomor wahid ingin melihat Aramco terdaftar di bursa Asia ketimbang di New York atau London.

Kalau Aramco ingin melakukan IPO di NYSE (Bursa Saham New York), bisa menemui sejumlah ganjalan. Kongres Amerika Serikat pada akhir 2016 telah mengesahkan the Justice against Sponsors of Terrorism Act (JASTA). Beleid ini mengizinkan seorang warga negara Amerika untuk menggugat pemerintah negara lain atas keterlibatannya dalam serangan teroris internasional.

Koalisi korban serangan 11 September 2001 sudah mengajukan gugatan terhadap Saudi lantaran meyakini sejumlah pejabat negara Kabah ini terlibat dalam serangan didalangi oleh Al-Qaidah tersebut.
 
Selain itu, perusahaan-perusahaan terdaftar di NYSE mesti melalui audit Securities and Exchange Commission, sebuah level transparansi mungkin tidak mau dijalani oleh Aramco.

IPO Aramco adalah bagian utama dari program privatisasi tengah dilakoni Saudi. "Kami di Arab Saudi telah mengalami kecanduan minyak," ujar Pangeran Muhammad bin Salman kepada stasiun televisi Al-Arabiya.

Melalui Visi 2030, anak kesayangan Raja Salman bin Abdul Aziz ini ingin memberagamkan perekonomian Saudi, sehingga tidak lagi amat bergantung pada minyak. Dia ingin menggenjot pendapatan negara dari sektor non-minyak menjadi 600 miliar riyal (US$ 160 miliar) pada 2020 dan 1 triliun riyal (US$ 267 miliar) pada 2030 dari 163,5 miliar riyal (US$ 43,6 miliar) pada 2015.    

Dana diperoleh dari IPO Aramco itu akan dimasukkan ke PIF, dibentuk pada 1971 untuk mendanai beragam proyek. PIF sudah mempunyai saham mayoritas di Saudi Basic Industries Company dan National Commercial Bank, juga investasi di berbagai negara, termasuk Rusia dan Korea Selatan.

Fulus hasil IPO Aramco itu bisa membuat PIF meningkatkan investasinya di dalam dan luar negeri. Setelah IPO, kepemilikan 95 persen saham Aramco akan dialihkan dari pemerintah ke PIF, kini memiliki aset senilai US$ 600 miliar.    

Pangeran Muhammad bin Salman sudah meyakinkan IPO Aramco bakal dilaksanakan pada paruh kedua tahun ini, kemungkinan Oktober atau November. Tapi jalan ke arah sana masih berliku.

CEO Russia Direct Investmen Fund Kirill Dmitriev. (Arabian Business)

Rusia dan Cina patungan buat beli saham Aramco

Aramco akan melakoni IPO di semeter kedua tahun ini. Itu diyakini bakal menjadi IPO terbesar sepanjang sejarah karena diperkirakan bisa meraup dana US$ 100 miliar.

Bintang sepak bola Mesir Muhammad Salah. (liverpoolfc.com)

Dakwah Salah

Sebagian pendukung Liverpool sampai bernazar untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad kalau Salah terus menambah pundi-pundi golnya.

Pangeran Al-Walid bin Talal, pemilik Kingdom Holding Company sekaligus keponakan dari Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. (Syed Saleem/Facebook)

Misteri pembebasan Pangeran Al-Walid

Pangeran Al-Walid dikabarkan merelakan hampir seluruh hartanya untuk menebus kebebasannya dan dia akan diberi tunjangan bulanan.

Khalid al-Falih, Chairman Saudi Aramco sekaligus Menteri Energi, Industri dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi. (Arab News)

Menteri energi Saudi sebut nilai IPO Aramco ditentukan pasar

Arab Saudi mempunyai cadangan minyak sebanyak 260 miliar barel.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Dakwah Salah

Sebagian pendukung Liverpool sampai bernazar untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad kalau Salah terus menambah pundi-pundi golnya.

16 Februari 2018

TERSOHOR