kisah

Lidah Indonesia lisan Ibrani

"Saya hadir dengan bahasa dan kita mempelajari kultur orang-orang Israel, sebagaimana kita mempelajari budaya negeri Arab," kata Sapri.

07 Maret 2018 23:55

Dia sadar ilmu dia ajarkan sensitif. Dia sadar dia bisa mendapat ancaman dan intimidasi. Tapi dia ambil segala risiko itu demi mengajarkan sekaligus menyebarluaskan sebuah bahasa dipandang sebagian kaum muslim di Indonesia sebagai bahasa musuh.

Seraya mengepulkan asap rokoknya, Sapri Sale kemarin sore menanti kedatangan murid-muridnya di beranda kantor Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Di sanalah untuk pertama kali dia membuka kursus bahasa Ibrani untuk masyarakat umum di negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar sejagat.

Ibrani adalah bahasa dipakai bangsa Yahudi, diyakini orang-orang Islam sebagai bangsa harus mereka taklukkan demi kejayaan agama Nabi Muhammad itu sebelum kiamat datang.

Bagi Sapri, sarjana bahasa Arab lulusan dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, menjadi tugasnya menjelaskan Ibrani sebagai sebuah bahasa tidak ada kaitannya dengan Israel, negara dihuni mayoritas orang Yahudi kini menjajah bangsa Palestina.

Lelaki kelahiran Kota Palu, Sulawesi Tengah, ini menekankan Ibrani sangat penting untuk hadir dan dipelajari di Indonesia sebagai pembanding dengan bahasa Arab sudah merajai kaum muslim.

"Di sinilah tugas saya untuk menjelaskan kepada kawan-kawan di Indonesia, saya hadir dengan bahasa dan kita mempelajari kultur orang-orang Israel, sebagaimana kita mempelajari budaya negeri Arab," kata Sapri kepada Albalad.co.

Pria jebolan sebuah pesantren di Jawa Timur itu tidak main-main dengan cita-citanya menyebarluaskan bahasa Ibrani di Indonesia. Dia memiliki dua mimpi akan hal tersebut.

Sapri ingin menjadikan Ibrani sebagai bahasa publik dan tidak lagi menjadi bahasa eksklusif para intelektual Nasrani belajar di sekolah-sekolah tinggi teologi. Penulis Kamus Ibrani-Indonesia pertama ini juga mendambakan orang Indonesia bisa belajar semua hal mengenai Israel dan Yahudi langsung dengan membaca literatur berbahasa Ibrani.

Kursus Ibrani sudah dimulai sejak Senin lalu. Untuk tingkat dasar dibuka dua kelas saban Senin dan Rabu. Kelas pertama dimulai pukul 16:00-17:30 dan kelas kedua pada jam 19:00-20:30. Tiap kelas maksimal dihuni sepuluh peserta.

Sapri menargetkan level dasar, berlangsung selama delapan pertemuan, bisa membuat peserta kursus mampu membaca dalam bahasa Ibrani. Sebab Ibrani itu mirip dengan bahasa Indonesia, bacaannya sesuai dengan tulisannya. Hanya saja hurufnya memang berbeda dan seperti bahasa Arab, dimulai dari kanan.

Abjad Ibrani hampir mirip alfabet dalam bahasa Arab. Misalnya alef (alif dalam bahasa Arab), dalet (dal), lamet (lam). Bahkan ada yang bunyi sama, seperti nun, sin, dan syin.

Gaya mengajar komunikatif membikin murid-muridnya antusias belajar dan bertanya. "Saya merasa Pak Sale itu sangat komunikatif dan betul-betul sabar," ujar perempuan paruh baya minta ditulis sebagai Opin dan berprofesi sebagai seniman.

Opin mengaku tertarik belajar Ibrani karena langka mendapat kesempatan untuk mempelajari bahasa bangsa Yahudi ini.

Sedangkan Alz Danny Wowor, pengajar di sebuah universitas Kristen di Jawa Tengah, mengaku belajar Ibrani karena tertarik dengan kriptografi, sebuah seni menyembunyikan pesan dan itu ada dalam bahasa Ibrani. Seain itu, dia juga mau melanjutkan studinya ke Israel.

Guyuran hujan di luar ruang kelas sore itu mengiringi lidah orang-orang Indonesia melafalkan deretan huruf Ibrani ditulis Sapri di papan.       

Buku Son of Hamas karya Musab Hasan Yusuf, putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi Barat, Syekh Hasan Yusuf. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

Sinagoge Beith Shalom di Jalan Kayoon 4-6, Surabaya, Jawa Timur, pada 2007. (Jono David, HaChayim Ha Yehudim Jewih Photo Library)

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

Foto raksasa mendiang Imam Khomeini tergantung di tembok sebuah bangunan dekat rumahnya di kawasan elite Jamaran di utara Ibu Kota Teheran, Iran, 31 Mei 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

01 April 2019
Bertemu pemuka Yahudi
04 Maret 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR