kisah

Lidah Yahudi lafal Indonesia

Profesor Ronit Ricci sudah empat tahun mengajar bahasa, sejarah, dan budaya Indonesia di Universitas Hebrew, Yerusalem. Dia satu-satunya pengajar bahasa Indonesia di Israel.

12 Maret 2018 09:36

Kalau di Indonesia ada Sapri Sale, di Israel terdapat Ronit Ricci, profesor di Departemen Studi Asia dan Perbandingan Agama di Universitas Hebrew, Yerusalem.

Sapri, sarjana bahasa Arab lulusan dari Universitas Al-Azhar di Kairo dan jebolan pesantren di Jawa Timur, sejak pekan lalu membuka kursus bahasa Ibrani buat masyarakat umum di kantor Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Sedangkan Ronit sudah mengajar bahasa Indonesia di kampusnya selama empat tahun. Bila Sapri satu-satunya orang mengajarkan bahasa Ibrani di negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar sejagat, juga hanya Ronit saja mengajar bahasa Indonesia di negara Zionis itu.

Kepada Albalad.co saat dihubungi melalui telepon selulernya Sabtu sore waktu setempat, Ronit bilang mulai belajar bahasa Indonesia pada 1998 ketika kuliah di Universitas Cornell dan dilanjutkan di Universitas Michigan pada. Kedua perguruan tinggi ini berada di Amerika Serikat.

Karena ingin mendalami mengenai Indonesia, dia tinggal setahun di Yogyakarta pada 2003 untuk melakukan riset buat program doktornya. "Mau menyelidiki bahasa dan sastra Jawa tetapi juga bisa meneruskan pelajaran bahasa Indonesia di Yogya," kata Ronit. "Kalau tinggal di Indonesia kan lebih gampang daripada belajar di luar."

Selama wawancara, Ronit menggunakan bahasa Indonesia dan cukup fasih. Cuma satu kata dia menggunakan bahasa Inggris karena tidak tahu artinya, yakni adventure.

Sejak saat itu, dia terus memperlancarkan kemampuan bahasa Indonesianya dengan banyak membaca literatur berbahasa Indonesia dan hampir setahun sekali datang ke Indonesia.

Ketertarikan ibu tiga anak ini berawal saat dia kuliah sarjana dan magister di Israel. Ketika itu dia berfokus mengenai sejarah, sastra, dan bahasa India. Kala mau lulus program magister, dosennya bercerita sedikit tentang hubungan sejarah dan kebudayaan antara India dan Indonesia. "Saya waktu itu belum tahu apa-apa tentang Indonesia. Waktu kecil saya jarang mendengar atau membaca sesuatu soal Indonesia," ujar Ronit.  

Sang dosen mendorong dia untuk belajarmengenai Indonesia. Ronit akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan ke Indonesia bareng adiknya selama sebulan pada 1995. Dia melancong ke Yogyakarta, Solo, Jakarta, dan Bali. Tentu saja dia datang bukan menggunakan paspor Israel tapi dengan paspor Amerika Serikat.  

Setelah melanglang buana ke beragam negara, Ronit akhirnya memutuskan kembali ke Israel pada 2014. Dia lalu mengajar mengenai sejarah, kebudayaan, dan bahasa Indonesia di Universitas Hebrew.

Meski mengakui belajar bahasa Indonesia itu mudah, namun Ronit menekankan jika ingin bisa berekspresi secara mendalam, maka semua bahasa itu sulit dipelajari.

Ronit mengajar bahasa Indonesia bagi mahasiswa Israel untuk tingkat pertama. Mata kuliah ini cuma satu kali sepekan. "Tahun ini ada sebelas orang mengambil mata kuliah bahasa Indonesia. Mungkin jumlah mahasiswa saya belajar bahasa Indonesia sekitar 30 orang selama empat tahun," tuturnya.

Meski sejumlah pejabat Israel mengklaim Indonesia sangat penting bagi negara Bintang Daud itu, namun belum perhatian khusus dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terhadap apa yang sedang dilakukan Ronit: mengajar sekaligus menyebarluaskan bahasa Indonesia di Israel.

Menurut dia, para mahasiswa Israel itu mengambil kuliah bahasa Indonesia karena memang sangat ingin mengetahui tentang negeri di khatulistiwa ini. Namun sampai saat ini, dia mengakui belum memiliki resep jitu agar mahasiswanya bisa cepat memahami bahasa Indonesia.

Sambil mengajarkan bahasa, Ronit juga mengenalkan sejarah dan budaya Indonesia kepada para mahasiswanya. Saban akhir tahun, dia mengajak semua mahasiswanya menyantap makanan Indonesia di rumahnya. Dia mengaku bisa memasak beberapa menu Indonesia, seperti nasi kuning atau tahu dan tempe goreng. "Belajar bahasa bukan hanya untuk tahu bahasa saja, tetapi sebagai pintu untuk mengerti dan kenal dengan penduduk dan kebudayaan bangsa lain," kata Ronit.   

Dia mengungkapkan tahu sangat mudah diperoleh di Israel, namun tempe sangat sulit dicari. Beruntung dia mengenai seorang warga Israel bisa membikin tempe sendiri karena belajar saat tinggal di Jepang. "Sekarang tiap bulan saya memesan tempe segar dari dia," ujarnya.

Ronit juga tidak lupa mengenal bahasa, sejarah, dan budaya Indonesia kepada keluarganya. Ketika tinggal di Yogya, anak-anaknya lancar berbahasa Indonesia karena masuk sekolah taman kanak-kanak di sana. Kalau ada waktu senggang, Ronit mencari menu masakan Indonesia lewat Internet untuk dipraktekkan di rumah dan hasilnya dinikmati bareng keluarga. Sebagai vegetarian, Ronit menyukai masakan Indonesia berupa gado-gado dan gudeg.

Lidah Ronit bukan sekadar lancar berbahasa Indonesia tetapi juga terbiasa mengecap masakah khas Indonesia. 

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, anak pengungsi Suriah tinggal bersama orang tuanya di sebuah kamp di Distrik Zajla, Lembah Bekaa, Libanon. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Derma Zionis buat pemberontak Suriah

Jumlah senjata dan dana diberikan Israel kepada para pemberontak Suriah kecil ketimbang bantuan diberikan negara-negara lain, termasuk Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat.

Seorang anak penderita kolera di Yaman tengah dirawat. (Al-Jazeera)

Kehormatan Ramadhana martabat Yaman

Mufti Agung Yaman Syekh Syamsuddin telah menyerukan kepada rakyat Yaman untuk berjihad mengusir invasi pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi itu.

Syekh Mansur bin Zayid an-Nahyan, pemilik Manchester City. (Luxatic)

Fulus Syekh Mansur sukses City

Selama satu dekade terakhir, Syekh Mansur sudah menghabiskan sekitar US$ 1,5 miliar untuk mengakhiri dominasi tim sekota, Manchester United.

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Derma Zionis buat pemberontak Suriah

Jumlah senjata dan dana diberikan Israel kepada para pemberontak Suriah kecil ketimbang bantuan diberikan negara-negara lain, termasuk Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat.

12 September 2018

TERSOHOR