kisah

Kenangan pahit di negara Syam

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

16 April 2018 23:55

Tujuh tahun bukan waktu singkat bagi sekitar 17 juta rakyat Suriah. Selama itu pula, air mata dan darah tumpah di bumi Syam. 

Perang antara pasukan pemerintah Suriah dengan sokongan Rusia, Iran, Hizbullah, dan milisi Syiah lainnya menghadapi kaum pemberontak dukungan Amerika Serikat, Israel, serta sejumlah negara Arab Teluk telah memaksa lebih dari sebelas juta orang Suriah mengungsi di dalam dan negara-negara tetangga, termasuk Yordania, Libanon, Turki, dan Irak.

Tentu saja amat pahit rasanya bagi para pengungsi lantaran harus meninggalkan kampung halaman mereka luluh lantak oleh kebiadaban mesin-mesin perang. Kenangan mereka pun lenyap. 

Meski begitu, beberapa pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Qab Ilyas, Libanon, ingin anak-anak mereka mengenal negeri leluhurnya sebelum perang meletup pada Maret 2011: indah dan penuh dengan beragam warisan peradaban dunia, seperti di Palmyra dan Aleppo.

Anak-anak kini tinggal di kamp pengungsi, bahkan ada yang dilahirkan di sana, hanya mengetahui sedikit mengenai negara asal mereka. Namun bukan perkara gampang buat mengenalkan Suriah sebelum perang kepada anak-anak pengungsi. 

Suriah sekarang penuh dengan kekerasan dan penderitaan, bukan lagi perdamaian serta keceriaan. 

Musa Uwaid, pengungsi Suriah menetap di kamp Qab Ilyas, mengakui putri bungsunya tidak tahu apa-apa tentang tanah airnya. 

"Dia tidak tahu apa-apa kalau kami tidak bilang di depan dia, kita berasal dari Suriah," kata Uwaid. "Dia tidak tahu kalau ditanya berasal dari mana."

Karena itulah, Uwaid ingin kembali ke Suriah untuk mengenalkan anak-anaknya kepada tanah air mereka. Tapi dia mengakui bingung bagaimana cara menunjukkan Suriah sebelum perang kepada penerusnya. 

Lain halnya dengan Wardah, janda tinggal bersama anak-anaknya di kamp Qab Ilyas. Dia tidak ingin balik ke Suriah dan ingin melupakan negeri kelahirannya itu.

"Walau sulit, saya ingin melupakan rumah saya, melupakan teman-teman saya, melupakan Suriah, melupakan segalanya," ujar Wardah. 

Perang memang cuma menyisakan kenangan pahit bagi pelaku dan korban.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bersua Mustafa di Lembah Bekaa

Di akhir lawatannya, seperti biasa Dato Tahir berdoa memohon kebaikan bagi Mustafa sekeluarga dan seluruh pengungsi Suriah.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir didampingi Duta Besar Indonesia buat Yordania berbincang dengan keluarga Isa Saleh, pengungsi Suriah asal Palmyra di kamp Azraq, Yordania, 10 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Kenangan hambar di kamp Azraq

Di sanalah, seperti tahun lalu, sinterklas Suriah dari Indonesia ini merayakan ulang tahunnya ke-66.

Seorang lelaki memegang elang di resor di gurun Al-Maha, Dubai. (weekenduae.com)

Sandera ningrat Qatar dan konflik Suriah

Pembebasan 26 pangeran Qatar diculik di Irak terkait pertukaran penduduk Syiah dan Sunni di Suriah. Qatar membayar tebusan jutaan dolar Amerika.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir pada 3 April 2017 mengunjungi keluarga Abu Muhammad, pengungsi asal Suriah kini menetap di kamp Azraq, Yordania. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Harap syahid puja Yesus

Muhammad mengaku lebih tenang setelah membaca Injil ketimbang Al-Quran.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018

TERSOHOR