kisah

Sapa Muqtada

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak.

21 Mei 2018 23:55

Ulama nasionalis Muqtada as-Sadr secara mengejutkan mampu memenangi pemilihan umum Irak, digelar pada 12 Mei lalu, dengan mengangkat sentimen anti-Iran dan isu korupsi di kalangan elite politik.

Komisi Pemilihan Umum Irak Sabtu pekan lalu mengumumkan hasil pemilihan. Aliansi Sairun dipimpin Sadr merebut 54 kursi parlemen. Disusul blok Al-Fatih dikomandoi oleh Hadi al-Amiri (47 kursi) dan Aliansi Kemenangan diketuai oleh Perdana Menteri Haidar al-Abadi (42 kursi).

Sadr satu-satunya pemimpin Syiah Irak menentang Iran dan Amerika Serikat, sikap membikin dia tersohor di kalangan jutaan warga miskin Syiah karena mereka merasa tidak diuntungkan oleh kedekatan pemerintah dengan Teheran atau Washington.

Keberhasilannya dalam pemilihan umum merupakan pukulan telak bagi Iran, terus meningkatkan pengaruhnya di Irak sejak invasi Amerika menumbangkan rezim Saddam Husain pada 2003.

Sukses itu adalah kebangkitan fantastis bagi Sadr, selama bertahun-tahun disingkirkan para pesaing sokongan Iran. Dengan tetap meminggirkan Iran, dia mampu menggaet kaum Syiah papa dan warga Sunni terpinggirkan, serta bisa memperbaiki hubungan dengan kalangan Sunni.

Ketika kabar kemenangannya menyebar Sabtu pekan lalu, sebagian pemujanya merayakan di Ibu Kota Baghdad seraya meneriakkan slogan "Keluarlah Iran."

"Irak itu kaya, negara ini tidak butuh dukungan Iran," kata Muhammad Sadiq, pedagang di Kota Hilla memilih alon anggota parlemen dari koalisi Sairun dipimpin Sadr. "Irak bisa berdiri sendiri dan sejahtera, hanya perlu diurus dengan baik."

Sadr, 44 tahun, memang tidak dapat menjadi perdana menteri lantaran tidak ikut mencalonkan diri menjadi anggota parlemen dalam pemilihan umum lalu, tapi dia berperan penting untuk menentukan siapa pantas mengisi jabatan itu.   

Amerika dan pemerintah sudah lama menganggap Sadr sebagai tokoh sulit ditebak. Seorang diplomat Barat, bertemu Sadr di vilanya di Kota Najaf Maret lalu setelah Blok Sairun dibentuk, menggambarkan sang tokoh pujaan itu sebagai penyusun, pandai bicara, dan pragmatis.

Dia bilang Sadr, biasanya berwajah kaku, bercanda soal cincin dikenakan diplomat Barat itu. "Dia lalu memperlihatkan kepada cincin bergambar ayahnya."

Sadr tadinya tidak dikenal masyarakat internasional sebelum invasi Amerika ke Irak pada 2003. Namun tidak lama sehabis itu, dia menjadi simbol perlawanan rakyat Irak terhadap pasukan asing. Pengaruhnya merupakan warisan dari keluarganya.

Dia adalah putra dari Ayatullah Agung Muhammad Sadiq as-Sadr, dibunuh karena menentang rezim Saddam Husain. Sepupu ayahnya, Muhammad Baqir, juga dibunuh oleh Saddam pada 1980.

Sadr adalah orang pertama membikin milisi Syiah untuk melawan pasukan Amerika, lantaran dinilai menjajah setelah membebaskan Irak dari kekuasaan Saddam. Pentagon menyebut Pasukan Mahdi dipimpin Sadr sebagai ancaman terbesar atas keamanan Irak.

Para pejabat Amerika dan pemimpin Arab Sunni menuding Pasukan Mahdi mendalangi konflik sektarian di Irak. Sadr membantah tuduhan itu.

Sadr selalu menggambarkan dirinya sebagai nasionalis tanpa kompromi. Dia memandang rendah tokoh-tokoh oposisi lain pulang ke Irak dari Iran setelah rezim Saddam tumbang. Padahal figurifigur lain tetap bertahan dan tidak lari ke negara lain.

Pada 2004, Amerika mengeluarkan surat perintah penangkapan buat Sadr atas tuduhan membunuh ulama Syiah moderat Abdul Majid al-Khoi pada 2003, tapi Sadr tidak pernah diadili.

Citranya sebagai pahlawan berhasil menggaet banyak dukungan dalam pemilihan umum lalu. "kami tidak akan membiarkan rakyat Irak menjadi sasaran meriam untuk perang dilakoni negara lain atau dipakai sebagai perwakilan dari perang dilakukan di luar Irak," tutur Jumah Bahadili, anggota parlemen Irak dari gerakan Sadri akan mengakhiri masa jabatannya.

Dengan sorban di kepala sebagai ciri khas, Sadr dengan mudah mampu menggerakkan ribuan pengikutnya untuk turun ke jalan.

Pada 2016, ratusan pengikut Sadr menyerbu gedung parlemen Irak di kawasan superketat Green Zone, Baghdad, setelah dia mengecam politisi karena gagal mengubah sistem kuota politik dan memberantas korupsi.

Dia lalu mengeluarkan ultimatum. "Kalau masih ada pejabat korup dan sistem kuota berlaku, seluruh pemerintahan akan dijatuhkan tanpa kecuali."

Untuk kepentingan pemilihan umum telah berlalu, Sadr membentuk Aliansi Sairun dengan kaum komunis dan sekuler. Dia ingin membangun pemerintahan berisi para teknokrat independen untuk memerangi korupsi. Blok Sairun ini berfokus untuk membangun infrastruktur dan menyediakan layanan kesehatan serta pendidikan bagi orang-orang miskin.

Sadr sudah bangkit lagi setelah bertahun-tahun disingkirkan para pesaingnya didukung Iran. Dua di antaranya dijagokan menjadi perdana menteri setelah pemilihan umum digelar pada 12 Mei lalu.

Hadi al-Amiri, dipandang sebagai perwakilan Iran di Irak dan dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh di negara Dua Sungai ini. Satunya lagi adalah Nuri al-Maliki, pernah menjabat perdana menteri selama delapan tahun, sebelum digantikan oleh perdana menteri saat ini Haidar al-Abadi.

Ketenaran Sadr terus meroket bukannya tidak menjadi perhatian Iran.

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei, Februari lalu bilang Teheran akan mencegah Sadr dan aliansi politiknya memerintah Irak. "Kami tidak akan membiarkan orang-orang liberal dan komunis berkuasa di Irak," katanya dalam sebuah konferensi di Irak.

Irak, terletak di jantung Teluk Persia, amat penting buat Iran. Irak adalah jalur utama bagi Iran untuk memasok senjata dan pejuang buat membela rezim Basyar al-Assad dalam perang di Suriah.

Takdir berkata lain. Setelah pemilihan umum digelar, rakyat Irak bakal menyapa perdana menteri dicalonkan Muqtada Sadr.

Ali Khamenei (kiri) saat Perang Iran-Irak. (Wikipedia)

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

Basrah pada 1913, dipotret oleh pengusaha Swedia bernama Arne C Waern. (Wikimedia Commons)

Kanal Basrah, riwayatmu dulu

Di awal abad ke-20, tepian kanal-kanal di Basrah - menjadi pintu keluar menuju Teluk Persia - dihuni orang-orang Yahudi, Nasrani, dan muslim dengan damai.

Sheikha Latifa, daughter of Dubai Emir Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum, with her Finnish friend, Tiina Jauhiainen. (@detainedindubai for Albalad.co)

Nestapa Syekha Latifah

Bahkan sepanjang hidupnya, Syekha Latifah baru sekali keluar Dubai, yakni saat kabur tahun ini.

Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Muhamnad bin Abdurrahman ats-Tsani. (Saudi Gazette)

Duit sebukit tebusan pangeran

Uang tebusan untuk pembebasan rombongan pemburu asal Qatar itu sebesar US$ 1 miliar ditambah US$ 150 juta.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Saat Iran dan Israel masih bersahabat

Iran memasok minyak dan balasannya Israel menyuplai senjata.

01 Agustus 2018
Nestapa Syekha Latifah
25 Juli 2018

TERSOHOR