kisah

Duit sebukit tebusan pangeran

Uang tebusan untuk pembebasan rombongan pemburu asal Qatar itu sebesar US$ 1 miliar ditambah US$ 150 juta.

20 Juli 2018 09:10

Rabu pagi, 16 Desember 2015. Keluarga kerajaan Qatar mendapat kabar buruk: rombongan berburu pangeran beranggotakan 28 orang diculik di Irak.

Daftar sandera sudah diberikan kepada Syekh Muhammad bin Abdurrahman ats-Tsani, kemudian menteri luar negeri Qatar. Dia akhirnya mengetahui korban penyekaapan itu termasuk dua kerabatnya.

"Jassim adalah sepupu saya dan Khalid merupakan suami dari bibi saya," kata Syekh Muhammad melalui pesan singkat kepada Duta Besar Qatar untuk Irak Zayid al-Khayarin. "Semoga Allah selalu melindungi Anda. Kalau ada perkembangan apa saja, segera beritahu saya."

Kedua pejabat ini menghabiskan 16 bulan untuk mengupayakan pembebasan 28 warga Qatar itu. Mereka berkomunikasi lewat pesan singkat.

Negara Arab supertajir itu membayar uang tebusan lebih dari US$ 1 miliar sehingga mereka dilepaskan. Fulus sangat besar ini diberikan kepada kelompok dan individu dicap teroris oleh Amerika Serikat: Kataib Hizbullah di Irak, komandan Brigade Quds Garda Revolusi Iran jenderal Qasim Sulaimani, Hayat Tahrir asy-Syam (dikenal sebagai Jabhat an-Nusrah saat mash berafiliasi dengan Al-Qaidah).

Tapi cerita versi Qatar berbeda. Tidak ada uang tebusan buat teroris. Duit sebukit itu untuk pemerintah Irak.

Bahkan uang ini masih berada di Bank Sentral Irak setelah semua sandera kembali ke rumah masing-masing.

Syekh Muhammad adalah mantan ahli ekonomi dan masih kerabat jauh Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani. Dia tidak begitu dikenal sebelum dipromosikan menjadi menteri luar negeri di suia 35 tahun.

Ketika penculikan terhadap rombongan pemburu asal Qatar itu terjadi, Duta besar Zayid berumur 50-an tahun. Dia terakhir berpangkat kolonel dan bertugas di badan intelijen Qatar. Dia adalah duta besar pertama Qatar untuk Irak dalam 27 tahun terakhir, meski negara Dua Sungai itu dianggap tidak terlalu penting.

Rombongan asal Qatar itu datang ke Irak untuk berburu burung Hasbara dengan menggunakan elang di selatan Irak.

Rabu dini hari, 16 Desember 2015, ssekitar seratus lelaki bersenjata senapan mesin menumpang truk-truk terbuka menyerbu tenda mereka di tengah gurun.

Selama hampir tiga bulan tidak ada kabar apapun dari penculik. Baru pada 13 Maret 2016, pemerintah Qatar mengetahui penyandera berasal dari Kataib Hizbullah, milisi Syiah di Irak sokongan Iran.

Lima hari kemudian, Kataib Hizbullah menawarkan melepas tiga tawanan dulu. "Mereka ingin melihat itikad baik dari kita," ujar Zayid kepada Syekh Muhammad. "Itu pertanda baik...mereka kelihatannya ingin buru-buru mengakhiri penyanderaan ini."

Kelompok bersenjata ini cuma mau duit. "Saya bilang kepada mereka, 'Bebaskan 14 orang dulu...dan kami akan memberi setengah dari jumlah fulus kalian minta,'"tulis Duta Besar Zayid dalam pesan singkatnya kepada Syekh Muhammad, pada 18 Maret 2016. Ketika itu, belum diketahui berapa uang tebusan diminta.

Dua hari berselang, Zayid berada di Zona Hijau, kawasan elite berisi kantor pemerintah dan kedutaan besar asing dijaga sangat ketat oleh aparat keamanan Irak.

Saat itu, situasi politik di Irak memanas. Para pengikut ulama muda Syiah berpengaruh, Muqtada Sadr, getol berunjuk rasa di gerbang Zona Hijau, menuntut pemerintah serius memberantas wabah korupsi.  

Itu kali ketiga Zayid ke Zona Hijau untuk urusan pembebasan sandera warga Qatar. Tapi penculik muncul bukan dengan tawanan mereka, tapi sebuah stik penyimpanan data USB. Isinya rekaman video salah satu warga Qatar disekap.

Zayid lantas melapor lagi kepada Syekh Muhammad lewat pesan singkat pada 22 Maret 2018. "Apa jaminan kita akan mendapatkan semua sandera dalam keadaan selamat?' tanya Syekh Muhammad. "Hapus video itu dari telepon Anda...Pastikan tidak bocor ke siapapun.

Zayid mengiyakan seraya bilang, "Kita tidak ingin keluarga melihat video itu dan mempengaruhi emosi mereka."

Penculik membagi sandera dalam dua grup. Para pangeran Qatar disekap dalam ruang bawah tanah tanpa jendela. Sedangkan warga Qatar bukan keluarga kerajaan dan orang non-Qatar ditawan di tempat lain dan memperoleh perlakuan serta makanan lebih baik.

Seorang pejabat Qatar mengungkapkan para pangeran itu dipindahkan saban dua atau tiga hari. Tapi mereka tetap disandera dalam ruang bawah tanah. Hanya satu Al-Quran diberikan untuk dibaca bergantian.

Hampir selama 16 bulan mereka disekap tanpa pernah mengetahui kejadian apa saja di luar sana.

Rupanya Kataib Hizbullah menambah tuntutan mereka selain fulus. Mereka mendesak Qatar segera keluar dari pasukan koalisi dipimpin Arab saudi tengah memerangi pemberontak Syiah Al-Hutiyun di Yaman. Qatar juga diminta membebaskan tentara-tentara Iran ditahan pemberontak di Suriah.

Di samping itu, para komandan milisi ingin bagian terpisah masing-masing.

Sehabis sebuah perundingan, juru runding dari Kataib Hizbullah, Abu Muhammad, mengajak Zayid berbicara berduaan. Dia minta jatah US$ 10 juta. Untuk memotivasi Abu Muhammad agar segera melepaskan semua sandera, Zayid juga menjanjikan membeli sebuah apartemen untuk Abu Muhammad di Libanon.

Zayid memakai dua mediator orang Irak berpaham Sunni. Ternyata keduanya pernah menemui menteri Luar Negeri Qatar Syekh Muhammad bin Abdurrahman ats-Tsani untuk meminta uang tunai masing-masing US$ 150 ribu dan lima jam tangan mewah bermerek Rolex. "Dua bertipe paling mahal dan tiga lagi jenis standar.

Pada April 2016, muncul kabar dari Qasim Sulaimani. Zayid melapor lagi kepada Syekh Muhammad melalui pesan singkat. "Sulaimani bertemu dengan para penyandera kemarin dan menekan mereka untuk menuntut uang tebusan US$ 1 miliar."    

"Mereka ingin memaksa kita segera memenuhi tuntutan mereka itu. Kita harus tetap tenang dan tidak perlu terburu-buru," kata Zayid lagi. Namun dia meminta Syekh Muhammad segera menyiapkan uang tunai diminta itu.

Tujuh bulan berlalu tanpa perkembangan. Pada November 2016, Sulaimani menuntut Qatar membantu pertukaran penduduk di empat kota kecil di Syuriah. masing-masing dua kota Sunni dan Syiah.

Dua kota dihuni mayoritas orang Sunni dikuasai pemberontak tengah dikepung pasukan pemerintah Basyar al-Assad. Sedangkan dua kota berpenduduk Syiah berada dalam kepungan kelompok Salafi sokongan Qatar. Sesuai kesepakatan, kepungan di empat kota kecil itu diakhiri dan semua penduduk ditukar.

Sulaimani, menurut Zayid, sudah mengatakan kepada kataib Hizbullah, akan sangat memalukan kalau masih meminta uang dari Qatar setelah kesepakatan pertukaran dua penduduk itu terjadi.

Tapi Hizbullah dan kataib Hizbullah tetap meminta jatah. "Mereka memanfaatkan situasi ini...karena mereka tahu penyekapan akan segera diakhiri...mereka semua maling," ujar Zayid kepada Syekh Muhammad.

Pada Januari 2017, disebutkan uang tebusan untuk pembebasan rombongan pemburu asal Qatar itu sebesar US$ 1 miliar ditambah US$ 150 juta.

Akhirnya penyekapan itu berakhir pada April 2017 setelah sebuah pesawat kargo dari Qatar membawa fulus bertas-tas mendarat di Ibu Kota Baghdad. Menteri dalam negeri Irak menunggu kedatangan uang itu di bandar udara. pejabat intelijen Qatar Jassim bin Fahad ats-Tsani juga hadir.

Tapi tiba-tiba masuk sekelompok pria bersenjata tanpa seragam militer. Sang menteri disuruh pergi. "Kami tidak tahu siapa mereka. Menteri dalam negeri Irak diusir," tutur seorang pejabat Qatar.

Dalam jumpa pers kemudian, Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi menjelaskan semua uang itu berada dalam kontrol pemerintah.

Kesepakatan pun dilaksanakan. Sekitar lima ribu orang dari dua kota Sunni dievakuasi. beberapa hari kemudian, tiga ribu warga Syiah juga dipindah.

Sehabis itu, satu pesawat Qatar Airways menjemput 28 orang, termasuk sembilan pangeran Qatar, telah dibebaskan. Duit sebukit menjadi uang tebusannya.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.

Wartawan pengkritik Arab Saudi Jamal Khashoggi. (Twitter)

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

Pangeran Sultan bin Turki (Hugh Miles)

Jejak gelap pengkritik penguasa negara Kabah

Sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni lalu, Arab Saudi kian getol menangkapi para pembangkang, termasuk ulama.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR