kisah

Kanal Basrah, riwayatmu dulu

Di awal abad ke-20, tepian kanal-kanal di Basrah - menjadi pintu keluar menuju Teluk Persia - dihuni orang-orang Yahudi, Nasrani, dan muslim dengan damai.

27 Juli 2018 18:00

Angin musim kering membawa asap hitam berasal dari sebuah bak sampah. Sepasang manusia melintasi jembatan di atas kanal kondisinya memilukan: dipenuhi tumpukan sampah.

"Silakan memotret. Tunjukkan kepada dunia seperti apa kondisi Basrah sekarang," kata seorang lelaki seraya menutup kedua lubang hidungnya.

Para pelancong asing dulunya kerap datang ke Basrah, dijuluki Venice dari Timur, merujuk pada Kota venice di Italia dikenal dengan kanal-kanal bersih dan indah. Tapi kini Basrah berubah.

Dibangun antara abad ke-16 dan abad ke-19, ketika Irak dikuasai Kesultanan Usmaniyah, kanal-kanal di Basrah menggaet banyak wisatan Arab di abad ke-20.

Tapi keelokan itu sudah lenyap. Sampah, botol-botol plastik, pembalut bekas, dan kotoran binatang gampang terlihat mengambang di aliran air kanal tercium busuk.

"Dulu, saya biasa minum dari air kanal," ujar Ali Kadum, 85 tahun.

Padahal 95 persen pendapatan Irak berasal dari ekspor minyak dari Basrah. "Tapi kota ini paling buruk kondisinya," ujar Caecilia Pieri, mantan kepala penelitian perkotaan di the French Institute of the Near-East (IFPO), kepada Middle East Eye.

Ketika suhu mencapai 50 derajat Celcius, protes meletup di Basrah pada 8 Juli, lalu menyebar ke utara hingga Ibu Kota Baghdad. Pengunjuk rasa mengecam buruknya layanan sipil, termasuk masalah sampah, kelangkaan air dan energi, tingginya angka pengangguran, dan mewabahnya korupsi.

Demonstrasi ini mengakibatkan sediktinya 16 orang tewas dan ratusan lainnya luka serta ditahan.

Ahad pekan lalu, Dewan Perwakilan Rakyat provinsi Basrah mengumumkan bakal mengajukan petisi ke pemerintah pusat untuk menjadi daerah otornomi seperti Kurdistan di utara Irak.

Buat menenangkan kemarahan warga, Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi menjanjikan sebuah paket penyelesaian, termasuk membuka  sepuluh ribu lowongan pegawai negeri dan investasi senilai US$ 3 miliar di Basrah.

Namun menurut Ibrahim al-Marasyi, profesor sejarah Irak di Universitas San Marcos, Negara Bagian California, Amerika Serikat, persoalan membelit Basrah sudah terjadi lama sebelum invasi Amerika ke Irak pada 2003. "Basrah tidak akan pernah pulih dari kehancuran akibat perang Iran-Irak dan satu dasawarsa sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa," tuturnya.

Di awal abad ke-20, tepian kanal-kanal di Basrah - menjadi pintu keluar menuju Teluk Persia - dihuni orang-orang Yahudi, Nasrani, dan muslim dengan damai.

Basrah dikenal sebagai penemu chanachil, jendela didesain untuk memberi lebih banyak sinar matahari masuk ke dalam rumah dan menawarkan pemandangan ke arah jalan tanpa terlihat dari luar.

Menurut Pieri, rumah-rumah tua peninggalan abad ke-19 masih berdiri di Basrah. Waktu itu, kapal-kapal besar masih berlayar di kanal-kanal ke arah Syatt al-Arab, sungai terbentuk karena penggabungan Furat dan Tigris.

Selama 1960-an hingga 1970-an, Basrah menjadi satu-satunya kota pelabuhan tersibuk di Irak dan paling maju karena hasil minyaknya. Kepincut oleh kualitas kehidupannya, banyak turis dari kawasan Arab teluk pelesiran ke Basrah saban akhir pekan.

"Basrah dulunya tenpat perayaan. Ada banyak pesta di atas kapal berlayar, diringi musik tradisional dan Barat," kata Khalil Saleh, penduduk asli Basrah berumur 68 tahun. "Orang-orang asyik menari dan minuman beralkohol bebas dijual."

Namun ketika Saddam Husain berkuasa pada 1979, situasi di Basrah berubah. Penindasan dan pemberontakan menghilangkan keragaman budaya di Basrah. Perang dengan Iran dan perang di Kuwait merusak warisan sejarah di kota itu.

Pada 1990-an, Saddam membikin keputusan mengerikan. Dia memerintahkan kanal-kanal di Basrah dikeringkan sebagai hukuman bagi para penentangnya. Kebijakan inilah memicu perindahan besar-besaran warga Irak ke Basrah. "Para pemukim baru ini tidak peduli soal sejarah Basrah," ujar kadum.

Sejak invasi Amerika pada 2003, tidak ada satu kanal pun diperbaiki di Basrah. Qahtan al-Abid, direktur urusan Basrah di Dewan Kepurbakalaan dan Warisan Sejarah Irak, bilang tidak ada dana dari pemerintah buat memelihara dan merenovasi kanal-kanal di Basrah.

Dia menambahkan banyak penghuni liar menemapti rumah-rumah di pinggiran kanal di Basrah. Mereka juga menolak proyek renovasi kanal.

Di sepanjang pinggiran kanal di Basrah, terdapat 150 bangunan bersejarah dalam keadaan baik dan 400 lainnya dalam kondisi rusak sedang serta parah. "Banyak bangunan bersejrah hilang dari hari ke hari," tutur Qahtan.

Pada 2007, seorang kolega Qahtan terbunuh ketika mereka berupaya mengambil alih bangunan bekas gedung Konsulat Yunani. "Para penghuni liar menembaki kami karena kami ingin mengusir mereka."

Kanal-kanal tua di Basrah kian memprihatinkan. Kotor dan bau sehingga mengundang tikus dan kecoa menghuni di sana. "Kita tidak dapat hidup seperti ini lagi," kata Abdul Hamid Talal, pemilik toko di tepi kanal.

Seperti ribuan orang lainnya, dia minta perbaikan segera bukan sekadar janji.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.

Wartawan pengkritik Arab Saudi Jamal Khashoggi. (Twitter)

Lika-liku pembunuhan Jamal Khashoggi

"Kami mengetahui kapan Jamal (wartawan Saudi Jamal Khashoggi) dibunuh, di ruangan mana dia dibunuh, dan di mana mayatnya dibawa untuk dimutilasi,"

Pangeran Sultan bin Turki (Hugh Miles)

Jejak gelap pengkritik penguasa negara Kabah

Sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni lalu, Arab Saudi kian getol menangkapi para pembangkang, termasuk ulama.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Sentuhan Zionis dalam Perang Yaman

Israel secara rahasia menjual senjata dan amunisi kepada Arab Saudi, termasuk bom fosfor merupakan senjata terlarang.

21 November 2018
Nihil Jamal di Istanbul
05 Oktober 2018

TERSOHOR