kisah

Kehormatan Ramadhana martabat Yaman

Mufti Agung Yaman Syekh Syamsuddin telah menyerukan kepada rakyat Yaman untuk berjihad mengusir invasi pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi itu.

07 September 2018 09:12

Kejadiannya akhir Maret lalu. Ramadhana, ibu berasal dari keluarga miskin di Provinsi Hudaidah, Yaman, mengaku telahn diperkosa oleh seorang tentara bayaran asal Sudan.

Sudan termasuk dalam pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi untuk memerangi milisi Syiah Al-Hutiyun. Koalisi Saudi ini sudah menggempur Yaman sejak Maret 2015.

Dalam sejumlah wawancara sehabis peristiwa itu, Ramadhana bilang disergap ketika sedang mencari kayu bakar. Keluarganya tinggal dekat kamp militer Abi Musa al-Asyari di Distrik Al-Khaukha.

Dalam wawancara terakhir dengan Muhammad al-Masmari, penyair Yaman menetap di Amerika Serikat, Ramadhana bercerita dirinya langsung dipukul wajahnya dan diperkosa.

Dia sejatinya pergi mencari kayu bakar bareng perempuan lainnya. Seorang tentara bayaran dari Sudan lalu mencegat dan bertanya ke mana tujuannya. Saat itu, para perempuan lain sudah jalan meninggalkan dirinya.

"Dia kemudian memukul wajah saya dan menyeret saya ke dekat pepohonan. Di sanalah dia merenggut kehormatan saya," kata Ramadhana. Kejadiannya pada Kamis pukul empat sore."

Sehabis itu, beberapa wanita membawa Ramadhana ke dokter untuk diperiksa. Hasilnya, dia memang benar diperkosa.

Tapi pasukan Uni Emirat Arab (UEA) mendengar peristiwa itu setelah Ramadhana bercerita kepada sesepuh kampung dan tetangganya. Mereka turun tangan lalu membawa Ramadhana ke dalam kamp dan memaksa dia menandatangani surat. Isinya tiddak pernah ada perkosaan atas Ramadhana. Ramadhana datang bersama suaminya, namun dilarang masuk.

"Ketika saya masuk ke dalam kamp, saya mengenali tentara Sudan memperkosa saya," ujarnya. "Tapi pasukan UEA mengancam akan membawa saya ke UEA kalau menolak meneken surat menyatakan tentara Sudan itu tidak memperkosa saya."

Kabar pemerkosaan atas Ramadhana segera menyebar ke seantero Hudaidah. Semua warga Yaman muak dan murka. Kebencian mereka terhadap pasukan Arab Saudi dan UEA kian menjadi-jadi.

Kedua negara ini memang bertanggung jawab atas tragedi kemanusiaan di Yaman. Inisiatif mereka mencampuri urusan domestik telah mengakibatkan negara Ratu Balqis itu luluh lantak.

Perang meletup sejak Maret 2015 sudah menewaskan lebih dari sepuluh ribu orang, kebanyakan warga sipil. Lima juta anak kelaparan dan kekurangan gizi. Jutaan warga Yaman lainnya mengungsi.

Peraih Nobel Perdamaian asal Yaman, Tawakkul Karman, menyatakan akan menggugat Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman dan Putera Mahkota Abu Dhabi Syekh Muhammad bin Zayid an-Nahyan ke ICC (Mahkaman Kejahatan Internasional). Keduanya diyakini bertanggung jawab atas kejahatan perang dan kemanusiaan di Yaman.  

Mufti Agung Yaman Syekh Syamsuddin telah menyerukan kepada rakyat Yaman untuk berjihad mengusir invasi pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi itu.

Rakyat Yaman memang pantas murka sebab kehormatan Ramadhana adalah martabat Yaman.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

Foto raksasa mendiang Imam Khomeini tergantung di tembok sebuah bangunan dekat rumahnya di kawasan elite Jamaran di utara Ibu Kota Teheran, Iran, 31 Mei 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.

Rahaf Muhamnad al-Qunun, 18 tahun, gadis asal Arab Saudi kabur dari keluarganya dan ingin meminta suaka ke Australia. (Twitter)

Harap Rahaf

"Hidup di Arab Saudi seperti tinggal dalam penjara. Saya tidak bisa membikin keputusan sendiri," ujar Rahaf. "Bahkan soal rambut pun saya tidak boleh memutuskan sendiri."

Facebook menghapus artikel the New York Times soal gadis kelaparan di Yaman. (Al-Bawaba)

Facebook hapus artikel soal gadis kelaparan di Yaman

Sejatinya, artikel ini mengecam keterlibatan Arab Saudi dan UEA karena menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di Yaman.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

15 Februari 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR