kisah

Jejak gelap pengkritik penguasa negara Kabah

Sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni lalu, Arab Saudi kian getol menangkapi para pembangkang, termasuk ulama.

08 Oktober 2018 18:18

Jamal Khashoggi Selasa siang pekan lalu melangkah masuk ke dalam kompleks Konsulat Arab Saudi di Kota Istanbul, Turki, untuk mengambil dokumen diperlukan untuk pernikahannya.

Dia menyerahkan telepon selulernya kepada tunangannya, perempuan Turki. Dia bilang untuk minta tolong kalau dia tidak muncul lagi.

Berjam-jam dan hingga kabar ini dilansir, lelaki Arab Saudi itu tidak keluar juga. Muncul keyakinan wartawan pengkritik negara Kabah itu telah diculik dan diterbangkan ke Saudi.

Polisi Turki langsung menyelidiki raibnya Khashoggi. Mereka mengklaim Khashoggi tewas disiksa di dalam kantor Konsulat Saudi.

Meski menolak klaim itu, Arab Saudi sudah lama dikenal tidak membiarkan para pembangkangnya di dalam dan luar negeri hidup bebas. Ada yang diculik, dibunuh atau hilang secara misterius. Saudi membantah tuduhan-tuduhan ini.

Nasir as-Said salah satunya. Dia adalah pendiri APPU (Persatuan Rakyat Semenanjung Arab). Dia merupakan tokoh oposisi pertama dan tersohor bagi keluarga Bani Saud.

Nasir mulai melawan pemerintah Arab Saudi pada 1950-an, ketika dia meluncurkan program oposisi di radio. Dia kemudian pindah ke Yaman untuk mendirikan sebuah kantor cabang APPU sebelum ke Beirut pada 1979 di mana dia raib di sana.

Di tahun itu pula, Nasir mengelukan kelompok bersenjata mengambil alih Masjid Al-Haram di Kota Makkah. Keberadaan dan nasib Nasir tidak diketahui sampai kini, namun banyak mengira Saudi mendalangi penculikannya.

Lalu ada Pangeran Sultan bin Turki. Pada 2003, dia diculik dari Jenewa setelah secara terbuka menyerukan reformasi dilakukan di Arab Saudi. Kesaksian di pengadilan menyebutkan Pangeran Sultan dijebak dalam sebuah pertemuan di luar Jenewa. Saat itulah dia diangkut paksa menggunakan sebuah jet pribadi ke Arab Saudi.

Stafnya bersaksi di pengadilan Swiss, Pangeran Sultan pulang bukan atas kemauannya. Selama proses peradilan berlangsung pada 2016, direktur komunikasinya bilang duta besar Saudi untuk Swiss mendatangi kamar hotel dihuni Pangeran Sultan di Jenewa dan meminta semua orang keluar.

Riyadh membantah cerita itu dan menyatakan Pangeran Sultan kembali ke Arab Saudi untuk menyelesaikan persoalan akibat komentar-komentarnya antipenguasa.

Pangeran Sultan sempat dipenjara lalu dijadikan sebagai tahanan di hotel, kemudian dibebaskan.

Pangeran Sultan lantas kabur ke Jenewa dan pada 2016 mengajukan gugatan ke pengadilan atas penculikannya itu.

Nasib serupa dialami Pangeran Turki bin Bandar, mantan kepala polisi. Dia lari ke Paris karena sengketa warisan keluarga. Pada 2012-2015, dia mulai mengunggah rekaman video. Isinya menyerukan perubahan di Arab Saudi.

Keberadaannya sampai sekarang tidak diketahui. Sebuah surat kabar Maroko menyebutkan Maroko menahan pangeran pembangkang itu dan mendeportasi ke Riyahd atas permintaan Arab Saudi.

Pangeran Saud bin Saif an-Nasr juga hilang secara misterius lantaran getol mengkritik keluarga kerajaan melalui Twitter. Pada 2014, dia meminta hukuman mati dilaksanakan terhadap para pangeran Saudi menyokong kudeta atas Presiden Mesir Muhammad Mursi.

Setahun kemudian, dia mendukung dua surat terbuka menyerukan penggulingan Raja Salman bin Abdul Aziz. Dia akhirnya diterbangkan ke Arab Saudi dan tidak diketahui nasibnya.

Di dalam negeri, terutama sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni lalu, Arab Saudi kian getol menangkapi para pembangkang, termasuk ulama. Dua imam Masjid Al-Haram sudah ditahan dan tiga ulama tersohor - Syekh Salman al-Audah, Syek Awad al-Qarni, dan Syekh Dr. Ali al-Umari.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Anak Raja Salman utarakan niatnya bunuh Khashoggi pada 2017

Bin Salman mengungkapkan gagasannya itu kepada dua asisten kepercayaannya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Saudi raup Rp 1.487 triliun dari hasil kompromi dengan tersangka koruptor

Meski dilepas, mereka dilarang keluar negeri dan harus memakai gelang kaki sebagai alat pengawasan.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman dan CEO SoftBank Group Masayoshi Son usai penandatanganan nota kesepahaman di Kota New York, Amerika Serikat, 27 Maret 2018, buat membangun pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia. (Al-Arabiya/Supplied)

Lima pangeran Arab Saudi masih dilarang ke luar negeri

Bin Salman masih menyekap ibunya, Fahda al-Hathlin, dalam penjara bawah tanah di istana milik abangnya.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

15 Februari 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR