kisah

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.

31 Oktober 2018 11:28

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz, adik kandung dari Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz, kemarin kembali setelah mengasingkan diri dalam waktu cukup lama di Ibu Kota London, Inggris. Dia berani pulang lantaran ada jaminan keamanan dari Amerika Serikat dan Inggris.

Lelaki 76 tahun ini pulang dengan misi melengserkan Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman atau mencari orang cocok sebagai calon penguasa negara Kabah berikutnya.

Setelah pembunuhan wartawan surat kabar the Washington Post Jamal Khashoggi di dalam Konsulat Arab Saudi di Kota Istanbul, Turki, 2 Oktober lalu, citra Saudi tercoreng. Keluarga kerajaan meyakini putera mahkota bertanggung jawab. Sebab tujuh dari 15 pelaku adalah pengawal Pangeran Muhammad bin Salman.

Pangeran Ahmad secara terbuka mengkritik keponakannya itu. "Dia dan anggota keluarga lainnya menyadari MBS (Muhammad bin Salman) telah menjadi racun," kata seorang warga Arab Saudi dekat dengan Pangeran Ahmad kepada Middle East Eye.

Sejumlah kebijakan Bin Salman memang telah menggerus reputasi negeri Dua Kota Suci itu. Mulai dari Perang Yaman, blokade Qatar, hingga pembunuhan Khashoggi.

Sumber itu menambahkan Pangeran Ahmad ingin berperan dalam membikin perubahan di Arab Saudi, yakni untuk memilih pengganti Bin Salman. Dia akhirnya kembali ke Arab Saudi setelah berdiskusi dengan para pejabat Amerika dan Inggris.

"Mereka meyakinkan dia tidak akan dilukai dan mendorong dia untuk berperan menggulingkan Bin Salman," ujar sumber itu. Selain jaminan Barat, Pangeran Ahmad terlindungi karena posisi sebagai pangeran senior.

Ketika November tahun lalu Bin Salman menangkapi para pangeran pembangkang, tidak ada satu pun anak dari pendiri Arab Saudi, Raja Abdul Aziz, ditahan. Alasannya, mereka terlalu senior untuk menjadi sasaran.

Selama menetap di London, Pangeran Ahmad menggelar pertemuan dengan para pangeran Arab Saudi tinggal di luar negeri. Dia juga berkonsultasi dengan tokoh-tokoh di dalam Arab Saudi, juga memiliki keprihatinan serupa atas kelakukan Bin Salman. Hasilnya, Pangeran Ahmad didorong untuk merampas kekuasaan.  

Selain itu, terdapat tiga pangeran senior Arab saudi menyokong langkah Pangeran Ahmad. Mereka menduduki posisi penting di militer dan pasukan keamanan.

Washington juga ikut bersuara. Susan Rice, mantan Penasihat Keamanan Nasional dalam pemerintahan Barack Obama, menilai Amerika tidak bisa lagi berhubungan dengan Bin Salman mempunyai kekuasaan tidak terbatas. "Harus menjadi kebijakan Amerika untuk mengesampingkan putera mahkota buat menekan keluarga kerajaan mencari pengganti lebih mantap," tulis Susan dalam kolom the New York Times.

Sebelum Khashoggi dihabisi, rakyat Arab Saudi mengetahui Pangeran Ahmad membangkang terhadap Bin Salman. Dia menantang anak Raja Salman itu secara terbuka dalam tiga kesempatan.

Pertama pada 21 Juni 2017. Pangeran Ahmad termasuk dalam tiga anggota Dewan Kesetiaan menolak penunjukkan Bin Salman sebagai putera mahkota. Dia tidak ikut bersupah setia kepada pengganti Pangera Muhammad bin Nayif itu.

Kedua, saat Pangeran Ahmad menjamu Pangeran Abdurrahman bin Abdul Aziz di kediamannya. Di dalam rumah Pangeran Ahmad, hanya tergantung dua foto: mendiang Raja Abdul Aziz dan Raja Salman.

Ketiga bulan lalu, ketika Pangeran Ahmad mendekati warga Yaman dan Bahrain berunjuk rasa di luar rumahnya di London. Mereka meneriakkan slogan Bani Saud adalah keluarga penjahat.

Pangeran Ahmad bilang kepada demonstran, Raja Salman dan putera mahkota bertanggung jawab atas Perang Yaman. "Keduanya bertanggung jawab terhadap kejahatan perang di Yaman. Katakan kepada Muhammad bin Salman untuk mengakhiri perang," ujar Pangeran Ahmad.

Pangeran Khalid bin Farhan menegaskan keluarga kerajaan sangat merah terhadap Bin Salman. Dia meminta Pangeran Ahmad dan mantan Putera Mahkota Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz untuk mengubah semua keadaan. "Saya bisa katakan kami semua di bekalang keduanya dan mendukung mereka," tuturnya dalam wawancara khusus dengan Middle East Eye Mei lalu.      

Situasi dalam keluarga kerajaan kian mencekam. Pangeran Ahmad pulang dengan misi menyingkirkan Bin Salman. Pertanyaannya adalah apakah dia mampu seperti Raja Faisal melengserkan Raja Saud pada 1964.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman dan CEO SoftBank Group Masayoshi Son usai penandatanganan nota kesepahaman di Kota New York, Amerika Serikat, 27 Maret 2018, buat membangun pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia. (Al-Arabiya/Supplied)

Lima pangeran Arab Saudi masih dilarang ke luar negeri

Bin Salman masih menyekap ibunya, Fahda al-Hathlin, dalam penjara bawah tanah di istana milik abangnya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Teka teki nasib Bin Salman

Beragam kebijakan blunder dibikin oleh Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman membikin dia tidak pantas menjadi raja Arab Saudi.

Jamal Khashoggi, pengkritik pemerintah Arab Saudi. (Twitter)

Para senator senior Amerika yakin anak Raja Salman perintahkan habisi Khashoggi

"Kalau disidangkan, juri bisa memutuskan Bin Salman bersalah dalam 30 menit," tutur Bob Corker.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Kelompok pembangkang serukan Pangeran Ahmad rebut takhta Raja Salman

Pangeran Ahmad termasuk tiga orang menolak penunjukan Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni 2017.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.

16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR