kisah

Harap Rahaf

"Hidup di Arab Saudi seperti tinggal dalam penjara. Saya tidak bisa membikin keputusan sendiri," ujar Rahaf. "Bahkan soal rambut pun saya tidak boleh memutuskan sendiri."

07 Januari 2019 17:37

Seorang gadis asal Arab Saudi mengimpikan kebebasan berhasil kabur dari keluarganya ketika sedang pelesiran ke Kuwait pekan lalu. Dia kemudian terbang ke Thailand menumpang pesawat Kuwait Airlines.

Rahaf Muhammad al-Qunun, 18 tahun, mengaku keluarganya suka menyiksa dirinya dan dia ingin meminta suaka ke Australia.

Setibanya di Bandar Udara Suvarnabhumi, Ibu Kota Bangkok, seorang lelaki menunggu sambil membawa karton bertulisan namanya. Dia bilang bisa membantu Rahaf mendapatkan visa Thailand, lalu pergi membawa paspornya.

Pria itu lantas muncul lagi bersama beberapa orang, diyakini aparat keamanan Thailand dan seorang perwakilan dari maskapai Kuwait Airlines. Mereka mengatakan keluarganya sudah melaporkan kehilangan soal kehilangan Rahaf sehingga dia harus kembali ke Kuwait hari ini sekitar pukul sebelas waktu setempat.

Rahaf menegaskan dirinya tidak mau pulang lantaran takut dibunuh. "Mereka akan membunuh saya. Saya bahkan tidak bisa keluar dari hotel," katanya melalui telepon semalam dari sebuah hotel di Bandar Udara Suvarnabhumi.

Dia bercerita soal hidup terkekang di rumah orang tuanya di Hail, utara Arab Saudi. Ayahnya adalah pejabat di sana. Dia mengaku pernah dikurung dalam kamar selama enam bulan karena memotong rambutnya. Abangnya, sering memukuli dirinya.

Dia ingin lari lantaran tidak tahan lagi. "Hidup di Arab Saudi seperti tinggal dalam penjara. Saya tidak bisa membikin keputusan sendiri," ujar Rahaf. "Bahkan soal rambut pun saya tidak boleh memutuskan sendiri."

Di usia 16 tahun, dia mencoba bunuh diri. Karena keluarganya tidak berusaha menolong dirinya, saat itulah dia merencanakan untuk pergi.

Peluang itu datang Rabu lalu, saat keluarganya berlibur di Kuwait. Pada Sabtu pekan lalu, dia terbang ke Thailand, di mana dia sudah memesan kamatr hotel dan penerbangan lanjutan ke Australia.

Dia ingin meminta suaka ke negara Kanguru itu. Dia sudah janjian bertemu dengan temannya, sesama pengungsi Arab Saudi, tinggal di Sydney.

Kepala Badan Imigrasi Thailand Mayor Jenderal Surachate Hakparn membolehkan Rahaf tinggal sementara di hotel. Sore ini, dia dan pejabat dari UNHCR (Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi) bakal menemui Rahaf.

"Kami tidak akan mengirim dia ke kematian," tuturnya kepada wartawan. "Kami tidak bakal melakukan itu."

Kasus Rahaf menarik perhatian dunia setelah dia mengunggah rekaman video di akun Twitternya. "Mereka (keluarga saya) bakal membunuh saya lantaran saya mengumumkan sebagai penganut atheis," katanya. Mereka ingin saya salat dan bercadar. Saya tidak mau melakoni itu.

Rahaf masih berharap bisa mendapat suaka. "Saya ingin dilindungi di sebuah negara menghormati hak-hak saya dan mengizinkan saya hidup normal," ujarnya.

Perempuan Arab Saudi ini dtahan polisi setelah tidak berabaya dan berjilbab saat di sebuah jalan di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (alweeam.com.sa)

Perempuan Arab Saudi pergi berbelanja tanpa berjilbab dan berabaya

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman pernah bilang berabaya tidak wajib bagi kaum hawa Saudi.

Sinagoge Beith Shalom di Jalan Kayoon 4-6, Surabaya, Jawa Timur, pada 2007. (Jono David, HaChayim Ha Yehudim Jewih Photo Library)

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

Aplikasi Absyir membuat lelaki Arab Saudi dapat mengontrol pergerakan muhrimnya. (Twitter)

Lelaki Saudi bisa mengontrol muhrimnya lewat aplikasi Absyir

Lewat Absyir, pria Saudi bisa menentukan ke negara mana dan kapan muhrimnya bisa terbang serta pulang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.

04 Maret 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019

TERSOHOR