kisah

Fulus Kabah goyang Mullah

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil.

16 Januari 2019 22:30

Dalam wawancara sejam dengan stasiun televisi MBC dua tahun lalu, Pangeran Muhammad bin Salman - ketika itu masih menjabat wakil putera mahkota Arab Saudi, mengisyaratkan soal sokongan negara Kabah itu kepada pemberontak di Iran.

"Kami tidak akan menunggu sampai pertempuran berlangsung di Arab Saudi," kata Bin Salman, menduduki posisi putera mahkota sejak 21 Juni 2017. "Kami bakal mengupayakan palagan itu di Iran, bukan di Arab Saudi."

Arab Saudi memang sejak 1980-an mendukung pemberontakan dilakukan oleh Organisasi Mujahidin Iran, Mojahidin e Khalk e Iran (MEK). Organisasi dibentuk pada 1965 ini bertujuan menggulingkan rezim Mullah berkuasa di sana sejak 1979. MEK berideologi Islam dan sosialis.

Kepada Al-Bawaba, seorang mantan anggota MEK mengungkapkan Pangeran Turki bin Faisal, kala itu menjabat kepala badan intelijen Arab Saudi, dan mendiang Raja Abdullah, waktu itu belum menjadi putera mahkota, memasok tiga ton emas batangan, sedikitnya empat koper jam tangan Rolex pesanan khusus, sebuah kiswah kepada MEK.

Masud Khodabandeh, bekas kepala keamanan pimpinan MEK, menjelaskan soal jaringan penyelundupan dan pasar gelap dipakai Arab Saudi buat mendanai MEK secara rahasia.

Emas dan barang berharga lainnya dikirim dari Arab Saudi ke Baghdad. Komoditas itu kemudian dijual di pasar gelap melalui para pengusaha memiliku kaitan dengan Saudi. Fulusnya lalu ditransfer ke rekening-rekening kepunyaan MEK di luar negeri.

Pada 1989, Khodabandeh dan pemimpin MEK kala itu, Masud Rajavi, terbang ke Saudi dengan kawalan polisi rahasia Irak. "Rajavi melaksanakan umrah dan hal lainnya. Ketika kami mau pulang ke Irak, kami masing-masing diberi dua koper oleh Pangeran Abdullah. Isinya emas dan jam tangan Roelx," kata Khodabandeh kepada Al-Bawaba.

Jam-jam tangan Rolex itu pesanan khusus dengan ukiran wajah Raja Fahad bin Abdul Aziz.

Agar tidak dianggap milik pribadi, ukiran wajah Raja Fahad dihilangkan sebelum semua Rpelx dijual kepada para pengusaha di Amman.

Khodabandeh dan Rajavi juga dihadiahi sebuah kiswa (kain penututp Kabah). Biaya pembuatan sebuah kiswah mencapai US$ 5 juta. "Saya juga ditugaskan membawa emas-emas batangan itu dengan cara khusus," ujar Khodabandeh.

Dibantu dua orang Irak dan dua perwakilan pemerintah Arab Saudi, Khodabandeh menyelundupkan tiga truk berisi penuh emas batangan dari Arab Saudi ke Baghdad. Dia menduga satu truk berisi satu ton emas dengan total nilai ketiga truk berisi emas itu sebesar US$ 200 juta.

"Beberapa hari kemudian, saya membawa emas-emas itu ke Amman untuk dijual," tuturnya. "Kami mengenal sejumlah pengusaha dapat melakukan hal itu untuk mami dan mentransfer uang hasil penjualan ke rekening MEK di negara lain."

Khodabandeh menekankan fulus dari Saudi dipakai MEK untuk membeli kendaraan militer melalui para pengusaha di Amman. "Kami memborong banyak mobil Toyota semi militer dan logistik lain dibutuhkan," katanya.

Selama 1980-an dan 1990-an, MEK mendapat perlindungan dan sokngan dan Presiden Irak Saddam Husain. Dia memanfaatkan MEk sebagai sebuah pasukan paramiliter untuk agenda geopolitiknya, termasuk perang terhadap Kurdi dan Iran.

Selama Perang Iran-Irak pada 1980-1988, MEK membunuh ribuan tentara Iran. Karena itu mereka dianggap pengkhianat oleh rakyat negara Mullah itu.

Selain mendapat dana rutin dari Saddam, MEK juga kebagian jatah dari hasil penjualan minyak Irak ke Inggris. MEK mendapatkan fulus sangat banyak dari kegiatan pencucian uang di seluruh dunia.

Hasil investigasi FBI pada 2004 mengungkapkan dari Washington DC ke Tampa, Dallas, Los Angeles, dan bahkan London, Stockholm, serta Paris, MEK mengoperasikan sel-sel mengambil bagian dalam pencurian uang dan kegiatan amal palsu.

Untuk menyusupkan anggota-anggota MEK ke Amerika Serikat, saat itu MEK dinyatakan sebagai organisasi teroris, mereka memalsukan identitas dan dokumen imigrasi.

Pada 2012, Amerika menghapus MEK dari daftar organisasi teroris lantaran ingin menggunakan kelompok ini untuk membikin Iran tidak stabil. Amerika membayar US$ 20 juta kepada UNHCR (Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa) buat mengirim ribuan anggota MEK dari Irak ke Tirana, Albania. Washington juga memberikan dana kepada Albania buat membangun fasilitas semi militer bagi MEK.

Amerika juga sudah mengalokasikan US$ 10 juta untuk prgram derasdikalisasi bagi anggota-anggota MEK, namun pemerintahan Presiden Donald Trump telah menghentikan proyek ini.

"Ada sebuah perlawnaan bersemangat terhadap kekuasaan para Ayatullah," ujar Penasihat Keamanan Nasional Amerika John Bolton di sebuah aula besar dipenuhi anggota MEK dalam pertemuan tahunan mereka. "Dan pemberontakan itu berpusat di ruangan ini hari ini."

Pangeran Turki bin Faisal pun menyokong perjuangan MEK untuk meruntuhkan rezim Mullah di Iran. "Usaha kalian untuk melawan rezim ini sah dan perjuangan kalian untuk menyelamatkan semua ektor kehiduapan rakyat Iran ... dari penindasan Wilayatul Faqih, seperti dikatakan Nyonya Maryam Rajavi, adalah dibenarkan dan penting sekali," tuturnya dalam pertemuan tahunan MEK digelar di Paris pada 2007.

Khodabandeh bilang setelah Saddam dilengserkan, Pangeran Turki bin Faisal menjadi pendukung utama MEK. "Ia (MEK) berubah dari organisasi militer teroris menjadi sebuah mesin propaganda berbasis intelijen."   

Buku Son of Hamas karya Musab Hasan Yusuf, putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi Barat, Syekh Hasan Yusuf. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

Sinagoge Beith Shalom di Jalan Kayoon 4-6, Surabaya, Jawa Timur, pada 2007. (Jono David, HaChayim Ha Yehudim Jewih Photo Library)

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

Rahaf Muhamnad al-Qunun, 18 tahun, gadis asal Arab Saudi kabur dari keluarganya dan ingin meminta suaka ke Australia. (Twitter)

Harap Rahaf

"Hidup di Arab Saudi seperti tinggal dalam penjara. Saya tidak bisa membikin keputusan sendiri," ujar Rahaf. "Bahkan soal rambut pun saya tidak boleh memutuskan sendiri."





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

01 April 2019
Bertemu pemuka Yahudi
04 Maret 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR