kisah

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi

15 Februari 2019 12:25

Empat bulan setelah kematian Jamal Khashoggi, Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman akhirnya terbang ke luar negeri mulai besok. Tujuannya adalah Pakistan, Malaysia, Indonesia, India, Cina, dan Korea Selatan.

Keenam negara tujuan itu cenderung tidak peduli dengan kebrutalan dan pelanggaran hak asasi manusia dilakukan calon raja Saudi itu, mulai Perang Yaman, blokade Qatar, hingga pembunuhan Khashoggi. Bahkan Pakistan, Malaysia, dan Indonesia juga tidak bersuara mengenai penangkapan para pembangkang, termasuk lusinan ulama Saudi karena menolak beragam kebijakan kontroversial Bin Salman.

Hanya Turki, CIA (dinas rahasia luar negeri Amerika Serikat), dan Senat Amerika secara terbuka menyatakan keyakinannya pembunuhan Khashoggi - terjadi awal Oktober tahun lalu di kantor Konsulat Saudi di Kota Istanbul, Turki - atas perintah Bin Salman.

Sejatinya, beragam kebijakan kontroversial Bin Salman telah mengubah tatanan sosial dan memicu perseteruan antara kelompok konservatif dan liberal di Saudi. Bahkan perseteruan juga terjadi antara kedua kubu dan Bin Salman. 

Melalui Visi 2030, diluncurkan pada April 2016, Bin Salman memberikan kebebasan bagi kaum hawa untuk menonton sepak bola di stadion dan menyetir mobil atau mengendarai sepeda motor. Dia juga tidak mewajibkan perempuan Saudi berabaya dan bercadar di muka umum, cukup berpakaian sopan. 

Namun di sisi lain, Saudi memiliki aplikasi Absyir di iPhone, membuat kaum adam dapat mengontrol kebebasan perempuan buat berkegiatan dan bahkan bisa melacak keberadaan muhrimnya. 

Sebagian masyarakat Saudi menolak perubahan ini. Tahun lalu, segerombolan pemuda membakar mobil seorang ibu karena tidak suka melihat dia bekerja dan menyetir mobil. 

Tapi bagi kaum milenial, seperti Lina, kehadiran bioskop untuk saat ini baru di Riyadh dan Jeddah, konser Mariah Carey, menjadi impiannya selama ini. "Saya senang karena sekarang kami memiliki banyak alternatif hiburan," kata pelayan sebuah toko di Banda Udara Raja Abdul Aziz itu kepada Albalad.co Senin lalu. 

Tapi untuk kubu konservatif, kebebasan dibuat oleh Bin Salman telah merusak nilai-nilai dan kesucian Saudi, tempat di mana dua kota suci bagi umat Islam berlokasi.

Sebagian besar ulama Saudi berpaham Wahabi masih mengharamkan perempuan dan lelaki bukan muhrim berbaur di tempat umum. Musik dan film juga dianggap dosa. 

Ketidaksukaan terhadap perubahan tengah berlangsung di Saudi juga diamini ekspatriat dari negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Menurut Abbas, sopir taksi asal Pakistan, Saudi tidak pantas lagi disebut sebagai pemimpin negara muslim. 

"Bin Salman sudah mengotori Saudi. Bahkan sekarang sudah ada kasino di Riyadh dan Jeddah," ujar ayah lima anak sudah lima tahun bermukim di Saudi ini kepada Albalad.co dalam perjalanan ke bandar udara. 

Reformasi ekonomi juga memakan korban bagi warga Saudi dan ekspatriat. Melalui program privatisasi, negara Kabah itu mengurangi subsidi energi dan air, sehingga memaksa rakyat Saudi berhemat. Penguasa berusaha mencegah gejolak dengan memberikan bantuan uang tunai saban bulan. 

Program Saudisasi memaksa ekspatriat meninggalkan negeri Dua Kota Suci itu. Sebab Saudi mewajibkan sejumlah sektor mempekerjakan 70-100 persen warga Saudi, termasuk di sektor retail.

Pajak seratus riyal diterapkan kepada tiap ekspatriat dan orang-orang mereka tanggung kian membebani para pekerja asing di Saudi. Perusahaan-perusahaan mempekerjakan ekspatriat juga dikenai pajak serupa. 

Kebebasan dibuka ternyata bersifat semu. Sejak Bin Salman diangkat menjadi putera mahkota pada 21 Juni 2017, Saudi getol menangkapi orang-orang menolak kebijakan penguasa: aktivis, wartawan, ulama, pejabat, konglomerat, dan pangeran. 

Namun konflik paling sensitif terjadi dalam keluarga kerajaan. Bukan rahasia lagi, masuknya Bin Salman ke dalam jalur menuju takhta telah memicu perseteruan dan keretakan dalam keluarga besar Bani Saud. 

Upaya saling jegal terjadi antara Bin Salman dan abang sepupunya, Pangeran Muhammad bin Nayif. Pada Agustus 2017, kata sumber Albalad.co, anak dari mantan Putera Mahkota Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz berusaha membunuh Bin Salman. Namun tembakannya meleset. Bin Salman cuma luka ringan di tangan kiri. 

Pada April tahun lalu terjadi upaya kudeta di Riyadh. Raja Salman dan putera mahkota berhasil dievakuasi ke sebuah bunker di pangkalan militer. "Karena luka cukup parah, Bin Salman menjalani perawatan sekitar sebulan dengan samaran berlayar dengan kapal pesiarnya di Laut Merah," kata sumber itu. 

Sebab penunjukan Bin Salman sebagai calon raja melanggar tradisi. Sejak pendiri negara, Raja Abdul Aziz wafat, takhta diturunkan ke anak-anaknya, dari abang ke adik. Apalagi saat ini madih tersisa 13 anak Raja Abdul Aziz tersisa. 

Salah satunya paling dijagokan bakal menggantikan Raja Salman bin Abdul Aziz adalah Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz. Dia baru pulang dari pengasingan di London setelah mendapat jaminan keamanan dari Inggris dan Amerika Serikat. 

Pangeran Ahmad pula yang menulis surat secara terbuka meminta Raja Salman lengser setelah naik takhta pada Januari 2015. Dia beralasan Raja Salman terlalu sepuh dan sudah sakit-sakitan sehingga tidak mungkin mengurus negara. Maklum saja, waktu itu usianya telah 80 tahun. 

Perselisihan dalam keluarga kerajaan kian kental setelah Bin Salman menangkapi para pangeran dari keluarga berpengaruh atas tuduhan korupsi srjak awal November 2017: keluarga mendiang Raja Fahad, keluarga mendiang Raja Abdullah, dan keluarga mendiang Pangeran Talal bin Abdul Aziz.

Menurut sumber Albalad.co dalam lingkungan istana Saudi, mereka dibebaskan dari tahanan setelah menandatangani surat pengakuan bersalah, menyerahkan sebagian hartanya sesuai kesepakatan. "Mereka juga dilarang ke luar negeri dan dipakaikan gelang kaki sebagai alat pengawasan," katanya.

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi. Seperti kesimpulan badan intelijen Jerman pada 2015, mereka sepakat Bin Salman mesti ditumbangkan karena berbahaya. 

Salah satunya Marzuq Masyaan al-Utaibi. Lelaki Saudi bermukim di Paris ini pada September tahun lalu membuat the National Mobilization Movement untuk menumbangkan rezim Bani Saud. "Kami perkirakan bisa mencapai tujuan itu dalam setahun," katanya dalam wawancara khusus dengan Albalad.co awal Oktober tahun lalu. 

Sila baca: We will remove Al-Saud regime

Ambisi, agresifitas, dan arogansi Bin Salman telah menjadikan dirinya berbahaya dan mesti dihentikan. Di atas kertas, Arab Saudi memang stabil tapi ada bom waktu siap meledak dalam momentum tepat. 

 

 

 

 

 

 

Pangeran Khalid bin Farhan dari Arab Saudi, mendapat suaka politik di Jerman sejak 2013. (Middle East Eye)

Pangeran Saudi serukan penggulingan Raja Salman dan putera mahkota

Upaya kudeta pernah terjadi April tahun lalu, ketika istana Raja Salman di Ibu Kota Riyadh diserang.

Saud al-Qahtani (Twitter)

Misteri Qahtani selepas Khashoggi

Bin Salman dikabarkan meracuni salah satu orang kepercayaannya, Saud al-Qahtani, hingga tewas.

Pangeran Turki bin Abdullah bin Abdul Aziz. (Flickr)

Pangeran Arab Saudi berusaha bunuh diri dalam penjara

Putra dari mendiang Raja Abdullah bin Abdul Aziz itu termasuk dalam lusinan pangeran, konglomerat, dan pejabat ditangkap atas tuduhan korupsi sejak dua tahun lalu.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Berpadu buat kudeta putera mahkota

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz pulang dengan misi menggulingkan Pangeran Muhammad bin Salman. Dia mendapat jaminan keamanan dari Amerika dan Inggris.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

09 September 2019
Pelarian Maha dan Wafa
23 Agustus 2019

TERSOHOR