kisah

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.

04 Maret 2019 02:14

Barangkali dia orang Yahudi tertua masih hidup di Indonesia. Umurnya sudah 89 tahun, tetapi matanya masih awas dan pendengarannya cukup tajam. Dia juga masih mampu mengunyah tulang ayam.

Dia meminta namanya tidak ditulis. Dia berasal dari klan Mussry, salah satu keluarga Yahudi terpandang di Surabaya, Jawa Timur, di zaman penjajahan dan awal Indonesia merdeka. Keluarganya bersama komunitas Yahudi di Surabaya berpatungan membeli tanah untuk membangun sebuah sinagoge di Jalan Kayoon 4-6.

Saya menyanggupi untuk menjenguk dia Sabtu lalu setelah beberapa kali ditelepon. Ini perjumpaan saya kedua dengan pria Yahudi itu, setelah bertemu di rumahnya di tengah kota Jakarta kira-kira empat tahun lalu. Waktu itu saya nyaris dilempar gelas lantaran dia kaget saya mengetahui dirinya orang Yahudi dan tahu tempat tinggalnya.

Lelaki mirip orang bule ini - bagi saya bentuk kedua alisnya menunjukkan dia berdarah Yahudi - sudah sekitar tiga tahun menetap di kawasan Puncak, Jawa Barat. "Dia kayaknya tidak pernah keluar kamar," kata salah satu pekerjanya dengan logat Sunda kental kepada Albalad.co.

Saya buru-buru menahan napas sesaat setelah memasuki kamarnya. Maklum saja, bau apek. Jendela jarang dibuka dan tidak ada ventilasi udara. Terdapat dua ranjang, satu set sofa, meja makan kecil, serta koleksi buku dan foto memenuhi ruangan dan dinding kamar berukuran sekitar 4x4 meter persegi itu. Di pojok ruangan ada satu menorah berasal dari Israel.

Saya heran bagaimana lelaki ini bisa betah tinggal dalam ruangan beraroma tidak sedap. Tapi kata karyawannya, dia jarang sakit. Makannya pun lahap dengan semangkuk besar soto ayam dan sambal cabai ulek saat jamuan siang. Saya lebih ikhlas dimarahi oleh dirinya ketimbang harus menghabiskan sepiring nasi dengan soto ayam dan kuah membanjir.

Sebelumnya, saya hanya sanggup menghabiskan dua potong singkong goreng, dan sisanya - 12 potong - dia habiskan sambil dicocol dengan garam.    

Dia menolak perbincangan Sabtu itu direkam. Dia meminta saya menulis apa yang dia katakan. Mirip pelajaran dikte kala saya masih di sekolah dasar. Namanya orang tua, emosinya suka meledak. Dia menghardik dengan suara keras kalau saya bertanya atas penjelasannya. Sekali lagi saya memaklumi.

Alhasil saya seperti juru tulisnya. Dia memulai ceritanya dengan kedatangan tentara Jepang ke Indonesia pada 1942. "Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya. "Semua orang asing ditawan sampai 1945."

Dia kemudian mengisahkan komunitas Yahudi di Surabaya - kebanyakan berasal dari Baghdad atau Timur Tengah - urunan fulus membeli sebuah tanah dan membangun sinagoge pada 1948. Itulah satu-satunya sinagoge di Indonesia saat itu.

Namun, lanjutnya, sinagoge diberi nama Beith Shalom itu dihancurkan pada 2013 setelah dijual oleh penunggunya kepada seorang pengusaha Cina dan kini sedang dibangun hotel di atas lahan seluas kurang lebih dua ribu meter persegi itu. Kasus pengambilalihan tanah sinagoge itu sudah bergulir ke pengadilan atas jasa mendiang David Abraham, pengacara berdarah Yahudi.

Pemuka Yahudi itu sangat berharap komunitas Yahudi Surabaya bisa merebut kembali hak mereka.   

Selain bercerita soal sengketa sinagoge di Surabaya, dia menceritakan kedekatan keluarga Mussry dengan Perdana Menteri Sutan Syahrir dan wartawan Des Alwi. "Sutan Syahrir sering makan di rumah keluarga kami," katanya.

Dia pun menunjukkan foto hitam putih memperlihatkan abangnya, Edward, bersama Des Alwi tengah menunggu kedatangan Syahrir di bandar udara di Singapura. Dalam foto lain, Grace Mussry berbincang dengan Presiden Soekarno di sela peresmian sebuah toko di Surabaya.

Banyak kenangan sejarah masih dia ingat soal komunitas Yahudi di Surabaya dan perjalanan Indonesia di awal kemerdekaannya. Tapi dia cuma ingin memusatkan perhatian agar lahan sinagoge itu dapat kembali ke tangan komunitas Yahudi Surabaya.

"Masyarakat di luar negeri harus tahu bukan pemerintah Indonesia menghancurkan sinagoge itu," tuturnya. "Ada satu bajingan menyebabkan itu terjadi dan harus kita rebut lagi."

Setelah satu setengah halaman menulis curahan hati pemuka Yahudi itu di atas kertas buku tulis, pertemuan usai. Saya pamit dan akhirnya bisa bernapas lega. Tapi saya berjanji bakal mengungkap sengketa bangunan termasuk cagar budaya di Surabaya itu.

Beith Shalom menjadi bukti toleransi masyarakat Indonesia terhadap beragam etnis, ras, dan agama. Sinagoge itu pun pernah menjadi penanda keanekaragaman bangsa Indonesia.          

Emir Dubai Syekh Mugammad bin Rasyid al-Maktum bersama istri, Puteri Haya binti Husain, serta dua anak mereka, Al-Jalila dan Zayid. (Twitter)

Duda selingkuhan Puteri Haya

Perselingkuhan antara Puteri Haya dan Russell Flowers sudah berjalan tiga tahun.

Konferensi membahas pembangunan ekonomi Palestina digelar di ibu Kota Manama, Bahrain, pada  25-26 Juni 2019. (BNA)

Mesra Manama

Bagi rakyat Palestina, kemerdekaan harus lebih didulukan sebelum kesejahteraan.

Mantan Presiden Mesir Muhmmad Mursi. (MidEast Posts)

Ultimatum bagi Mursi

Setidaknya, sudah dua kali ultimatum diberikan kepada pimpinan Al-Ikhwan: dibebaskan dengan syarat tidak berpolitik untuk jangka waktu tertentu dan dilepaskan dengan syarat tidak berpolitik tapi boleh berdakwah.

Wartawan Jamal saat akan memasuki kantor Konsulat Arab Saudi di Kota Istanbul, Turki, 2 Oktober 2018. (Screengrab)

Ajal Khashoggi di Konsulat Saudi

Di bagian kesimpulan, Agnes mendesak Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan sebuah penyelidikan pidana.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Duda selingkuhan Puteri Haya

Perselingkuhan antara Puteri Haya dan Russell Flowers sudah berjalan tiga tahun.

12 Juli 2019
Mesra Manama
05 Juli 2019
Ultimatum bagi Mursi
26 Juni 2019
Ganti Tuhan di Kobani
27 Mei 2019

TERSOHOR