kisah

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.

01 April 2019 23:55

Satu malam di sebuah restoran di California, Amerika Serikat, sebelas tahun lalu. Dua lelaki bersahabat mulai berdoa sebelum menyantap makan malam mereka yang sudah terhidang di atas meja. Dengan suara berbisik, mereka mengucapkan beberapa kata keramat: "Terima kasih Tuhan dan Yesus atas makanan Engkau berikan."

Sejatinya, adegan pada akhir bulan lalu itu bukan hal aneh bagi penganut Kristen. Namun yang mengejutkan, seorang di antara keduanya adalah Musab, putra pemimpin Hamas di daerah Tepi Barat, Syekh Hasan Yusuf. Ia tidak kelihatan ragu, hanya sekadar memandang selintas ke arah temannya sebelum berkomat-kamit. "Saya sekarang dipanggil Joseph," kata Musab sudah dua tahun merantau di sana.

Padahal, dia bertahun-tahun sangat aktif membantu perjuangan ayahnya melawan penjajahan Israel. Bahkan dia juga pernah dipenjara. Ironisnya, perubahan keyakinan pemuda ini berlangsung saat ayahnya mendekam di tahanan Israel. Hasan Yusuf termasuk dalam 45 anggota parlemen Hamas ditangkap serdadu Israel.

Musab sadar risiko akan dia hadapi sangat besar. Agama barunya ini bakal membahayakan nyawanya dan dapat memutuskan hubungan dengan keluarganya di Ramallah, Tepi Barat. Tapi dia sangat berharap orang tua dan kerabatnya mau menerima kenyataan ini. "Mungkin suatu hari nanti, saya bisa kembali ke Palestina dan Ramallah bersama Yesus dan Kerajaan Tuhan," ujarnya.

Bukan sekadar keyakinan berubah. Pandangannya terhadap Israel pun berbalik, dari musuh menjadi teman. "Sampaikan salam saya ke Israel. Saya menghormati dan mengagumi Israel sebagai sebuah negara," kata Musab seraya mengingatkan tidak akan ada perdamaian antara Hamas dan Israel lantaran Islam menjadi ideologi kelompok itu tidak mengizinkan.

Meski kedua pihak terikat kesepakatan gencatan senjata, pertempuran masih terus berlangsung. Hamas menguasai Jalur Gaza sejak pertengahan Juni 2007 memang berkomitmen tidak mengakui dan bertekad menghancurkan negara Israel.

Tentu saja, perubahan keyakinan Musab ini sangat mengejutkan pihak keluarga. Ibunda Musab tidak percaya dan menuding Israel berniat menjelekkan citra Hamas di kalangan dunia Islam. Dia bahkan berencana menggugat surat kabar Israel, Haaretz, melaporkan cerita itu.

Pemimpin Hamas di Gaza, Mahmud Zahar, juga menanggapi serupa. "Berita itu tidak bisa percaya. Israel memang selalu menciptakan kebohongan," katanya.

Pasukan Israel menangkap pemimpin senior Hamas di Tepi Barat, Syekh Hasan Yusuf, di rumahnya di Kota Ramallah pada 2 April 2019. (Screenshot)

Israel tangkap pemimpin senior Hamas di Tepi Barat

Putranya, Musab, pernah membantu Shin Beth selama 1997-2007 untuk menggagalkan rencana Hamas menyerang warga Israel.

Seorang lelaki mengendarai gerobak keledai melewati lokasi proyek rumah sakit di Kota Gaza bakal diresmikan Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani  pada 23 Oktober 2012. Lawatan emir Qatar itu menjadi kunjungan pertama pemimpin Arab ke Jalur Gaza sejak diblokade oleh Israel pada 2007. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Hamas tahan tujuh wartawan karena meliput demonstrasi di Gaza

Pasukan keamanan Hamas memukuli wartawan dan mengambil telepon seluler dan peralatan mereka.

Serbuan Israel ke Jalur Gaza pada 11 November 2018. (Channel 10)

Dua roket dari Gaza hantam Tel Aviv

Hamas dan Jihad Islam membantah sebagai pelakunya.

Sinagoge Beith Shalom di Jalan Kayoon 4-6, Surabaya, Jawa Timur, pada 2007. (Jono David, HaChayim Ha Yehudim Jewih Photo Library)

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Bertemu pemuka Yahudi

"Sesudah itu, semua orang Barat ditawan di dalam kamp, termasuk seluruh keluarga Mussry, karena berkewarganegaraan Belanda," ujarnya.

04 Maret 2019
Fulus Kabah goyang Mullah
16 Januari 2019
Harap Rahaf
07 Januari 2019

TERSOHOR