kisah

Ganti Tuhan di Kobani

"Setelah perang dengan ISIS, orang-orang mencari keyakinan tepat, mereka menjauhkan diri dari Islam," kata Umar Firas, pendiri gereja Evangelis di Kobani.

27 Mei 2019 06:18

Lima bulan berada dalam cengkeraman milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) membikin hampir 45 ribu penduduk di Kota Kobani (nama resminya adalah Ain al-Arab) menyaksikan sendiri ajaran Islam brutal dan biadab dipraktekkan kelompok bersenjata dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi itu.

Jangankan agama lain, kaum muslim tidak sealiran dengan mereka pun menjadi korban. Kobani - kota berada di wilayah administrasi Provinsi Aleppo, utara Suriah - ini dikuasai ISIS selama September 2014 hingga Januari 2015. Suku Kurdi adalah penduduk mayoritas di Kobani.

Lima bulan sudah cukup membuat sekitar 300 orang di Kobani trauma, sehingga memutuskan untuk keluar dari agama Islam atau murtad.

Banyak wilayah di utara Suriah, kebanyakan dihuni komunitas muslim Kurdi bergaya hidup sekuler, memilih menjadi agnotis. Khusus di Kobani, pemuja Yesus menguat. Tahun lalu, gereja Evangelis pertama dibangun di kota berbatasan dengan Turki itu. Gereja ini dipimpin oleh Pendeta Zani, berasal dari Kota Afrin, juga terletak di utara Suriah.

Farzad, manajer proyek lembaga nirlaba Kristen AVC International, mengatakan selama selama 2016-2018, warga Kristen Kobani beribadah diam-diam di rumah. "Gereja terakhir di Kobani dihancurkan 30 tahun lalu dan pertemuan Kristen terakhir di sana terjadi 55 tahun lalu," katanya kepada Kurdistan 24.

Sebagian memandang kaum murtad itu lantaran ingin mendapat bantuan keuangan dari organisasi-organisasi Nasrani beroperasi di sana, berhadap mendapat pekerjaan, dan membuka lebar-lebar kesempatan untuk pindah ke negara-negara Eropa.

Namun para pemeluk Kristen anyar ini membantah semua tudingan itu. Mereka menekankan ini masalah keyakinan hati.

"Setelah perang dengan ISIS, orang-orang mencari keyakinan tepat, mereka menjauhkan diri dari Islam," kata Umar Firas, pendiri gereja Evangelis di Kobani. "Orang-orang ketakutan dan merasa kehilangan."

Seorang lelaki - kehilangan satu tangan akibat ledakan di Kobani dan pernah menjalani perawatan medis di Turki - mengaku bertemu orang-orang Kurdi dan Turki telah memeluk Nasrani. Dia pun memutuskan bergabung dengan mereka.

"Mereka kelihatan girang dan semua berbicara mengenai cinta kasih. Itulah ketika saya akhirnya memutuskan mengikuti ajaran Yesus," ujar Maxim Ahmad, 22 tahun. Dia bilang beberapa teman dan kerabatnya sekarang tertarik datang ke gereja di Kobani.    

Sejumlah warga muslim di Kobani menolak kian berkembangnya Kristen di sana. Mereka menuduh organisasi kemanusiaan dan para misionaris Barat memanfaatkan kekacauan dan trauma akibat perang untuk mengajak penduduk setempat pindah agama. "Banyak orang mengira kaum murtad itu mendapat keuntungan menjadi penganut Nasrani, barangkali memperoleh fulus atau kesempatan lebih besar buat mendapat suaka di luar negeri," tutur Salih Naasan, karyawan sebuah perusahaan real estate dan mantan guru bahasa Arab.

Ribuan warga Kristen sudah kabur dari Suriah sejak beberapa dasawarsa lalu karen ketegangan sektarian. Sebagian besar memilih tinggal di Libanon dan Eropa.

Kebanyakan penganut Nasrani menolak memberitahu nama asli mereka atau enggan diwawancara. Mereka takut menjadi sasaran serangan oleh kelompok Islam konservatif di Kobani.    

ISIS - pernah menguasai separuh Suriah dan sepertiga Irak di masa kejayaannya pada pertengahan 2014 - rupanya berhasil menodai citra Islam dan memaksa sebagian pemeluknya berganti Tuhan di Kobani.

Wartawan Jamal saat akan memasuki kantor Konsulat Arab Saudi di Kota Istanbul, Turki, 2 Oktober 2018. (Screengrab)

Ajal Khashoggi di Konsulat Saudi

Di bagian kesimpulan, Agnes mendesak Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan sebuah penyelidikan pidana.

Satu keluarga miskin di Kota Gaza bepergian menggunakan gerobak keledai, 22 Otober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Palestina Baru versi Trump

Jika Hamas dan Jihad Islam, dua kelompok pejuang Palestina di Gaza, menolak meneken kesepakatan damai versi Trump, Israel dengan sokongan penuh Amerika akan memerangi Hamas dan Jihad Islam.

Paket makanan dibagikan kepada rakyat Mesir memilih amandemen konstitusi dalam referendum digelar selama 20-22 April 2019. (Twitter)

Intimidasi demi Sisi

Pejabat keamanan memaksa para pemilik toko, pebisnis, pengusaha restoran, dan keluarga-keluarga terpandang memajang spanduk menyokong referendum.

Buku Son of Hamas karya Musab Hasan Yusuf, putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi Barat, Syekh Hasan Yusuf. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Musab adalah putra dari pemimpin senior Hamas di Tepi barat, Syekh Hasan Yusuf. Dia pernah menjadi infrman Israel selama 1997-2007.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Ajal Khashoggi di Konsulat Saudi

Di bagian kesimpulan, Agnes mendesak Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan sebuah penyelidikan pidana.

21 Juni 2019

TERSOHOR