kisah

Ultimatum bagi Mursi

Setidaknya, sudah dua kali ultimatum diberikan kepada pimpinan Al-Ikhwan: dibebaskan dengan syarat tidak berpolitik untuk jangka waktu tertentu dan dilepaskan dengan syarat tidak berpolitik tapi boleh berdakwah.

26 Juni 2019 06:39

Bagi pihak keluarga dan kelompok Al-Ikhwan al-Muslimun, kematian mantan Presiden Mesir Muhammad Mursi pada Senin pekan lalu masih menyisakan misteri. Apalagi sehari kemudian, pemakamannya dilakukan diam-diam di kawasan Nasr City, Ibu Kota Kairo, bukan di kampung halaman seperti keinginan keluarga.

Padahal sebelumnya, kejaksaan menyatakan akan membentuk sebuah tim buat menyelidiki penyebab Mursi meninggal. Proses penguburan lelaki 67 tahun itu dijaga sangat ketat dan hanya pihak kerabat dapat hadir.

Rupanya sebelum ajal menjemput, Mursi dan para pemimpin Al-Ikhwan lainnya dalam penjara telah mendapat ultimatum dari para pejabat tinggi Mesir: mereka harus membubarkan Al-Ikhwan atau bakal mendapat akibat buruk.

Mereka diberi tenggat hingga akhir Ramadan untuk membuat keputusan. Mursi menolak dan dalam hitungan hari dia mengembuskan napas terakhir.

Para anggota Al-Ikhwan di dalam dan luar Mesir kini mencemaskan nasib mantan calon oresiden Khairat asy-asy-Syatir dan pemimpin tertinggi Muhammad Badii. Keduanya juga menolak ultimatum itu.

Permintaan kepada Mursi dan pimpinan Al-Ikhwan lainnya untuk membubarkan organisasi itu ditulis dalam sebuah dokumen strategi oleh para pejabat senior di lingkaran Presiden Abdil Fattah as-Sisi setelah dia terpilih kembali tahun lalu. Sejatinya, sejak berkuasa sehabis mengkudeta Mursi pada awal Juli 2013, Sisi telah menyatakan Al-Ikhwan sebagai organisasi teroris dan terlarang di seantero negara Nil itu.

Sejumlah sumber dari kubu oposisi memberitahu Middle East Eye soal tuntutan pemerintah untuk pembubaran Al-Ikhwan. Mereka mengaku mengetahui tentang dokumen dan perundingan-perundingan rahasia dengan Mursi sebelum kematian menjemput.

Dalam dokumen berjudul Penutupan file Al-Ikhwan al-Muslimun itu, pemerintah bilang Al-Ikhwan sudah lumpuh dan tidak lagi memiliki rantai komando. Sehingga Al-Ikhwan tidak dapat lagi dinyatakan sebagai ancaman bagi keamanan negara. Karena itu, pemerintah berencana menutup organisasi itu dalam tiga tahun.

Sebagai balasannya, pemerintah menawarkan pembebasan kepada semua anggota Al-Ikhwan dari penjara asal tidak lagi terjun ke politik, berdakwah, dan tidak terlibat kembali dalam kegiatan sosial. Mereka menolak bakal menghadapi hukuman berat dan penjara seumur hidup.

Pemerintah memperkirakan 75 persen anggota Al-Ikhwan akan menerima tawaran itu. Kalau pimpinan Al-Ikhwan setuju membubarkan organisasi, mereka bakal menerima perlakuan lebih baik dalam penjara.

Tekanan berat dilancarkan terhadap Mursi, meringkuk dalam sel isolasi di Penjara Tora. Dia tidak boleh dijenguk oleh pengacara dan keluarganya, juga tidak diizinkan bergaul dengan tahanan lainnya.

"Pemerintah Mesir ingin menjaga perundingan serahasia mungkin," kata seorang sumber mengetahui situasi dalam Penjara Tora. "Mereka tidak mau Mursi berdiskusi dengan koleganya."

Lantaran pembicaraan mandek, para pejabat Mesir kian frustasi terhadap Mursi dan pimpinan Al-Ikhwan lainnya dalam penjara.

Mursi menolak berbicara mengenai pembubaran Al-Ikhwan lantaran dia bilang dirinya bukan pemimpin. Para anggota senior Al-Ikhwan juga tidak mau membahas isu-isu nasional seperti Mursi mundur dari jabatannya sebagai presiden Mesir.

Hingga akhir hayatnya, Mursi menolak mengakui pemerintahan Sisi hasil kudeta. Dia menegaskan dirinya adalah presiden mesir dan tidak bakal berkompromi.

Upaya agar Mursi menyerah terus dilakukan dan makin ditingkatkan selama Ramadan. "Mereka (rezim) meminta pimpinan Al-Ikhwan membujuk Mursi untuk menyerah dan berunding paling lambat akhir Ramadan. "kalau tidak, rezim akan mengambil tindakan lain. Mereka tidak menyebut langkah seperti apa," ujar sumber-sumber itu.

Atas alasan ini, mereka meyakini Mursi dibunuh. Pemerintah Mesir menyebut dia meninggal lantaran serangan jantung.

Tapi pihak keluarga dan para pendukungnya menyebut selama enam tahun di penjara, Mursi tidak mendapat perawatan semestinya untuk penyakit gula dan hati dia derita.

"Alasan utama mereka untuk membunuh dia adalah mereka menyimpulkan dia tidak akan pernah menyetujui permintaan mereka," tutur seorang tokoh Mesir.

Itu bukan tawaran pertama diajukan pemerintah. Setidaknya, sudah dua kali ultimatum diberikan kepada pimpinan Al-Ikhwan: dibebaskan dengan syarat tidak berpolitik untuk jangka waktu tertentu dan dilepaskan dengan syarat tidak berpolitik tapi boleh berdakwah. Namun kedua tawaran itu pun ditolak.

Menjelang kematiannya saat disidang, Mursi meminta hakim menggelar sidang tertutup karena ada sejumlah rahasia ingin dia beberkan. Tapi hakim menolak hingga akhirnya Mursi pingsan dan dinyatakan sudah meninggal saat tiba di rumah sakit.    

Emir Dubai Syekh Mugammad bin Rasyid al-Maktum bersama istri, Puteri Haya binti Husain, serta dua anak mereka, Al-Jalila dan Zayid. (Twitter)

Duda selingkuhan Puteri Haya

Perselingkuhan antara Puteri Haya dan Russell Flowers sudah berjalan tiga tahun.

Konferensi membahas pembangunan ekonomi Palestina digelar di ibu Kota Manama, Bahrain, pada  25-26 Juni 2019. (BNA)

Mesra Manama

Bagi rakyat Palestina, kemerdekaan harus lebih didulukan sebelum kesejahteraan.

Wartawan Jamal saat akan memasuki kantor Konsulat Arab Saudi di Kota Istanbul, Turki, 2 Oktober 2018. (Screengrab)

Ajal Khashoggi di Konsulat Saudi

Di bagian kesimpulan, Agnes mendesak Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan sebuah penyelidikan pidana.

Mantan Presiden Mesir Muhmmad Mursi. (MidEast Posts)

Pemerintah Indonesia sampaikan duka cita kepada keluarga Mursi

Jasad Mursi dikubur diam-diam di nasr City, Kairo.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Duda selingkuhan Puteri Haya

Perselingkuhan antara Puteri Haya dan Russell Flowers sudah berjalan tiga tahun.

12 Juli 2019
Mesra Manama
05 Juli 2019

TERSOHOR