kisah

Mesra Manama

Bagi rakyat Palestina, kemerdekaan harus lebih didulukan sebelum kesejahteraan.

05 Juli 2019 07:44

Dengan pengamanan ketat dan tanpa kehadiran pejabat Israel dan Palestina, konferensi ekonomi bertajuk Perdamaian menuju Kesejahteraan digelar atas gagasan Amerika Serikat pekan lalu di Ibu Kota Manama, Bahrain, merupakan acara terbesar mengisyaratkan normalnya hubungan Arab-Israel.

Presiden Amerika Donald Trump berharap hasil dari Konferensi Manama dapat menggaet dana US$ 50 miliar, sebagian untuk membangun ekonomi di Tepi Barat dan Jalur Gaza, kalau proposal damai versi Amerika mengalami kemajuan sehabis pemilihan umum dilaksanakan di Israel September mendatang.

Atmosfer perdamaian Arab-Israel itu terlihat saat jamuan makan malam dan pesta koktail tanpa alkohol di Hotel Four Seasons Selasa malam minggu lalu. Lusinan pebisnis dari negara-negara Arab,termasuk 15 orang dari Palestina, santai saja berbincang dengan para pengusaha Israel di hadapan wartawan.

Hanya satu pengusaha Palestina berpidato di konferensi itu, yakni Asyraf Jabari dari Kota Hebron, Tepi Barat. Para pengusaha Palestina itu berasal dari Tepi Barat dan Yerusalem.

Di salah satu kesempatan, pensiunan jenderal Israel, Yoav Mordechai, mengobrol santai dengan para pengusaha Palestina itu di sofa lobi hotel. Mordechai, mantan Koordinator Militer untuk Wilayah Pendudukan (bertanggung jawab atas kegiatan keamanan dan ekonomi di Tepi Barat dan Gaza), datang sebagai pengusaha.

Di antara para pejabat senior hadir dalam Konferensi Manama adalah Menteri Luar Negeri Bahrain Syekh Khalid bin Ahmad al-Khalifah, mengobrol secara terbuka dengan tetamu dari Israel, termasuk dengan Direktur Jenderal Sheba Medical Center Profesor Yitshak Kreiss.

"Kami benar-benar kaget sekaligus girang dengan suasana konstruktif dan inklusif untuk mencari persoalan bersama," katanya kepada Haaretz. "Kami lihat semua pihak sangat terbuka untuk terciptanya kerjasama dan kewirausahaan di masa depan secepat mungkin."

Dalam wawancara khusus dengan Times of Israel di sela konferensi, Syekh Khalid mengaku senang dengan kehadiran para peserta dari Israel, termasuk wartawannya ikut meliput. Tapi dia mengatakan membina hubungan diplomatik dengan Israel bukan persoalan gampang.

"Kalau Anda memiliki perwakilan diplomatik dan Anda tidak memiliki semua dasar untuk mencapai kesejahteraan dan bekerjasama, lalu apa yang dilakukan entitas diplomatik?" katanya. "Mari kita bangun rasa saling percaya."

Menteri Keuangan Qatar Ali Syarif al-Imadi juga datang dalam konferensi itu. Negara Arab supertajir ini getol memberikan bantuan keuangan dan kemanusiaan bagi warga palestina di Gaza.

Seorang pejabat senior Bahrain mengungkapkan kepada Haaretz, hubungan Bahrain dan Israel memang mulai mesra tapi menggelar konferensi itu adalah sebuah masalah rumit buat mereka terkait hubungan dengan Palestina. Dia mengakui tekanan dari Amerika memaksa mereka menjadi tuan rumah konferensi ini.

Peserta lainnya dari Israel adalah kepala perwakilan Nokia untuk Timur Tengah, Aric Tal. Dia bilang perusahaanya sudah meluncurkan jaringan 3G di Palestina sejak tahun lalu.  

Dari semua peserta konferensi, paling menarik perhatian adalah Huda Izara Ibrahim Nunu, menjabata duta besar Bahrain buat Amerika selama 2008-2013.

Bahrain mempunyai komunitas Yahudi berjumlah 34 orang. Di Manama, terdapat sebuah sinagoge dibangun pada abad ke-19 dan direnovasi pada 1996 atas bantuan seorang filantropis asal Prancis. Sinagoge ini tidak rutin digunakan namun kerap dipakai untuk perayaan hari-hari suci Yahudi.

Arab-Israel boleh saja bermesraan di Manama, tapi Palestina menganggap peserta hadir adalah pengkhianat ingin memperjualbelikan hak-hak bangsa Palestina ingin merdeka dan berdaulat.

Bagi rakyat Palestina, kemerdekaan harus lebih didulukan sebelum kesejahteraan.   

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

Saud al-Qahtani (Twitter)

Misteri Qahtani selepas Khashoggi

Bin Salman dikabarkan meracuni salah satu orang kepercayaannya, Saud al-Qahtani, hingga tewas.

Roy Grant berpose dengan tempe bikinanannya. Dia adalah pengrajin tempe satu-satunya di Israel. (Roy Grant buat Albalad.co)

Mengunjungi pengrajin tempe satu-satunya di Israel

"Ini adalah negara kecil. Jadi tidak ada alasan untuk membangun pabrik tempe di Israel," tutur ayah dua anak ini.

Palestina tidak ada dalam daftar negara di situs resmi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. (Twitter)

Departemen Luar Negeri Amerika hapus Palestina dari daftar negara

Tidak jelas kapan Departemen Luar Negeri Amerika menghapus Palestina dari daftar negara.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

09 September 2019
Pelarian Maha dan Wafa
23 Agustus 2019

TERSOHOR