kisah

Bebas hawa di negara Kabah

Bin Salman tentunya sadar generasi muda mendominasi penduduk Arab Saudi mesti diberikan kelonggaran.

07 Agustus 2019 23:55

Sopir taksi itu meminta izin kepada penumpangnya apakah dirinya boleh menyetel musik. Maklum saja, mereka sudah memasuki Buraidah, jantungnya wilayah paling konservatif di Arab Saudi selama bertahun-tahun.

Keberaniannya menyetel musik menunjukkan reformasi sosial di negara Kabah itu sudah menjangkau Provinsi Qassim, basis paham Wahabi, bertahun-tahun sehabis Riyadh dan Jeddah menyambut perubahan.

Sopir taksi itu pun lantas memainkan lagu penyanyi Libanon berjudul Peluk Aku dengan Lembut seraya mobil dia kendarai melewati deretan kafe dan restoran berarsitektur dan bernama kebarat-baratan, seperti Meaty Buns dan XOXO.

Di dalam salah satu kafe di Buraidah, ada seorang gadis berabaya dan bercadar serba hitam bernama Haifa Abdullah, tengah merayakan kebebasan itu. "Kami girang dengan keterbukaan ini dan ingin kebebasan lebih banyak lagi," kata mahasiswi berumur 21 tahun itu.

Dia tengah menikmati malam bareng dua teman perempuannya. Dia cuma tertawa ketika ditanyai mengenai reputasi Burdah sebagai kota paling konservatif menolak perubahan.

"Semua itu masa lalu, cara pikir orang telah berubah," ujar Haifa. "Mereka melihat ada perubahan di Riyadh dan Jeddah, tidak ada akibat buruk bagi para gadis dan perubahan itu pelan-pelan tiba di Buraidah."

Kaum hawa paling diuntungkan oleh reformasi ekonomi, budaya, dan sosial bertajuk Visi Arab Saudi 2030, diluncurkan oleh Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman pada 2016, setahun setelah dia mendepak abang sepupunya, Pangeran Muhammad bin Nayif.

Bermula dengan memberikan kebebasan bagi perempuan untuk menonton pertandingan di stadion, kemudian boleh berolahraga di luar ruangan, lalu diizinkan menyetir mobil dan mengendarai sepeda motor, menonton konser musik, dan terakhir bebas bepergian dan bikin paspor tanpa izin tertulis dari muhrimnya (ayah, saudara kandung lelaki, atau suami).

Kaum hawa kini juga boleh berbaur dengan lelaki bukan muhrim di teat-tempat umum. Seperti terlihat di sebuah kafe baru dibuka di Al-Khobar. Di festival Pasar Okaz, untuk pertama kali seorang perempuan Saudi berkuda di muka umum.

Fauzi, penduduk Jeddah, pun mengakui Arab Saudi sudah sangat jauh terbuka. "Sekarang di kafe-kafe perempuan berbaur dan bebas menyetel musik," katanya kepada Albalad.co. "Sudah persis Jakarta, bedanya di sini tidak ada hujan."

Meski begitu, sebagian kaum tua di Arab saudi masih menolak perempuan diberi kebebasan. Alhasil, masih terjadi gadis-gadis Arab Saudi kabur dari negaranya. Tahun ini saja ada lima gadis Saudi mencari suaka ke negara lain: Rahaf al-Qunun, kakak adik Maha dan Wafa, serta kasus terakhir kakak adik Dua dan Dalal.

Kondisi geografis membantu perubahan cepat terjadi. Setengah dari penduduk Provinsi Qassim berumur di bawah 30 tahun. Generasi mudah Arab Saudi ramah teknologi informasi menyajikan situasi berbeda di belahan dunia lain. Mereka terbiasa dengan Internet dan pelesiran.

Sedangkan orang tua mereka hidup dalam kekangan doktrin ulama dan pemerintah. Jendeal mereka ke dunia luar melalui televisi satelit, baru sampai di Arab Saudi pada 1990-an.

Tamim al-Ayid, peracik kopi di sebuah kafe di Buraidah, tidak setuju dengan frase keterbukaan tengah terjadi Arab Saudi. "Kami hanya ingin hidup normal," tuturnya.

Namun masih ada mencemaskan kebebasan diberikan bakal membikin generasi muda Arab Saudi menjauh dari ajaran Islam. "Saya sangat terganggu melihat gadis-gadis muda menanggalkan cadar mereka di sebuah restoran, tertawa terbahak-bahak, kemudian bercadar lagi saat mau pulang," kata perempuan 30-an tahun ini.

Bin Salman tentunya sadar generasi muda mendominasi penduduk Arab Saudi mesti diberikan kelonggaran. Tapi dia pun tahu tidak mudah menetralisir hegemoni ulama garis keras dan aturan kesukuan telah berpuluh tahun mengekang perempuan di negeri Dua Kota Suci itu.

Daftar nama warga Indonesua terkait ISIS di kamp Ain Isa. (Rojava Information Center)

Menengok para pemuja ISIS asal Indonesia di Suriah

Terdapat 450 warga Indonesia di kamp Ain isa dan 300 orang lainnya di kamp Al-Haul.

Amir Muhamnad Abdurrahman al-Mauli as-Salbi, pemimpin baru ISIS. (Courtesy)

Berkenalan dengan pemimpin baru ISIS

Muhammad al-Mauli bergelar sarjana syariah lulusan dari Universitas Mosul. Dia memiliki satu putra. Dia bertemu Baghdadi ketika pada 2004 mendekam dalam tahanan Amerika di Kamp Bucca, Irak.

Bendera Amerika Serikat dan Israrl dijadikan keset di pintu masuk sebuah masjid di Provinsi Khuzestan, barat daya Iran. (Twitter)

Benci Khamenei, muak Mullah

Sebagian penduduk di negeri Mullah itu tidak mau lagi dipengaruhi oleh propaganda rezim.

Gambar ilustrasi Imam Husain, syahid di Karbala, tengah memeluk mendiang komandan Brigade Quds Mayor Jenderal Qasim Sulaimani di surga. Sulaimani tewas akibat serangan udara Amerika Serikat di Baghdad, 3 Januari 2020. (Khamenei.ir)

Maut jemput syuhada hidup

Mencari tahu lokasi Sulaimani telah lama menjadi prioritas bagi intelijen dan militer Amerika serta Israel, terutama saat dia sedang berada di Irak.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Menengok para pemuja ISIS asal Indonesia di Suriah

Terdapat 450 warga Indonesia di kamp Ain isa dan 300 orang lainnya di kamp Al-Haul.

07 Februari 2020

TERSOHOR