kisah

Pelarian Maha dan Wafa

Jumlah pencari suaka asal negeri Dua Kota Suci itu naik tiga kali lipat sepanjang 2012 hingga 2017 menjadi 800 orang.

23 Agustus 2019 23:55

Lika liku kakak adik, Maha dan Wafa as-Subai, lari dari keluarga mereka di Arab Saudi layak dijadikan cerita sebuah film. Maha (28 tahun) dan Wafa (25 tahun) membohongi orang tuanya supaya bisa keluar Ranyah, kota kecil terisolasi di barat Arab Saudi, menuju Ibu KOta Riyadh buat tinggal bareng abang mereka.

Mereka berhasilmendapatkan paspr tanpa diketahui keluarga, kemudian membeli tiket pesawat dan terbang dari Riyadh ke Istanbul, Turki. Pada 1 April lalu di bandar udara di Riyadh, Maha dan Wafa mematahkan kartu perdana telepon seluler mereka untuk menghindari pelacakan.

Keduanya lantas melepas cadar untuk memberi kesan mereka berasal dari keluarga liberal sehingga orang-orang tidak curiga kenapa mereka pergi berdua saja. Maha dan Wafa lalu berswafoto. Inilah kali pertama mereka bepergian menggunakan pesawat.

Tujuan mereka adalah Georgia lantaran negara itu memberlakukan bebas visa bagi warga Arab Saudi. Setibanya di Istanbul, Maha dan Wafa melanjutkan penerbangan ke Trabzon di timur Turki. Keduanya berharap agar penerbangan ke sana tidak ditunda.

Cuma masalah waktu saja sampai abang mereka menyadari kedua adiknya itu berada di tempat tidak semestinya. Maha adalah guru sekolah dasar dan Wafa belajar di sebuah akademi bahasa Inggris.

Dari Trabzon, mereka menyewa taksi untuk membawa mereka sejauh hampir 182 kilometer menuju daerah perbatasan Turki dengan Georgia. Setibanya di Batumi, kota wisata di pesisir Laut Hitam, Maha dan Wafa memasuki sebuah kafe khusus perempuan untuk meminta bantuan. Seorang perempuan Georgia bersedia menampung mereka di apartemennya dan besoknya berjanji mengantarkan mereka ke Ibu Kota Tbilisi, Georgia, berjarak 370 kilometer dari sana.

"Ketika saya berpikir mengenai hal ini saya seperti kehilangan akal," kata Wafa menceritakan tentang kisah pelarian mereka, saat ditemui majalah Foreign Policy dalam sebuah ruangan kecil di tempat penampungan pengungsi di Tbilisi pada 28 April lalu. "Apakah benar saya melakukan ini? Rasanya seperti bermimpi."

Keduanya mengklaim kabur dari keluarga karena kerap dianiaya dan tidak tahan hidup terkekang. Kalau mau pergi harus izin muhrim. Baru bulan ini saja, Arab Saudi menghapus aturan itu sehingga kaum hawa boleh bepergian tanpa izin tertulis dari muhrim mereka (ayah, suami, atau saudara kandung lelaki).

Maha dan Wafa berhasil lari setelah diam-diam memakai aplikasi Absyir kepunyaan ayah mereka. Aplikasi telepon seluler ini dapat melacak keberadaan perempuan muhrim mereka ketika bepergian.

Pelarian Maha dan Wafa adalah kisah ketiga perempuan Arab Saudi lari meninggalkan negara Kabah itu tahun ini. Kecenderungannya meningkat meski Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman memberi kebebasan bagi perempuan, termasuk boleh meenyetir mobil dan mengendarai sepeda motor, berolahraga di tempat umum.

Dimulai awal Januari lalu, Rahaf al-Qunun (18 tahun) kabur dari keluarganya tengah berlibur di Kuwait. Setelah enam hari terjebak di Thailand, dia akhirnya mendapat suaka di Kanada. Kemudian disusul oleh cerita kakak adik, Dua (22 tahun) dan Dalal (21 tahun), lantaran dipaksa menikah.

Dana Ahmad dari Amnesty International mengakui sulit untuk mengetahui secara pasti berapa jumlah perempuan Arab Saudi kabur dari negaranya. Dia menyebutkan jumlah pencari suaka asal negeri Dua Kota Suci itu naik tiga kali lipat sepanjang 2012 hingga 2017 menjadi 800 orang.

Selain hidup terkekang, kekerasan dalam keluarga, juga menjadi alasan utama kaum hawa Arab Saudi lari. Saudi memang sudah mengeluarkan undang-undang mempidanakan pelaku kekerasan dalam rumah tangga, namun menurut para aktivis, pelaksanaannya tidak sepenuhnya.

Karena itulah, Maha dan Wafa tidak pernah melapor ke polisi. Sebab itu sama saja kian memperburuk situasi mereka. Keduanya meyakini polisi tidak akan menolong malah sebaliknya mereka bakal makin dianiaya oleh keluarga lantaran berani berbicara kepada orang lain soal kekerasan mereka alami.

Akhirnya pada 7 Mei, Maha dan Wafa meninggalkan Georgia. Mereka berhasil mendapatkan suaka di suatu negara dirahasiakan.

 

Bocah perempuan pedagang belalang di Kota Tua, Sanaa, Yaman. (Middle East Eye/Nasih Syakir)

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

Saud al-Qahtani (Twitter)

Misteri Qahtani selepas Khashoggi

Bin Salman dikabarkan meracuni salah satu orang kepercayaannya, Saud al-Qahtani, hingga tewas.

Roy Grant berpose dengan tempe bikinanannya. Dia adalah pengrajin tempe satu-satunya di Israel. (Roy Grant buat Albalad.co)

Mengunjungi pengrajin tempe satu-satunya di Israel

"Ini adalah negara kecil. Jadi tidak ada alasan untuk membangun pabrik tempe di Israel," tutur ayah dua anak ini.

Perempuan Arab Saudi duduk berbaur dalam sebuah kafe baru dibuka di Al-Khobar. (Saudi Gazette)

Bebas hawa di negara Kabah

Bin Salman tentunya sadar generasi muda mendominasi penduduk Arab Saudi mesti diberikan kelonggaran.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

09 September 2019

TERSOHOR