kisah

Makan belalang Yaman kenyang

Jutaan warga Yaman sedang kelaparan mengandalkan belalang untuk bertahan hidup.

09 September 2019 23:55

Rakyat Yaman sekarang menyantap belalang untuk bertahan hidup lantaran negara mereka sedang menghadapi krisis keamanan pangan terbesar di dunia. Serangga ini menjadi sumber nutrisi berharga bagi mereka.

Kawanan belalang mulai datang ke Yaman di hari pertama Ramadan lalu. Jutaan serangga ini terbang di atas langit di kabupaten Hamdan, Arham, dan Bani Matar di Provinsi Sanaa. Serbuan belalang ini terjadi ketika Yaman menghadapi bencana kelaparan.

Seorang pedagang belalang bernama Yahya Abdu mengklaim rakyat Yaman sudah berabad-abad terbiasa makan belalang. "Belalang memakan daun pepohonan, jadi mereka itu cemilan bergizi, terutama di saat perang seperti sekarang," katanya.

Perang sudah berlangsung lebih dari empat tahun mengakibatkan 13 juta warga Yaman menghadapi bencana kelaparan. Menurut WFP (Program Pangan Dunia), sebanyak 20,2 juta atau 76 persen dari total penduduk Yaman bakal menghadapi kelangkaan pangan kalau tidak ada bantuan kemanusiaan dari negara-negara lain. Hanya 25 persen makanan dihasilkan oleh Yaman, sisanya bergantung pada impor.

Di banyak negara belalang memang dikenal sebagai makanan lezat. Di Yaman, belalang kini menjadi sumber protein gratis. Bagi petani, kawanan belalang merupakan ancaman bagi tanaman mereka tapi untuk sebagian warga Yaman, belalng-belalang gurun berwarna merah itu seperti hadiah.

Petani bernama Hamid Lisawi bilang cemilan terbuat dari belalang harganya sangat murah. Dia bahkan menyumbang cemilan belalang kepada mereka membutuhkan.

Belalang kadang dipakai sebagai alat tukar dengan barang lain. Penjual belalang bernama Halimah Hirsy bercerita di waktu perang seperti sekarang, sullit buat mencari fulus untuk bertahan hidup. "Jadi saya mengumpulkan belalang untuk dijual. Uangnya saya belikan tepung gandum buat makan anak-anak saya," ujarnya.

Direktur Jenderal Kantor Perlindungan Tanaman di Ibu Kota Sanaa Wajih Mutawakkil membenarkan belalanga mengancam keamanan pangan di Yaman. Serbuan 50 juta belalang terhadap satu kilometer persegi tanaman petani, sama saja dengan menghabiskan seratus ton per hari," ujarnya.

Dia menambahkan serbuan belalang di Sanaa, Amran, dan Saad cuma menimbulkan kerusakan kecil pada tanaman petani. Namun tanaman gandum dan jeruk di daerah Jauh dan Marif hancur akibat serbuan serangga itu.

Di sebuah pasar di Kota Tua Sanaa, Faruq al-Jaradi tengah membeli dua botol belalang. Dia bilang makan belalang juga bagus buat obat diabetes dan darah tinggi. "Belalang tidak mengancam keamanan pangan, khususnya di Yaman," tuturnya kepada Middle East Eye. Orang Yaman melahap belalang sebelum serangga ini menghabiskan tanaman pertanian mereka."

Selain buat obat dan bikin sehat, belalang juga mengenyangkan rakyat Yaman tengah kelaparan.

 

Lokasi persembunyian pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi di Desa Barisya, Provinsi Idlib, Suriah, diserbu pasukan elite Amerika Serikat, Delta Force, pada 26 Oktober 2019. (France 24)

Lelaki pendiam pelindung Baghdadi

Salamah pindah ke Barisya pada 2016.

Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi saat berpidato di Masjid Agung An-Nuri di Kota Mosul, Irak, Juni 2014. (Al-Arabiya)

Pengawal pribadi khianati Baghdadi

Informan ISIS berada dalam rumah Baghdadi ketika Delta Force datang menyerbu. "Dia di sana dan keluar bareng pasukan Amerika dengan selamat," ujarnya.

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi saat berkhotbah Jumat awal Juli lalu di Masjid Agung di Kota Mosul, utara Irak. (www.aljazeera.com)

Tangis Baghdadi di Barisya

"Kecemasan Baghdadi adalah: Siapa akan mengkhianati dia? Dia tidak percaya siapapun," ujar Jenderal Yahya Rasul, juru bicara Komando Operasi Gabungan Irak.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Ratusan tentara Saudi tewas di Jizan dalam pertempuran dengan milisi Al-Hutiyun

Bin Salman telah mengisyaratkan menyerah dalam Perang Yaman.





comments powered by Disqus