kisah

Isyarat Bin Salman menyerah terhadap Iran

Kurang pengalaman dan kalah strategi membikin Saudi kedodoran dalam palagan di Suriah dan Yaman. 

07 Oktober 2019 15:30

Butuh empat tahun bagi Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman buat terbangun dari mimpi. Dia kini sadar sulit bagi negaranya buat bersaing apalagi mengalahkan Iran. 

Kesadaran itu muncul setelah serangan pesawat nirawak dan peluru kendali Iran, versi hasil investigasi Saudi, pada 14 September lalu menghantam dua fasilitas milik Saudi Aramco di Abqaiq dan Khurais. 

Insiden ini mengakibatkan produksi minyak 5,7 juta barel per hari terhenti. Angka ini setara dengan setengah dari produksi minyak negara Kabah itu atau lima persen dari total produksi global. 

"Dia sangat tertekan setelah mengetahui kejadian itu," kata sumber Albalad.co dalam lingkungan istana. "Dia sampai menenggak obat penenang."

Hingga akhirnya beberapa pekan terakhir Bin Salman meminta Perdana Menteri Irak Adil Abdul Mahdi dan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan untuk menjembatani proses dialog Saudi-Iran. Permintaan itu disampaikan Bin Salman saat Abdul Mahdi dan Khan bulan lalu melakukan lawatan resmi ke Saudi. 

Menurut Abbas al-Hasnawi, pejabat di kantor perdana menteri Irak, bilang kepada Middle East Eye Selasa pekan lalu, Abdul Mahdi sudah berkomunikasi dengan Riyadh dan Teheran untuk menyiapkan pertemuan Saudi-Iran, direncanakan berlangsung di Ibu Kota Baghdad. 

"Saudi telah memberi lampu hijau soal rencana pertemuan itu dan Abdul Mahdi sedang mengupayakan hal itu agar terjadi," kata Al-Hasnawi. Dia mengakui memang tidak mudah membujuk Saudi dan Iran berunding lantaran perbedaan ideologi, sekte, dan aliansi antara kedua negara di kawasan. 

Al-Hasnawi mengungkapkan rencana perundingan Saudi-Iran setelah seorang juru bicara pemerintah Iran mengatakan Saudi sudah mengirim pesan kepada Presiden Iran Hasan Rouhani melalui pemimpin sejumlah negara. 

Seorang pejabat senior Pakistan mengungkapkan kepada Imran Khan, Bin Salman bilang, "Saya ingin menghindari perang dengan Iran."

Khan kemudian menyampaikan pesan damai itu kepada Rouhani di sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, dilaksanakan bulan lalu di Kota New York, Amerika Serikat. 

Iran menyatakan siap berdialog dengan Saudi. "Dialog Iran-Saudi bisa menyelesaikan banyak persoalan keamanan dan politik di kawasan," ujar juru bicara parlemen Iran Ali Larijani dalam wawancara khusus dengan Al-Jazeera.

Bin Salman terpaksa memberi isyarat menyerah kepada Iran lantaran Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih ragu untuk menyerbu negara Mullah itu. Mei lalu, Trump memerintahkan penyerbuan ke sejumlah target militer Iran sebagai balasan atas penembakan jatuh sebuah pesawat nirawak Amerika, tapi dibatalkan tiba-tiba saat misi baru berjalan. 

Dalam satu dasawarsa terakhir, Saudi dan Iran mengambil posisi berlawanan dalam sejumlah konflik di Timur Tengah. Di Suriah, Saudi mendukung pemberontak dan Iran menyokong pemerintah. Sebaliknya di Yaman, Iran menyokong pemberontak dan Saudi mendukung pemerintah. 

Agresifitas Saudi ini muncul setelah Bin Salman masuk jalur menuju singgasana pada 2015. Namun kurang pengalaman dan kalah strategi membikin Saudi kedodoran dalam palagan di Suriah dan Yaman. 

Rezim Basyar al-Assad sudah berhasil menumpas pemberontakan di Suriah. Sedangkan milisi Al-Hutiyun di Yaman berhasil menandingi dan bahkan membikin Saudi kocar kacir di sana. Al-Hutiyun berkali-kali menyasar tiga bandar udara Saudi di kota Najran, Abha, dan Jizan. 

Kabar terakhir menyebutkan Al-Hutiyun mengklaim menangkap dan membunuh ribuan pasukan Saudi di negaranya sendiri. 

Sejumlah pangeran senior dan berpengaruh di Saudi sudah mulai gerah. Mereka kecewa dengan kepemimpinan Bin Salman. Mereka khawatir anak dari Raja Salman bin Abdul Aziz itu tidak akan mampu melindungi Saudi. 

Padahal Bin Salman pernah sesumbar bakal memindahkan perang di Suriah dan Yaman ke wilayah Iran. Dia sekarang terpaksa menelan ludah dan memberi isyarat menyerah terhadap negara Mullah.

 

 

 

 

 

 

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Ketegangan dengan Iran meningkat, Saudi uji coba sirene tanda ada serangan udara

Bin Salman stres berat mengetahui dampak serangan terhadap dua fasilitas Aramco itu. "Dia sampai menenggak lebih banyak obat penenang," kata sumber Albalad.co dalam lingkungan istana.

Saud al-Qahtani (Twitter)

Misteri Qahtani selepas Khashoggi

Bin Salman dikabarkan meracuni salah satu orang kepercayaannya, Saud al-Qahtani, hingga tewas.

Wartawan Jamal saat akan memasuki kantor Konsulat Arab Saudi di Kota Istanbul, Turki, 2 Oktober 2018. (Screengrab)

Ajal Khashoggi di Konsulat Saudi

Di bagian kesimpulan, Agnes mendesak Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan sebuah penyelidikan pidana.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Menakar kestabilan Arab Saudi

Para pembangkang Saudi makin berani tampil terbuka setelah Khashoggi dihabisi





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lelaki pendiam pelindung Baghdadi

Salamah pindah ke Barisya pada 2016.

06 November 2019

TERSOHOR