kisah

Merendah di hadapan pengungsi Suriah

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

11 Oktober 2019 20:45

Bos Mayapada Group Dato Tahir bareng Rosy Riady (istri), Jonathan Tahir (anak), menantu, dan seorang cucu perempuannya tidak jengah memasuki tempat tinggal semi permanen milik Mahmud, keluarga pengungsi asal Suriah, di kamp Azraq, Yordania, Rabu pekan lalu.

Tanpa ragu mereka langsung duduk di atas bantal sambil bersandar di dinding. Itu kali keempat Dato Tahir menjenguk pengungsi Suriah di Azraq. Tapi lawatan kali ini sangat istimewa: tiga generasi dari keluarga Dato Tahir datang.

Mereka tidak kelihatan ragu apakah pakaian mereka bakal kotor duduk di lantai. Keluarga Dato Tahir juga tidak tampak risih didekati keempat anak pengungsi Suriah. Dato Tahir, istri, anak, menantu, dan cucu malah asyik bercengkerama bersama mereka: mengobrol sekaligus berseloroh, seperti dilaporkan wartawan Albalad.co Faisal Assegaf dari kamp Azraq.

Dato Tahir bersama Jonathan dan cucu perempuannya juga menikmati bermain sepak bola dengan anak-anak pengungsi Suriah, walau akhirnya takluk 0-1.

Padahal keluarga Dato Tahir termasuk paling tajir di Indonesia. Menurut majalah Forbes, tahun lalu Dato Tahir berada di peringkat keenam dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia. Dia berharta US$ 4,5 miliar (kini setara Rp 63,6 triliun).

Meski begitu, Dato Tahir tidak mau mentang-mentang. Prinsip hidupnya adalah menjadi dermawan itu tidak membuat orang jatuh miskin. Kebetulan Dato Tahir dulunya dari kalangan bawah, namun dia tidak lupa ketika sudah kebanjiran harta.

Pandangan hidup seperti itulah membuat Dato Tahir ikhlas terbang sekitar sepuluh jam ke Amman, dilanjutkan dengan perjalanan sejaman menuju kamp Azraq. Kalau dia mau, lelaki 67 tahun ini bisa saja meminta UNHCR (Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi) datang ke kantornya untuk menyerahkan sumbangan bagi pengungsi Suriah.

karena itu pula, Dato Tahir tiga tahun lalu bersedia menjadi UNHCR Eminent Advocate ketiga setelah pengusaha Hamdi Ulukaya asal Amerika Serikat dan Syekha Jawahir al-Qassimi dari Syarjah (Uni Emirat Arab). Dua hari lalu, filantropis dari Qatar, Syekh Tsani bin Abdullah bin Tsani ats-Tsani diangkat menjadi UNHCR Eminent Advocate keempat.

Tidak berhenti sampai di situ, Dato Tahir pada 2016 juga mengikatkan dirinya pada gerakan The Global Fund, dibuat oleh pendiri Microsoft, Bill Gates. Gerakan ini meminta komitmen dari filantropis buat menyumbangkan setengah kekayaannya untuk memberantas penyakit AIDS, tuberkulosis, dan malaria di seluruh dunia.

Dato Tahir tidak ingin menjadi dermawan sendirian. Sebab itulah, dia mencontohkan kepada istri, anak, menantu, dan cucu-cucunya untuk tidak ragu dalam beramal.

"(Saya mengajak keluarga) supaya mereka tahu dan betul-betul bersyukur, bukan basa basi karena kita lahir di Indonesia," kata Dato Tahir kepada sejumlah wartawan. "Coba kita lahir di Suriah, nasib kita ya itu nanti (menjadi pengungsi). Atau kita tinggal di Sudan dibekap perang saudara, lebih celaka lagi."

Dato Tahir ringan membagikan amplop masing-masing berisi fulus US$ 100 kepada para pengungsi. Bahkan, dalam sebuah kunjungan ke tenmpat tinggal janda empat anak asal Suriah di Amman, Dato Tahir membelikan dua sepeda dan dua roller blade sesuai keinginan mereka.

Ini belum termasuk sumbangan Rp 5 miliar untuk UNRWA (badan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengurusi pengungsi Palestina) serta masing-masing Rp 2 miliar untuk UNHCR, pemerintah Yordania, dan Queen Rania Foundation. Dato Tahir juga memberikan bantuan dana bagi semua mahasiswa Indonesia di Yordania.

Dato menekankan kegiatan sosialnya selama ini bukan untuk menuai pujian atau untuk kepentingan tertentu. "Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujarnya. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

Inilah membikin Dato Tahir bisa tetap bersikap merendah dengan kaum susah, termasuk para pengungsi Suriah.

 

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Dato Tahir: Membantu pengungsi membuat saya makin bersyukur

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujar Dato Tahir. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

Dato Tahir tengah bertanding futsal menghadapi anak-anak pengungsi Suriah. (Dokumentasi KBRI Amman)

Bersua Julia Roberts asal Hama

Almar dan ketiga saudara kandungnya juga tidak sungkan berdekatan dengan salah satu keluarga paling tajir di Indonesia itu.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir saat berbincang dengan keluarga pengungsi asal Suriah di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Tiru Dato Tahir, para taipan Indonesia diajak bantu pengungsi Palestina

Dato Tahir juga menjadi konglomerat Indonesia pertama membantu sekaligus mengunjungi kamp pengungsi Suriah, dilakoni sejak 2016.

Dato Tahir berpose dengan Duta Besar Indonesia untuk Yordania dan Palestina Andy Rachmianto, Direktur Perencanaan UNRWA Abdi Aynte, dan Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Palestina di Jakarta Muammar Milhim setelah penyerahan sumbangan sebesar Rp 20 miliar bagi pengungsi Palestina, 15 Oktober 2018. (Albalad.co)

Dato Tahir sumbang Rp 20 miliar buat pengungsi Palestina

Dato Tahir menjadi konglomerat Indonesia pertama membantu sekaligus mengunjungi kamp pengungsi Suriah, dilakoni sejak 2016. Sejauh ini belum ada orang terkaya di Indonesia mengikuti jejaknya.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lelaki pendiam pelindung Baghdadi

Salamah pindah ke Barisya pada 2016.

06 November 2019

TERSOHOR