kisah

Relasi Tel Aviv-Abu Dhabi

Menjalin relasi dengan Israel tidak akan membikin UEA dimusuhi negara-negara Arab dan muslim. Mesir, Yordania, dan Turki contohnya.

29 Juni 2020 03:19

Ibarat orang berpacaran tapi ada ganjalan, relasi antara Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) mulanya berlangsung diam-diam, lewat jalan belakang. Seperti kebanyakan negara Arab dan muslim tidak memiliki hubungan diplomatik, kontak dan komunikasi antara Tel Aviv dan Abu Dhabi mirip hubungan gelap.

Selama beberapa tahun, kedua negara tanpa hubungan resmi ini bekerjasama dalam bidang keamanan dan intelijen untuk mencegah perluasan pengaruh Iran di Timur Tengah.

Namun sejak 2018, UEA gerah dan tidak tahan lagi. Mereka ingin semua orang tahu - dan ini sesuai keinginan Israel - Abu Dhabi mempunyai hubungan khusus dengan Tel Aviv. Karena itu, UEA tidak malu-malu mengundang menteri luar negeri dan menteri olaharaga Israel datang ke Abu Dhabi. Untuk pertama kali pula di kawasan Arab Teluk, lagu kebangsaan Israel, Hatikvah, berkumandang saat pejudo asal negara Zionis itu meraih medali emas.

Sila baca: Menteri olahraga Israel kunjungi UEA

Kejutan terus bermunculan dalam relasi Abu Dhabi-Tel Aviv. Ketika berpidato dalam upacara kelulusan pilot-pilot tempur Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan pemerintahnya bekerjasama dengan pemerintah UEA buat memerangi pandemi virus corona Covid-19, kini sudah menginfeksi lebih dari sepuluh juta orang di seluruh dunia, termasuk 500 ribu lebih telah mengembuskan napas terakhir.

Tapi juru bicara Kementerian Luar Negeri UEA Hindun Manaa al-Utaibah tiga jam kemudian meralat pernyataan Netanyahu itu lewat Twitter. Dia bilang kerjasama dalam bidang riset dan teknologi buat menangani Covid-19 berlangsung antara dua perusahaan swasta UEA dan dua perusahaan swasta Israel.

Namun tidak ada penjelasan mengenai identitas keempat perusahaan itu. Tetap saja koreksi dari Hindun tidak mengubah kehebohan sudah meruap.

Sebelumnya, pada 19 Mei dan 10 Juni, pesawat kargo Etihad Airways terbang langsung dari Abu Dhabi ke Tel Aviv mengangkut belasan ton bantuan medis buat Palestina menangani Covid-19. Di penerbangan perdana sekaligus bersejarah pesawat kargo itu tanpa nama masakapai dan bendera UEA, namun di penerbangan kedua identitas pesawat dan negara asal tidak lagi disembunyikan.

Sila baca:

Tiga negara Arab Teluk bermitra dengan Israel dalam memerangi Covid-19

Pesawat asal UEA bawa bantuan medis buat Palestina mendarat di Tel Aviv

Pemerintah Palestina menolak kedua bantuan UEA itu dengan alasan tidak berkoordinasi dengan mereka. Apalagi dijadikan alat untuk memuluskan hubungan Tel Aviv-Abu Dhabi.

Menurut Yoel Hareven, Direktur Divisi Internasional the Sheba Medical Center, para pejabat tinggi dari UEA dan Bahrain sering berkmunikasi dengan pihaknya sejak sebelum muncul pandemi Covid-19. Bahkan Februari lalu, seorang pangeran dari UEA mengunjungi rumah sakit terbaik di Israel dan dunia itu, kemudian tetap menjalin kontak rutin saban pekan.

Sila baca: We will provide Indonesia with the best Israel's technologies to contain Covid-19

Namun Abu Dhabi menjadi seolah sungkan berterus terang sekaligus serius menjalin relasi dengan Tel Aviv terkait rencana Israel menganeksasi permukiman Yahudi dan Lembah Yordania di Tepi Barat. Duta Besar UEA untuk Amerika Serikat Yusuf al-Utaibah dalam kolom opini dimuat di surat kabar berbahasa Ibrani, Yediot Ahronot, pada 12 Juni lalu: aneksasi atau normalisasi.

"Aneksasi tentunya akan segera membalikkan keinginan Israel untuk meningkatkan kerjasama keamanan, ekonomi, dan budaya dengan dunia Arab dan UEA," tulis Al-Utaibah di koran dengan tiras terbanyak di Israel itu. Dia menjadi pejabat UEA pertama menulis di harian Israel.

Al-Utaibah bareng duta besar Oman dan Bahrain hadir saat Presiden Amerika Dinald Trump mengumumkan proposal damai Palestina-Israel di Gedung Putih Januari lalu. Perdana Menteri israel Benjamin Netanyahu juga ada di sana.

Dia mengakui kemajuan sudah tercapai selama ini dalam hubungan Israel-UEA, termasuk dua kali pendaratan pesawat Etihad di Tel Aviv dan keikutsertaan seorang atlet Israel dalam turnamen di Abu Dhabi serta Dubai. Dia memperingatkan kalau sampai aneksasi terlaksana, banyak hal akan lebih sulit dilakukan antara kedua negara.

Al-Utaibah menekankan aneksasi Israel terhadap tepi Barat bakal memicu kekerasan meluas dan membangunkan gerakan-gerakan ekstremis.

Namun empat hari kemudian, saat berpidato di Konferensi Global AJC (Komite Yahudi Amerika) digelar secara virtual, Menteri Negara Urusan Luar Negeri UEA Anwar Gargasy mengatakan harus ada pemisahan antara politik dengan sektor lainnya. Dia menegasan UEA boleh saja berbeda dengan Israel dalam isu Palestina tapi jangan sampai perselisihan itu menghalangi kedua negara untuk bekerjasama di bidang-bidang lain saling menguntungkan.

Dia menjelaskan sikap bermusuhan negara-negara Arab terhadap Israel hanya makin memperuncing konflik Palestina Israel. Juga membuat kedua pihak sulit bekerjasama dalam kepentingan bersama, seperti dalam hal menangani pandemi Covid-19.

"Saya pikir kita sampai pada satu titik dan mengatakan kami tidak setuju dengan Anda dalam hal ini (aneksasi). Kami kira itu bukan gagasan bagus," kata Gargasy. "Namun di saat sama ada isu-isu lain, seperti Covid-19 dan teknologi, di mana kita bisa benar-benar kerja bareng."

Gargasy dikenal sebagai salah satu pejabat dari kawasan Arab Teluk paling terbuka dengan usulan normalisasi hubungan dengan Israel. Pada maret 2019, dia menyatakan keputusan Arab untuk memboikot Israel selama puluhan tahu adalah sebuah kesalahan sehingga perlu diperbaiki.

Gargasy tentunya menyadari menjalin relasi dengan Israel tidak akan membikin UEA dimusuhi negara-negara Arab dan muslim. Mesir, Yordania, dan Turki contohnya. Ketiga negara ini sudah memiliki hubungan diplomatik dengan negeri Zionis itu tapi masih menjadi anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam).

 

 

Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Israel Ron Prosor (berjas dan berdasi) berpose dengan latar barang-barang bantuan kemanusiaan dari Israel untuk korban tsunami Aceh di Bandar Udara Hang Nadim, Batam, 11 Januari 2005.(Albalad.co)

Garuda dan Bintang Daud nyaris berdekapan

Pertemuan rahasia Indonesia-Israel itu berlangsung sebelum Natal tahun lalu di Singapura. "Yang hadir masing-masing tiga orang dari Indonesia dan Israel, serta dua dari Amerika," kata sumber Albalad.co

Peta lokasi Kedutaan Besar Israel di Ibu Kota Ankara, Turki. (Twitter)

Kokohnya hubungan diplomatik Turki-Israel

Para anggota Mossad bebas keluar masuk Turki dengan peralatan kerja mereka tanpa pemeriksaan keamanan dan paspor di perbatasan. 

DJ tersohor Palestina Sama Abdul Hadi memimpin pesta musik di dalam Masjid Nabi Musa, Kota Jericho, Tepi Barat, Palestina. (YouTube/Screenshot)

Pesta musik di kubur Nabi Musa

Pesta musik itu sudah mendapat izin dari Kementerian Pariwisata Palestina.

Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Israel Ron Prosor (berjas dan berdasi) berpose dengan latar barang-barang bantuan kemanusiaan dari Israel untuk korban tsunami Aceh di Bandar Udara Hang Nadim, Batam, 11 Januari 2005.(Albalad.co)

Indonesia dan Saudi dua target utama normalisasi dengan Israel

Bin Salman berkepentingan mengamankan dirinya agar bisa naik takhta menggantikan ayahnya, karena itulah butuh sokongan Amerika. Sedangkan Indonesia saat ini membutuhkan aliran investasi buat memompa pertumbuhan ekonomi ambruk gegara pandemi Covid-19.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Garuda dan Bintang Daud nyaris berdekapan

Pertemuan rahasia Indonesia-Israel itu berlangsung sebelum Natal tahun lalu di Singapura. "Yang hadir masing-masing tiga orang dari Indonesia dan Israel, serta dua dari Amerika," kata sumber Albalad.co

22 Januari 2021

TERSOHOR