kisah

Gonta ganti Tuhan di Hagia Sophia

Di waktu subuh pada 1 Juli, untuk pertama kali dalam 85 tahun, azan dikumandangkan dari dalam Hagia Sophia.

10 Juli 2020 10:34

Sejak dibangun di abad keenam, berpindah tangan dari satu kerajaan ke kerajaan lainnya, Hagia Sophia pernah menjadi katedral di masa kekaisaran Bizantium, bersalin menjadi masjid di era kekhalifahan Usmaniyah, dan akhirnya menjadi museum. Hagia Sophia telah menjadi simbol persaingan Islam dan Nasrani serta lambang kesetiaan Turki terhadap sekularisme.

Tapi sekarang Presiden Recep Tayyip Erdogan ingin mengembalikan Hadia Sophia menjadi masjid buat memuaskan ambisinya, mimpi pendukungnya, dan keinginan sebagian masyarakat muslim meski dikritik pihak Barat.

Gagasan buat mengubah status Hagia Sophia itu telah memicu ketegangan antara Turki dengan musuh bebuyutannya, Yunani, dan menimbulkan kemarahan kaum Kristen di seluruh dunia.

Turki selalu menganggap dirinya sebagai penerus Kekhalifahan Usmaniyah, sedangkan Yunani kerap merasa menjadi pelanjut dari Keksairan Bizantium Kristen Ortodoks

Pihak oposisi menuding Erdogan selalu memunculkan isu mengubah Hagia Sophia menjadi masjid saban kali menghadapi krisis politik. Hal ini buat memperkuat dukungan di kalangan nasionalis dan islamis.

Namun kian melorotnya pamor Erdogan setelah 18 tahun berkuasa di Turki memaksa dia mesti menggarap narasi itu secara lebih serius ketimbang sebelumnya. Sehabis partainya kalah dalam pemilihan wali kota istanbul tahun lalu, citra Erdogan tercoreng gegara gelagapan menhadapi pandemi virus corona Covid-19 dan kelesuan ekonomi.

Pada 2 Juli lalu, Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara di Istanbul menyatakan akan memutuskan hari ini apakah bakal mengubah Hagia Sophia (Ayasofya dalam bahasa Turki) menjadi sebuah masjid sekaligus membatalkan dekrit berusia lebih dari 80 tahun menjadikan Hagia Sophia sebagai museum, dikeluarkan oleh Presiden Mustafa Kemal Ataturk, pendiri negara Turki modern dan sekuler.

Dalam sidang di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Istanbul itu, Selami Karaman, pengacara dari kelompok menuntut Hagia Sophia dijadikan lagi sebagai masjid, menjelaskan keputusan kabinet Turki pada 1934 melanggar hukum tentang properti privat dan mesti dibatalkan. Dia menambahkan Hagia Sophia adalah harta milik Sultan Mehmed II menaklukkan Konstantinopel pada 1453 lalu mengubah Hagia Sophia dari katedral menjadi masjid.

Karaman menyebutkan ada preseden Pengadilan Tata Usaha Negara Istanbul pernah membatalkan keputusan kabinet pada 1935 mengubah Masjid Kariye menjadi museum. Dia menduga tanda tangan Ataturk dalam dekrit pada 1934 itu juga tidak valid.

Selama lebih dari 25 tahun menjabat wali kota Istanbul, Erdogan berupaya keras untuk mewarisi hasil kerjanya. Dia mengubah Golden Horn dan membangun masjid-masjid di lokasi-lokasi tersohor di Istanbul. Namun Hagia Sophia, salah satu katedral tertus dengan arsitektur paling memukau sejagat belum mampu disentuh oleh Erdogan.

Para penyokong Erdogan selalu membandingkan Hagia Sophia sebagai masjid paling suci untuk Islam di dunia setelah Masjid Al-Haram di Kota Makkah (Arab saudi) dan masjid Al-Aqsa di Kota Yerusalem (Palestina).

Pada akhir Mei lalu, Erdogan memberikan isyarat kuat Hagia Sophia bakal difungsikan menjadi masjid lagi, ketika dia secara virtual membuka peringatan ulang tahun ke-567 penaklukkan Konstantionel oleh Sultan Mehmed II.

Untuk pertama kali dalam waktu lebih dari 80 tahun, seorang imam membaca Al-Quran. Ketika itu surat dibaca mengenai Perjanjian Hudaibiyah.

Pembacaan kitab suci umat islam dalam Hagia Sophia itu mengagetkan banyak pihak. Kementerian Luar Negeri Yunani mengecam tindakan itu tidak dapat dibenarkan lantaran melanggaran status Hagia Sophia sebagai salah satu warusan sejarah dunia di bawah UNESCO.

Kehebohan belum berakhir. Di waktu subuh pada 1 Juli, untuk pertama kali dalam 85 tahun, azan dikumandangkan dari dalam Hagia Sophia.

Menteri Kebudayaan Yunani Lina Mendoni akhir bulan lalu menyurati UNESCO. Dia menuding Erdogan memanfaatkan Hagia Sophia untuk kenepntingan politik dalam negerinya.

Pastor Bartholomew - pemimpin spiritual bagi sekitar 300 juta penganut Kristen Ortodoks di seluruh dunia dan menetap Istanbul, memperingatkan pengubahan Hagia Sophia menjadi masjid bakal memperetak hubungan Timur dan Barat. "Rakyat Turki mempunyai tanggung jawab besar dan martabat tinggi untuk memelihara universalitas dari monumen sangat elok ini," tuturnya.

Banyak pihak di Turki menuding Hagia Sophia menjadi mainan politik Erdogan dan dia ingin membikin isu menjadi persoalan nasional. Dia mengecam Yunani karena turut campur dalam urusan domestik Turki. "Apakah Anda mengelola Turki atau kami?" kata Erdogan.

Di luar urusan politik, para ahli sejarah mencemaskan akan kehilangan akses untuk mempelajari dan meneliti soal Hagia Sophia. Biro-biro perjalanan ketakutan bakal kehilangan pendapatan sebab Hagia Sophia adalah tempat wisata paling banyak dkunjungi pelancong asing, sekitar 3,7 juta orang saban tahun.

"Cara terbaik buat mempertahankan hagia Sophia adalah tetap memfungsikannya sebagai museum," ujar Zeynep Ahunbay, sudah bekerja di komite saintifik untuk Hagia Sophia selama 25 tahun.

Kekhawatiran terbesar adalah mosaik-mosaik abad pertengahan, termasuk gambar Yesus, Bunda Maria, dan Yohanes Sang Pembaptis akan lenyap. "Kami tidak tahu apa yang akan terjadi atas mosaik-mosaik dan lukisan dinding (di dalam Hagia Sophia)," tutur Faruk Pekin, pendiri Fest Travel, spesialiasi tur budaya dan tahun lalu menyelenggarakan 80 kali pelesiran malam di Hagia Sophia.

Pekin berharap Hagia Sophia tetap berstatus museum agar kaum non-muslim dan turis asing bisa bebas melawat. Ternyata bergonta ganti Tuhan di Hagia Sophia bukan tindakan membuat nyaman semua orang.

 

 

 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Skuad Macan binaan Bin Salman

Kewajiban 50 anggota Skuad Macan cuma satu: menaati perintah Bin Salman buat menculik atau menghabisi para pembangkang.

Milisi ISIS. (Dabiq/Global Look Press)

Kuasa Erdogan jaya ISIS

Ada kesepakatan antara ISIS dan intelijen Turki untuk membuka perbatasan bagi jihadis-jihadis ISIS cedera untuk dirawat di Turki.

Museum Hagia Sophia di Kota istanbul, Turki, saat musim dingin. (Maurice Flesier via Wikimedia Commons)

Makan malam pengubah status Hagia Sophia

Erdogan pada 10 Juli lalu seperti mengobati luka itu. Menjadikan Hagia Sophia masjid lagi bak sebuah kemenangan untuk kaum muslim.

Museum Hagia Sophia di Kota istanbul, Turki, saat musim dingin. (Maurice Flesier via Wikimedia Commons)

Ribuan orang hadiri salat Jumat perdana dalam 86 tahun di Masjid Hagia Sophia

Sebelum ritual pekanan itu dimulai, Erdogan membaca Al-Quran, Surat Al-Fatihah dan lima ayat pertama Surat Al-Baqarah.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Skuad Macan binaan Bin Salman

Kewajiban 50 anggota Skuad Macan cuma satu: menaati perintah Bin Salman buat menculik atau menghabisi para pembangkang.

07 Agustus 2020
Kuasa Erdogan jaya ISIS
05 Agustus 2020
Haji karut marut
20 Juli 2020

TERSOHOR