kisah

Makan malam pengubah status Hagia Sophia

Erdogan pada 10 Juli lalu seperti mengobati luka itu. Menjadikan Hagia Sophia masjid lagi bak sebuah kemenangan untuk kaum muslim.

29 Juli 2020 14:36

Kehebohan meruap di kalangan kaum muslim di Turki dan dunia ketika Dewan Negara pada 10 Juli membatalkan keputusan kabinet pada 1934 mengubah Hagia Sophia menjadi museum.

Keputusan ini sekaligus menganulir kebijakan tiga pendiri negara Turki modern berhaluan sekuler - Mustafa Kemal Ataturk (presiden pertama menjabat pada 1923-1938), Jenderal Ismet Inonu (presiden kedua menjabat pada 1938-1950), dan Celal Bayar (presiden ketiga menjabat pada 1950-1960).

Sejam setelah keputusan Dewan Negara, Presiden Recep Tayyip Erdogan meneken dekrit dan mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid lagi. Bangunan ikonik di Kota Istanbul ini kemudian diserahkan kepada Direktorat Urusan Islam Turki. Jumat pekan lalu menandai salat Jumat pertama di Hagia Sophia setelah 86 tahun.

Beginilah kisahnya sampai Hagia Sophia berubah menjadi museum. Pada 12 Juni 1929, delapan orang Amerika supertajir dan tersohor bertemu di Hotel Tokatliyan, terletak di Jalan Istiqlal, Istanbul. Dalam acara makan malam itulah dibentuk the Byzantine Institute of America, mengubah takdir Hagia Sophia. Penggagasnya adalah Thomas Whittemore, konglomerat gaul sekaligus akademisi sangat mengagumi seni Bizantium.

Jaringan pertemanan Whittemore sangat luas, membentang mulai dari kaum supertajir di Amerika hingga para pangeran Rusia, termasuk pelukis Henri Matisse dan kritikus Gertrude Stein. Whittemore juga dikenal memiliki sangat banyak koleksi selendang dan menyukai topi. Dia lelaki saleh sekaligus gay dan vegetarian.

Dunia waktu itu sedang menuju ke arah resesi parah dan momentum menjadi keberhasilan Whittemore meyakinkan para konglomerat Amerika untuk menyelamatkan beragam artefak peninggalan kerajaan Bizantium di Istanbul. Prestasi lebih besar lagi diraih Whittemore dua tahun kemudian, ketika dia mendapat izin dari Ankara untuk membuka penutup semua mosaik tokoh-tokoh Nasrani di dalam Hagia Sophia.

Kabinet Turki mengeluarkan persetujuan untuk pembukaan penutup semua mosaik pada 7 Juni 1931. Keputusan ini ditandatangani oleh Ataturk dan Inonu. Menurut arsip kepunyaan the Byzantine Institute of America, Joseph Grew - lantas menjadi duta besar Amerika untuk Turki - memiliki peran sentral dalam perolehan izin itu.

Grew dan Ataturk memang teman dekat dan kenal secara pribadi. Pada 1927, keduanya sama-sama menyampaikan di depan publik Amerika mengenai Turki Baru.

Di saat itu pula, negara-negara bekas musuh Turki, termasuk mantan Perdana Menteri Yunani Eleftherios Venizelos sedang dekat dengan Turki. Ankara dan Athena telah menekan perjanjian damai dan kerjasama pada 1930 setelah Venizelos melawat ke Turki. Dia lalu menominasikan Ataturk untuk mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Turki juga ingin menjadi anggota Liga Bangsa-Bangsa sebagai upaya buat menyeimbangkan kebijakan luar negerinya menghadapi pertumbuhan fasisme.

Pihak Barat girang dengan keputusan Ankara membolehkan hijab penutup mosaik dalam Hagia Sophia dibuka. Hal ini dilakukan secara rahasia dan rakyat Turki tidak tahu sampai ada beritanya di surat kabar the New York Times dua bulan berselang.

Di hari sama, media Turki memberitakan soal dua pilot Amerika terbang dari New York ke Istanbul dan tentang sepucuk surat dari Ataturk kepada presiden Amerika. Para pejabat terkait di Turki memastikan pelepasan penutup mosaik-mosaik itu tidak akan mengubah status Masjid Hagia Sophia.

Di tahun pertama itu, rencananya penutup mosaik di ruang tengah Masjid Hagia Sophia akan dibuka tapi masjid masih dibuka untuk salat. Persoalan sebenarnya muncul adalah bagaimana pengerjaan itu dilakukan.

Secara kebetulan, Ataturk mengundang Whittemore ke sebuah kongres historis di Ankara. Dia disambut oleh Zahra, putri angkat Ataturk. Zahra meninggal saat kuliah di Inggris dengan cara bunuh diri atau jatuh dari kereta dalam perjalanan ke Prancis.

Ataturk menggelar pertemuan secara terbuka dengan Whittemore. Dalam kesempatan itu, Whittemore menjelaskan tentang mossaik-mosaik Bizantium dan menyarankan Atatukr untuk mengirim Zahra ke Inggris untuk kuliah sastra Inggris.

Selentingan kemudian meruap di kalangan umat Islam Turki: status Hagia Sophia sebagai masjid bakal diganti. Politikus Turki, Halil Ethem, termasuk pendiri the Byzantine Institute of America, tampil bareng Whittemore di depan Masjid Hagia Sophia. Berusaha menenangkan rakyat Turki, Ethem bilang tidak ada bagian masjid akan dirusak dan mosaik-mosaik peninggalan peradaban Bizantium itu sejatinya tidak dilarang dalam ajaran Islam.

Dokumen resmi pertama untuk memulai proses pergantian status Masjid Hagia Sophia menjadi museum adalah sebuah surat bertanggal 25 Agustus 1934, ditulis oleh Abidin Ozmen kemudian menjadi menteri pendidikan Turki ke kantor perdana menteri.

"Berdasarkan perintah lisan saya terima, melalui surat ini saya sampaikan salinan perintah soal rencana mengubah Masjid Hagia Sophia menjadi museum," tulis Ozmen. Dua hari kemudian, kantor perdana menteri telah membentuk sebuah komisi dan menyusun rencana itu.

Ozmen mengungkapkan detil dari perintah lisan Ataturk itu setelah pensiun pada 1949, waktu dia menemui Muzaffar Ramazanoglu, manajer umum Museum Hagia Sophia. "Perintah itu disampai secara akademis oleh Ataturk, yakni ketimbang mempertahankan sesuatu hanya satu agama dan kelompok, lebih tepat mengubah Hagia Sophia menjadi museum terbuka bagi pengunjung dari smeua negara dan agama."

Kabar Hagia Sophia akan menjadi musem seperti ledakan bom mengagetkan semua orang. Muzaffar Ramazanoglu bahkan tidak mengetahui rencana itu.

Cumhuriyet, surat kabar pro-Ataturk, mengkritik kpeutusan tiba-tiba itu dalam berita utama di halaman depan. "Kami terus bertanya kepada diri kami sendiri: museum apa? Hagia Sophia sendiri sudah seperti museum sangat indah dan menjadi monumen bersejarah. Kami tidak dapat memahami pengubahan monumen ini menjadi museum."

Pada 24 November 1934, kabinet Turki memutuskan Masjid Hagia Sophia menjadi museum. Dalam putusannya, kabinet beralasan dengan status sebagai museum, Hagia Sophia dapat menjadi lembaga pendidikan untuk kemanusiaan.

Ada banyak teori menyebut tentang alasan perubahan Masjid Hagia Sophia menjadi museum. Sebagian menyatakan itu menjadi pesan bagi Amerika dan dunia Barat: rezim baru di Turki berhaluan sekuler dan damai. Yang lain mengklaim keputusan ini bagian dari Perjanjian Balkan, ditandatangani pada 1934 oleh Turki, Yunani, Yugoslavia, dan Rumania.

Whittemore pun terus melanjutkan proyeknya sampai akhir 1940-an, membuka penutup mosaik-mosaik dalam Gereja Chora di Istanbul setelah merampungkan pekerjaan serupa di Hagia Sophia.

Dia meninggal pada 1950 di Washington DC, dalam perjalanan menuju kantor Departemen Luar Negeri untuk bertemu Direktur CIA (dinas rahasia luar negeri Amerika) Allan Dules. Beberapa pihak mengklaim Whittemore adalah sumber intelijen. Dia memegang album foto mosaik-mosaik dalam Hagia Sophia ketika mengembuskan napas terakhir.

Apapun alasannya, mengubah bangunan sangat penting bagi kehidupan agama dan sosial di Istanbul itu, sudah menjadi masjid selama lebih dari empat abad, mengagetkan dan menimbulkan trauma di kalangan umat Islam Turki dan dunia.

Erdogan pada 10 Juli lalu seperti mengobati luka itu. Menjadikan Hagia Sophia masjid lagi bak sebuah kemenangan untuk kaum muslim. Seperti lima ayat pertama Surat Al-Baqarah dalam Al-Quran dibacakan Erdogan menjelang salat Jumat perdana di Masjid Hagia Sophia Jumat pekan lalu.

 

 

Peta lokasi Kedutaan Besar Israel di Ibu Kota Ankara, Turki. (Twitter)

Kokohnya hubungan diplomatik Turki-Israel

Para anggota Mossad bebas keluar masuk Turki dengan peralatan kerja mereka tanpa pemeriksaan keamanan dan paspor di perbatasan. 

DJ tersohor Palestina Sama Abdul Hadi memimpin pesta musik di dalam Masjid Nabi Musa, Kota Jericho, Tepi Barat, Palestina. (YouTube/Screenshot)

Pesta musik di kubur Nabi Musa

Pesta musik itu sudah mendapat izin dari Kementerian Pariwisata Palestina.

Emine Erdogan, istri dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, menenteng tas mahal buatan Prancis bermerek Hermes. (Twitter)

Gila belanja istri Erdogan

Emine Erdogan memiliki bros seharga Rp 221 juta.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, anak pengungsi Suriah tinggal bersama orang tuanya di sebuah kamp di Distrik Zajla, Lembah Bekaa, Libanon. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sepak terjang milisi bayaran bikinan Erdogan

Erdogan telah mewujudkan ideologi ekspansionis atas nama Islam sejak menyerbu wilayah timur laut Suriah Oktober tahun lalu, merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Kokohnya hubungan diplomatik Turki-Israel

Para anggota Mossad bebas keluar masuk Turki dengan peralatan kerja mereka tanpa pemeriksaan keamanan dan paspor di perbatasan. 

04 Januari 2021

TERSOHOR