kisah

Bintang Daud dalam dekapan Bin Salman

Bin Salman sudah dua kali bertemu Netanyahu.

07 September 2020 20:34

Sejak awal tahun ini, tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Pangeran Muhammad bin Salman, Putera Mahkota Arab Saudi sekaligus penguasa de facto, makin besar. Pemimpin berumur 35 tahun ini harus segera mengumumkan kesepakatan buat menormalisasi hubungan dengan Israel.

Menurut sumber Albalad.co dalam lingkungan istana, Trump ingin Bin Salman segera mengakui eksistensi negara Zionis itu baru mendukung ambisinya menjadi raja kedelapan Saudi. Tapi Bin Salman masih takut akan kehilangan singgasana lantaran memiliki banyak musuh dalam keluarga besar Bani Saud. Karena itu dia meminta kepada Trump menjadi raja dulu baru membina hubungan diplomatik dengan Israel.

Sampai akhirnya tercapai disepakati sebuah jalan tengah. "Memaksa Uni Emirat Arab (UEA) mencapai perjanjian normalisasi dengan Israel dengan syarat Saudi secara terbuka mengumumkan wilayah udaranya boleh dilewati penerbangan sipil dari dan menuju Israel," kata sumber itu.

Segalanya terwujud. UEA dan Israel mengumumkan tercapainya kesepakatan damai pada 13 Agustus. Bin Salman pun memenuhi janjinya pekan lalu mengizinkan semua maskapai, termasuk dari Israel, memiliki rute penerbangan UEA-Israel melintasi wilayah udaranya.

Sila baca: Arab Saudi izinkan wilayah udaranya dilewati penerbangan UEA-Israel

Ini kali pertama Riyadh mendeklarasikan wilayah udaranya boleh dlintasi semua maskapai dari dan menuju Israel. Bahkan dua pekan setelah kesepakatan normalisasi hubungan UEA-Israel diraih, pesawat El Al - maskapai milik pemnerintah Israel - mengangkut delegasi Israel ke Abu Dhabi, boleh terbang di atas Saudi. Juga dalam perjalanan pulang ke Tel Aviv walau tim dari Amerika tidak ikut lagi.

Sila baca: Pesawat Israel terbang melintasi Arab Saudi untuk pertama kali

Berbeda ketika membolehkan Air India melayani jalur New Delhi-Tel Aviv. Saudi diam-diam. Itu pun cuma Air India bisa terbang melintasi wilayah udara Saudi, sedangkan El Al dilarang.

Perubahan sikap Saudi terhadap isu Palestina sudah dimulai sejak Bin Salman menjadi putera mahkota tiga tahun lalu. Saudi telah menetapkan Hamas dan Al-Ikhwan al-Muslimun sebagai organisasi teroris dan kelompok terlarang.

Tiga bulan setelah dilantik menggantikan abang sepupunya, mantan Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Nayif, menurut sumber Albalad.co, Bin Salman memimpin delegasi terbang ke Tel Aviv dan bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pertemuan keduanya berlanjut pada Juni 2018 di istana Raja Yordania Abdullah bin Husain.

Bin Salman sudah setuju untuk bertemu Netanyahu lagi. Kali ini dijadwalkan awal September di Ibu Kota Washington DC, Amerika namun dibatalkan akhir bulan lalu karena taut bocor ke media.

Sila baca: Bin Salman batalkan rencana pertemuan dengan Netanyahu di Washington DC

Selama tiga pekan melawat ke Amerika, Bin Salman juga mengadakan pertemuan dengan para pemimpin organisasi lobi Yahudi dan Zionis. Waktu itu, dia bilang bangsa Yahudi seperti rakyat Palestina: berhak memiliki tanah air.

Sila baca: Anak Raja Salman sebut bangsa Yahudi berhak punya negara sendiri

Bin Salman juga memaksa Presiden Palestina Mahmud Abbas untuk menerima proposal damai versi Trump.

Sila baca: Bin Salman tawarkan fulus Rp 143 triliun agar Abbas mau terima proposal damai Trump

Dua tahun belakangan, Saudi menangkapi warga Palestina dan Yordania menjadi pendukung Hamas. Kepala perwakilan Hamas di Saudi, Muhammad al-Khoudari juga ditahan.

Sila baca:  Arab Saudi tahan pemimpin senior Hamas

Bin Salman dan Trump memang saling membutuhkan di tahun penentuan nasib mereka. Dukungan Trump penting bagi Bin Salman buat memenjarakan anggota kerabatnya bisa menjadi penghalang meski mereka teman dekat Amerika dan tindakannya itu melanggar hak asai manusia. Dan Bin Salman sudah mengurung Bin Nayif dan pamannya sendiri, Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz.

Trump juga memerlukan keterbukaan Saudi atas kemesraannya dengan Israel. Sebab ini bisa membikin negara-negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya tidak sungkan lagi menjalin relasi dengan negara Bintang Daud itu meski belum sampai tahap hubungan diplomatik. JUga mengangkat pamor Trump anjlok menjelang pemilihan presiden akibat meningkatnya rasisme terhadap warga kulit hitam dan penanganan buruk atas wabah Covid-19.

Bin Salman juga berkepentingan bekerjasama dengan Israel buat menjaga kelangsungan kekuasaannya. Karena itulah, Saudi sudah meneken kontrak pembelian aplikasi peretas dan penyadap telepon seluler buatan perusahaan asal Israel, NSO Group. Aplikasi bernama Pegasus ini dipakai untuk memata-matai kegiatan para pembangkang di dalam dan luar negeri.

Sila baca: Arab Saudi beli aplikasi peretas dan penyadap telepon seluler bikinan Israel

Dalam laporan terbarunya, Kementerian Intelijen Israel menyebutkan Saudi berminat bekerjasama dalam bidang militer dan intelijen, seperti dilansir the Times of Israel. "Kesepakatan normalisasi dengan UEA membuka pintu bagi kemajuan hubungan dengan negara-negara Arab Teluk lain, terutama Oman, Bahrain, dan Arab Saudi."

Walau ikatan Saudi-Israel belum resmi namun Bintang Daud sudah dalam dekapan Bin Salman.

 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Skuad Macan binaan Bin Salman

Kewajiban 50 anggota Skuad Macan cuma satu: menaati perintah Bin Salman buat menculik atau menghabisi para pembangkang.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Dua pilihan Bin Salman dalam suksesi Saudi

Konflik internal dalam keluarga kerajaan serta kian rentanya umur memburuknya kesehatan Raja Salman membikin Bin Salman berpacu dengan waktu.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Buru Jabri incar dokumen

"Dia memiliki semua dokumen mengenai segala hal dan menyangkut semua orang penting di Saudi," tutur seorang eks pejabat keamanan regional.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Beli Newcastle topeng darah Bin Salman

"Sampai Bin Salman diadili secara jujur atas perannya dalam pembunuhan brutal Khashoggi, semua organisasi atau perusahaan harus tidak berhubungan bisnis dengan dia," ujar Hatice Cengiz.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Suap proyek kereta dua kota suci

Eks Raja Spanyol Juan Carlos menerima uang suap US$ 100 juta dari mendiang Raja Abdullah terkait proyek kereta cepat Makkah-Madinah.

18 September 2020

TERSOHOR