kisah

Denyut bisnis UEA-Israel

Para investor Israel bakal lebih mempertimbangkan untuk membeli properti di UEA ketimbang London atau New York, terutama karena faktor kedekatan wilayah.

21 September 2020 20:15

Ketika acara penandatanganan perjanjian normalisasi hubungan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel di Gedung Putih, Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat, tengah berlangsung Selasa pekan lalu, Khalaf Ahmad al-Habtur, pendiri sekaligus pemilik the Al-Habtoor Group (AHG), sedang menerima kunjungan dari pemilik sekaligus CEO Ampa Group Shlomi Fogel dari Israel di kantor pusat AHG di Kota Dubai, UEA.

UEA bareng Bahrain menjadi negara Arab ketiga dan keempat meneken perjanjian untuk membina hubungan resmi dengan negara Zionis itu setelah Mesir pada 1979 dan Yordania di 1994.

Kedua konglomerat ini girang negara mereka berhasil mencapai kesepakatan bersejarah. Al-Habtur bilang dirinya sudah sangat lama menunggu momen bersejarah ini datang. Dia meyakini rakyat UEA dan Israel memiliki banyak kesamaan. "Kedua bangsa berorientasi bisnis dan mengandalkan bakat manusia dan ambisi lebih dari sumber daya alam mereka punya untuk membangun, perekonomian maju dan inovatif," katanya.

Dia percaya perjanjian untuk membina hubungan diplomatik antara UEA dan Israel akan membuka peluang bagi kerjasama ekonomi dan budaya lebih kuat antara kedua negara.

Dalam lawatan ke markas AHG itu, Fogel antara lain ditemani oleh Erez Katz, CEO Ciment, dan Saar Bracha, penasihat eksekutif Fogel sekaligus direktur anak usaha Ampa Group di sektor pertanian. "Melalui kolaborasi bisnis dan perdagangan berhasil, perdamaian makin kokoh," ujar Fogel.

Setelah pertemuan itu, Al-Habtur mengungkapkan rencananya untuk membuka sebuah kantor perwakilan AHG di Israel. Ini menjadi bukti keyakinannya hubungan resmi UEA-Israel akan sangat menjanjikan bagi kegiatan perdagangan dan investasi.

Dia menjelaskan setelah UEA dan Israel mengumumkan kesepakatan buat menormalisasi hubungan pada 13 Agustus, AHG mendapat banyak permintaan untuk kerjasama dari para pebisnis Israel di beragam bidang: mulai dari kecerdasan buatan dan teknologi, hingga pertanian, wisata, dan perdagangan.

Al-Habtur sebelumnya sudah mengatakan AHG telah memulai pembicaraan dengan Israir Airlines Ltd., maskapai domestik asal Israel, untuk membuka penerbangan komersial langsung Tel Aviv-Dubai.

Apa yang dierjakan Al-Habtur dan Fogel merupakan bukti tidak butuh waktu lama bagi hubungan bisnis antara kedua negara untuk berdenyut sejak gong hubungan resmi UEA-Israel dipukul.

Sejumlah pakar properti pun optimistis investor dari Israel juga akan meramaikan pasar properti di negara Arab Teluk itu. Sebab menurut Direktur Danube Properties Atif Rahman, UEA adalah salah satu negara teraman dan masyarakatnya paling inklusif atas dasar rekam jejaknya. Hal ini mendorong bisnis untuk terus tumbuh dan berkembang.

"Infrastruktur mengagumkan, kerangka aturan kuat, liberalisasi perdagangan, dan keunggulan geografis membikin UEA layak dilirik," tuturnya. "Semua ini menciptakan peluang investasi aman dengan keuntungan tinggi."

Direktur Pelaksana luxuryproperty.com Andrew Cummings sependapat. Dia meyakini para investor Israel bakal lebih mempertimbangkan untuk membeli properti di UEA ketimbang London atau New York, terutama karena faktor kedekatan wilayah.

Operator pelabuhan berskala global dari Dubai, Dubai Ports World, juga telah bermitra dengan perusahaan dari Israel untuk mengelola Pelabuhan Haifa akan diswastanisasi. Proses privatisasi pelabuhan strategis dan penting di negara Bintang Daud itu diperkirakan rampung dua tahun lagi.

The First Abu Dhabi Bank dan the National Bank of Dubai juga telah mencapai kesepakatan untuk bekerjasama dengan dua bank ternama Israel, yakni Bank Hapoalim dan Bank Leumi.

Abu Dhabi Investment Office juga sudah mengumumkan rencana membuka kantor di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. Bursa Berlian Dubai dan Bursa Berlian Israel juga telah berjabat tangan untuk memulai kolaborasi.

Menurut Ofir Bay Noy, baru-baru ini mendirikan Emirates Israel Investment Group, biaya operasional perusahaan di Israel lebih murah. "Hampir tidak ada biaya lisensi dan registrasi bersamaan antara VAT dan pajak perusahaan menjadikan memulai bisnis di Israel jauh lebih gampang," katanya. "Dalam konteks pajak, Israel sudah mengurangi rasio pajak pendapatan perusahaan, sehingga lebih murah."

Boleh jadi kelebihan di UEA dan Israel bakal membuat bisnis antara kedua negara berdenyut kian kencang.

 

Emir Dubai Syekh Muhammad bin Rasyid al-Maktum berpose bareng dua pengunjung Mal An-Nakhil di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, Selasa, 10 November 2015. (Twitter)

Kabinet UEA setujui perjanjian damai dengan Israel

Israel sudah merampungkan proses ratifikasi pekan lalu. Kalau UEA sudah melakoni hal serupa, maka hubungan diplomatik antara kedua negara sudah bisa dimulai.

Seorang pramugari tengah memeriksa kabin barang dalam pesawat Etihad Airways rute Jakarta-Abu Dhabi di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Sabtu, 25 April 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Untuk pertama kali, pesawat UEA dari Milan menuju Abu Dhabi terbang melintasi Israel

Pesawat kargo Etihad pada Mei dan Juni lalu terbang ke Ibu Kota Tel Aviv, Israel, mengangkut bantuan kemanusiaan bagi Palestina untuk menangani wabah virus corona Covid-19.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama anjingnya, Kaya, di kediaman resminya di Kota Yerusalem. (Facebook)

Netanyahu pekan depan minta persetujuan kabinet dan parlemen soal perjanjian normalisasi dengan UEA

UEA dan Bahrain menjadi negara Arab ketiga dan keempat menjalin hubungan resmi dengan negara Zionis itu setelah Mesir pada 1979 serta Yordania di 1994.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Temu rahasia Gus Dur-Peres di Halim

Kalau mau menjadi penengah, Indonesia harus berdialog dengan kedua pihak. Indonesia juga harus dan pantas dilibatkan sebagai mediator dalam proses perdamaian Palestina-Israel.

30 Oktober 2020

TERSOHOR