kisah

Malu-malu terhadap Israel, buka diri kepada Yahudi

Fenomena teranyar, Imam Masjid Al-Haram Syekh Abdurrahman as-Sudais dalam khotbah di Jumat perdana bulan ini memberi isyarat merestui Saudi berbaikan dengan Israel.

25 September 2020 07:17

Hingga hari ini, Arab Saudi masih bungkam soal penandatanganan perjanjian normalisasi hubungan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan Israel, dilaksanakan pada 15 September di Gedung Putih, Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat. Riyadh tidak bilang mendukung atau mengecam.

Saat berpidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa digelar secara virtual, Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz menekankan perdamaian di Timur Tengah baru bisa terwujud kalau negara Palestina merdeka dan berdaulat dengan Ibu Kota Yerusalem Timur dan wilayah sebelum Perang Enam Hari 1967 sudah terbentuk.

Pandangan Raja Salman ini mewakili gerenasi tua keluarga kerajaan Saudi. Sedangkan anaknya, Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman, bersikap sebaliknya: membuka peluang untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Tapi sejauh ini Bin Salman, merupakan pemimpin de facto Saudi, masih malu-malu menjalin kontak dengan Israel. Saudi tidak mengiyakan atau membantah soal izin diberikan ketika pesawat El Al membawa rombongan resmi Israel dan tim Amerika melewati wilayah udaranya dalam penerbangan pulang pergi Tel Aviv-Abu Dhabi pada 31 Agustus dan 1 September.

Delapan hari kemudian, Jared Kushner, penasihat senior bagi Presiden Donald Trump, mengumumkan Saudi dan Bahrain membolehkan semua penerbangan dari Israel ke wilayah timur jauh dan sebaliknya melintasi wilayah udara mereka. Lagi-lagi Riyadh tidak mengiyakan sekaligus tidak membantah.

Sebaliknya, Saudi di bawah kendali Bin Salman terang-terangan memusuhi Palestina. Negara Kabah itu telah menetapkan Hamas dan kelompok Al-Ikhwan al-Muslimun sebagaui organisasi teroris. Saudi juga telah menahan lusinan warga Palestina dan Yordania tinggal di sana lantaran mendukung Hamas.

Walau belum diketahui kapan bakal menandatangani perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel, Bin Salman sudah mulai membuka lebar-lebar tangan mereka kepada kaum Yahudi. Sekretaris Jenderal Liga Dunia Muslim Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Isa Januari tahun ini mengunjungi kamp Auschwitz di Polandia, lokasi bekas pembantaian orang-orang Yahudi oleh pasukan Nazi Jerman pada Perang Dunia Kedua. Dia menjadi ulama dan tokoh Saudi pertama berkunjung ke sana.

Sila baca: Ulama Saudi pimpin salat dan doa bagi arwah kaum Yahudi dibantai Nazi

Dia juga menjadi ulama Saudi perdana menjadi pembicara dalam pertemuan tahunan organisasi lobi Yahudi, Forum Global AJC (Komite Yahudi Amerika) Juni lalu.

Sila baca: Tidak pernah bicara soal Nakbah, ulama tersohor Arab Saudi menangis saat mengunjungi kamp pembantaian Yahudi

Kampanye berbaikan dengan Yahudi ini juga dilancarkan melalui budaya. Dua drama serial televisi Arab Saudi diputar selama Ramadan lalu mengandung pesan desakan agar negara Kabah itu menormalisasi hubungan dengan Israel.

Sila baca: Dua drama televisi di Arab Saudi kampanyekan normalisasi hubungan dengan Israel

Bin Salman juga sudah memerintahkan merevisi buku-buku pelajaran sekolah menghina kaum Yahudi dan non-muslim lainnya, sebagai bagian dari kampanye anti-ekstremisme. "Pemerintah Saudi sudah melarang pelecehan terhadap Yahudi dan nasrani di masjid-masjid," kata pengamat Saudi, Najah al-Utaibi.

Fenomena teranyar, Syekh Abdurrahman as-Sudais, imam Masjid Al-Haram di Kota Makkah, dalam khotbah di Jumat perdana bulan ini memberi isyarat merestui Saudi berbaikan dengan Israel.

Sila baca: Imam Masjid Al-Haram isyaratkan restui Arab Saudi membina hubungan diplomatik dengan Israel

Itulah dua sikap Saudi: malu-malu terhadap Israel tapi membuka diri kepada Yahudi.

 

Demonstrasi antirezim di Provinsi Khuzestan, Iran. (Video screencapture)

Revolusi Air di negeri Mullah

Ahwaz sebelum Perang Dunia Kedua meletup adalah negara merdeka dan berdaulat bernama Ka'abi. Penguasa terakhirnya adalah Pangeran Khazal al-Kaabi.

Dua Mercedes Benz milik warga Gaza. (Albalad.co/Supplied)

Masih ada surga dunia di Gaza

Keluarga berkocek tebal di Gaza bisa menyewa vila dilengkapi kolam renang di daerah sejuk di utara Gaza. Terdapat satu-satunya klub Mercedes di Gaza.

Perempuan Arab Saudi tengah menggunakan telepon seluler. (Arab News)

Berburu seks halal dan murah meriah di negara Kabah

"Teman saya orang Saudi sudah sebelas kali menikah misyar," ujarnya. Dia ceraikan dan menikah lagi, cerai kemudian menikah kembali."

Antrean mobil mengular di sebuah pompa bensin di Ibu Kota Beirut, Libanon. (Twitter)

Ekonomi ambyar negeri Cedar

Ambruknya militer Libanon karena krisis ekonomi bisa meletupkan perang saudara lagi di negara itu.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Revolusi Air di negeri Mullah

Ahwaz sebelum Perang Dunia Kedua meletup adalah negara merdeka dan berdaulat bernama Ka'abi. Penguasa terakhirnya adalah Pangeran Khazal al-Kaabi.

23 Juli 2021

TERSOHOR