kisah

Jejak Yahudi di negeri Dua Kota Suci

Orang-orang Yahudi di Al-Ahsa menduduki posisi-posisi penting di Al-Ahsa, khususnya menjadi bendahara, dikenal dengan sebutan sanduq amini.

12 Oktober 2020 02:17

Selain Benteng Khaibar, basis pertahanan kaum Yahudi ketika berperang dengan pasukan muslim di abad ketujuh, masih tersisa jejak peninggalan komunitas Yahudi di Arab Saudi.

Jejak tersisa dari orang-orang Yahudi pernah tinggal di negara Kabah itu adalah pemakaman Yahudi di wilayah Al-Ahsa, seperti ditulis ilmuwan asal Kuwait Yusuf Ali al-Mutairi dalam buku Al-Yahud fi al-Khalij (Yahudi di Arab Teluk), terbitan Beirut pada 2011.

Dalam buku itu disebutkan tidak seperti komunitas Yahudi di Irak, Mesir, Yaman, dan Afrika Utara, masyarakat Yahudi menetap di negara-negara Arab Teluk jumlah mereka cuma beberapa ratus saja di satu negara Arab Teluk.

Komunitas Yahudi di paling banyak di Arab Teluk adalah di Kuwait dan Bahrain. Mereka adalah orang-orang Yahudi asal Irak larimenghindai wajib militer di bawah Kekhalifahan Usmaniyah atau ingin mencari peluang ekonomi baru. Tapi sekarang tersisa hanya komunitas Yahudi di Bahrain. Sedangkan di Uni Emirat Arab, komunitas Yahudinya adalah kaum ekspatriat.

Sila baca:

Bahraini Jews are very well integrated in the society

There are around 1,000 Jews in the UAE

Terkait Arab Saudi, kisahnya unik. Pemerintah Usmaniyah membawa sejumlah orang Yahudi Irak ke Al-Ahsa, merupakan daerah kaya minyak, untuk mengisi jabatan administrasi dan keuangan.

Selama 1871 hingga 1913, Al-Ahsa bagian dari kekuasaan Kekhalifahan Usmaniyah, yakni di bawah kendali Provinsi Basrah, Irak.

Menurut hasil penelitian Al-Mutairi, orang-orang Yahudi di Al-Ahsa menduduki posisi-posisi penting di Al-Ahsa, khususnya menjadi bendahara, dikenal dengan sebutan sanduq amini. Tiga bendahara Yahudi dianggap sukses menjalankan tugasnya di Al-Ahsa adalah Yakub Effendi (menjabat selama 1878-1879), Daud bin Shintob (1879-1894), dan Harun Effendi (1895-1896).

Selama ketiga bendahara Yahudi itu menjabat, pemasukan dan pengeluaran dituis dalam bahasa Ibrani. Al-Mutairi menduga hal ini dilakukan untuk melindungi penguasa Usmaniyah.

Selain itu, orang-orang Yahudi Irak juga dipekerjakan sebagai bendahara di kantor-kantor Sunni atau pengadilan kasasi. Yang paling tersohor adalah Eliyahu. Dia menduduki posisi sebagai pengumpul bea masuk di Pelabuhan Hokair. Namun jabatan paling penting pernah dikuasai seorang Yahudi adalah Direktur Bea Cukai di Al-Ahsa.

Al-Mutairi mengungkapkan Daud bin Shintob adalah orang Yahudi paling berpengaruh di Al-Ahsa waktu itu. Sebab dia memiliki hubungan baik dengan penguasa Usmaniyah dan pejabat setempat, khususnya dengan gubernur Muhammad Said di masa jabatan ketiganya pada 1896-1900.

Karena dianggap terlalu akrab dengan Daud bin Shintob, Muhammad Saudi dicopot dari posisinya.

Menurut sejumlah sumber di Arab Saudi, pekuburan Yahudi masih tersisa berlokasi di belakang kantor Riyadh Bank di Al-Ahsa. Areal ini dikelilingi tembok dan dalam bahasa Turki dikenal dengan nama Kut. Juga ada pemakaman Yahudi terletak di seberang restoran Beirut di Kota Al-Hafuf.

Di zaman Kekhalifahan Usmaniyah, Kut merupakan pusat pemerintahan di Al-Ahsa. Karena itu, areal ini dibangun tembok dan menara pengawas sebagai pelindung.

Karena cuma sedikit orang Yahudi tinggal dan meninggal di Kut, maka kuburan yang ada juga tidak banyak. Tembok di Kut sebagian besar sudah dirobohkan dan areal ini dijadikan kawasan perniagaan.

Namun daerah yang masih ada pemakaman Yahudinya tidak berpenghuni. Tidak ada orang mengklaim sebagai lahan mereka dan warga setempat mengetahui areal ini sebagai maqbarat al-Yahud (pekuburan orang-orang Yahudi).

Gudang tempat penyimpanan dokumen rahasia program nuklir Iran di kawasan Shorabad, selatan Ibu Kota Teheran, Iran, dicuri oleh sekitar 20 agen Mossad pada 31 Januari 2018. (Peime Minister's Office)

Mossad dan pengkhianatan di negara Mullah

Mantan Direktur Mossad Yossi Cohen untuk pertama kali bercerita bagaimana para agennya berhasil mencuri berton-ton dokumen nuklir Iran dari gudang penyimpanan di Teheran.

Sebanyak 41 mahasiswa Indonesia pada 8 Juni 2021 menjalani tes PCR sebelum terbang meninggalkan Israel pada 10 Juni 2021. Mereka kembali ke tanah air setelah belajar pertanian di kampus AICAT di selatan Israel. (Albalad.co)

Belajar bertani di negara Zionis

Sayangnya tidak ada keterlibatan pemerintah Indonesia. Alhasil, setiap lulusan AICAT tidak tersalurkan ilmu dan pengalamannya.

Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah bertemu pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei di Ibu Kota Teheran. (Khamenei.ir)

Roket Syiah, milisi Sunni, target Zionis

Kesamaan tujuan membikin Iran bisa lebih fleksibel dalam memberikan bantuan tanpa melihat perbedaan paham.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Proyek fantasi Bin Salman di tepi Laut Merah

"Dia mengira dirinya seperti Tuhan ingin membuat peradaban baru," tutur Alia al-Huwaiti. "Atau seperti Firaun, siapa saja menolak pikirannya akan mati atau lenyap."





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Mossad dan pengkhianatan di negara Mullah

Mantan Direktur Mossad Yossi Cohen untuk pertama kali bercerita bagaimana para agennya berhasil mencuri berton-ton dokumen nuklir Iran dari gudang penyimpanan di Teheran.

14 Juni 2021

TERSOHOR