kisah

Takbir Ibrahim ajal tiga Nasrani

Yasin mengungkapkan malam sebelum menyerang Basilika Notre Dame, Ibrahim berbicara dengan keluarga dan teman-temannya lewat telepon berjam-jam.

02 November 2020 22:04

Dia berpakaian sama sehari sebelum menghabisi tiga orang di Basilika Notre Dame di Kota Nice, Prancis. Dalam sebuah toko di negara Eiffel itu, dia berswafoto mengenakan jaket musim dingin berwarna merah membalut kaus blong putih, dan bercelana jins biru belel.

Pose itu satu dari serangkaian foto dia kirimkan kepada teman-teman dan keluarganya di Safaqas, kota berjarak 270 kilometer sebelah tenggara Ibu Kota Tunis, Tunisia.

Kemudian pada Kamis pekan lalu, pukul 08:29, pemuda 21 tahun bernama Ibrahim Issawi itu melaksanakan misi mengguncang dunia. Bersenjatakan pisau belati sepanjang 17 sentimeter, dia mengamuk di Basilika Notre Dame menyebabkan tiga orang tewas. Polisi menemukan dua isau lagi belum dipakai dalam tas punggung Ibrahim.

Ketiga korban itu adalah perempuan 60 tahun nyaris putus kepalanya dan staf kebersihan gereja bernama Loques, 55 tahun. Hari itu, dia mempersiapkan gedung untuk misa pertama. Loques luka dan meninggal karena tusukan tenggorokan.

Korban ketiga adalah perempuan 44 tahun ditusuk berkali-kali. Dia sempat lari ke kafe sekitar gereka sebelum mengembuskan napas terakhir.

Polisi belum mengumumkan motif pelaku namun banyak pihak menduga penyerangan oleh Ibrahim sebagai protes terhadap penerbitan kembali kartun hina Nabi Muhammad oleh majalah Charlie Hebdo September lalu.

Wali Kota Nice Christian Estrosi bilang Ibrahim berkali-kali bertakbir. Bahkan dia tidak berhenti berucap "Allahu akbar" saat dan sehabis diberondong peluru. Keadaannya kini kritis dan dirawat di rumah sakit.

Dalam jumpa pers tengah malam sehabis kejadian itu, Jaksa Antiterorisme Prancis Jean Francois Ricard menjelaskan Ibrahim berangkat dari kampung halamannya dan tiba di Pulau Lampedusa, Italia, pada 20 September setelah menumpang kapal berisi para imigran dari Afrika. Dia lalu melanjutkan perjalanan hingga menjejakkan dua kakinya di negeri Mode itu pada 9 Oktober.

Rakyat Prancis dan masyarakat internasional terhenyak. Tindakan nekat Ibrahim berselang hanya 13 hari setelah imigran muslim dari Chechnya berusia 18 tahun memenggal kepala seorang guru di Paris karena telah memperlihatkan kartun Rasulullah kepada murid-muridnya saat belajar dalam kelas.

Kerabat dan rekan-rekannya di Safaqas juga kaget. Menurut Yasin Issawi, 38 tahun, adiknya itu membeli pakaian dan sebuah telepon seluler baru di Prancis dari fulus hasil bekerja di Italia.

Ibrahim sangat bangga dengan semua itudan ingin memperlihatkan kepada keluarganya dia tidak terlunta-lunta merantau ke Eropa. Ibrahim memang bercita-cita mencari pekerjaan di Benua Biru itu agar bisa menabung untuk membeli mobil.

Yasin mengungkapkan malam sebelum menyerang Basilika Notre Dame, Ibrahim berbicara dengan keluarga dan teman-temannya lewat telepon berjam-jam. "Dia meyakinkan kami segalanya baik-baik saja," kata Yasin. "Dia mengatakan bertemu seorang lelaki Arab memberi dia tumpangan untuk sampai di Prancis."

Dia menambahkan Ibrahim memberitahu akan menginap di depan Basilika Notre Dame dan mengirim sebuah foto kepada keluarga, memperlihatkan dirinya sedang berada di depan gereja menjadi sasaran serangannya besok pagi itu.

Pihak keluarga mengaku tidak mengetahui bagaimana Ibrahim, bersaudara kandung sepuluh orang, bisa menjadi berpandangan ekstrem. Ibunya, Gamra, mengakui Ibrahim menjadi lebih saleh beberapa bulan belakangan. Setahunya, putranya itu tidak memiliki hubungan dengan kelompok Islam ekstrem. "Saya pikir dengan lebih tertarik pada agama, dia bakal berhenti mabuk-mabukan dan memakai narkotik," ujar perempuan 61 tahun ini.

Gamra bercerita Ibrahim putus sekolah dan bekerja sebagai montir sepeda motor. Tiap hari rutinitas anaknya itu salat, dari rumah ke tempat kerja kemudian pulang. Dia tidak berkumpul dengan teman-temannya lagi dan memilih tinggal di rumah.

Sang ayah, Muhammad, juga tidak percaya Ibrahim mampu berbuat sekeji itu. "Saya cuma ingin kebenaran," ucap pria 63 tahun itu.

Bagi Ibrahim, membalas kaum menghina Nabi Muhammad dengan melenyapkan nyawanya adalah sebuah kebenaran. Karena itulah, dia memuji Tuhannya ketika mencabut hak hidup makhluknya. Dia bahkan membawa Al-Quran dalam tasnya saat membunuh.

 

Puteri Haya binti Husain hadir dalam sidang kasus perceraiannya dengan Emir Dubai Syekh Muhammad bin Rasyid al-Maktum, berlangsung di sebuah pengadilan di Ibu Kota London, Inggris, 9 Oktober 2019. (Sky News)

Asmara terlarang Puteri Haya

Puteri Haya menghadiahi pengawal pribadinya dengan beragam hadiah, termasuk pistol seharga Rp 943 juta. Selingkuhannya ini juga dikasih uang tutup mulut sebesar Rp 22,6 miliar.

Poster wakil pemimpin Al-Qaidah Abu Muhammad al-Masri. Dia ditembak mati pada Agustus 2020 di jalanan di Ibu Kota Teheran, Iran. (FBI)

Duka Al-Qaidah di negara Mullah

Dalam tiga bulan, Al-Qaidah kehilangan dua pemimpin mereka, Aiman Zawahiri dan wakilnya, Abu Muhammad al-Masri.

Sinagoge Jobar di Harit al-Yahud, Ibu Kota Damaskus, Suriah. (Christy Sherman)

Melawat ke kawasan Yahudi di Damaskus

Di awal abad ke-20, terdapat 12 yeshiva dan sepuluh sinagoge di Damaskus, paling tersohor adalah Sinagoge Pasar Jumat.

Shimon Peres menandatangani formulir pengajuan untuk menjadi warga negara Palestina pada 1937. (PIC)

Temu rahasia Gus Dur-Peres di Halim

Kalau mau menjadi penengah, Indonesia harus berdialog dengan kedua pihak. Indonesia juga harus dan pantas dilibatkan sebagai mediator dalam proses perdamaian Palestina-Israel.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Asmara terlarang Puteri Haya

Puteri Haya menghadiahi pengawal pribadinya dengan beragam hadiah, termasuk pistol seharga Rp 943 juta. Selingkuhannya ini juga dikasih uang tutup mulut sebesar Rp 22,6 miliar.

23 November 2020

TERSOHOR