kisah

Melawat ke kawasan Yahudi di Damaskus

Di awal abad ke-20, terdapat 12 yeshiva dan sepuluh sinagoge di Damaskus, paling tersohor adalah Sinagoge Pasar Jumat.

06 November 2020 06:58

Nasim Zlayta pernah tinggal di kawasan Yahudi (Harit al-Yahud dalam bahasa Arab) di Ibu Kota Damaskus, Suriah, sebelum pindah ke Amerika Serikat di umur 20 tahun. Dia meninggalkan Damaskus setelah pemerintah negara Syam itu mencabut larangan bagi kaum Yahudi meninggalkan Suriah.

Pencabutan larangan untuk rang-orang Yahudi pergi dari Suriah merupakan salah satu hasil dari konferensi perdamaian Timur Tengah digelar pada 1992 di Ibu Kota Madrid, Spanyol.

Zlayta pernah mengunjungi kampung halamannya itu pada 2010 tapi dia kangen ingin kembali ke Harit al-Yahud lantaran rumah dan dua toko milik keluarganya masih ada di sana.

Setelah gelombang eksodus warga Yahudi dari Suriah di awal 1990-an, jumlah mereka hingga 2014 tinggal 60-70 orang saja menetap di Damaskus, sedangkan enam orang Yahudi lainnya hiddup di Kota Aleppo, utara Suriah, seperti dilansir surat the Wall Street Journal.

Angkanya kini cuma 12 orang Yahudi bermukim di Harit al-Yahud, kota tua Damaskus, masing-masing enam lelaki dan enam perempuan. Mereka semua tidak menikah dan telah berusia lebih dari 70 tahun.

Menurut Bikhor Shamentop, orang Yahudi hidup di Harit al-Yahud, dirinya tidak ingin pergi dari Suriah lantaran betah menetap di Damaskus. Dia pernah beberapa kali mengunjungi kerabatnya sudah tinggal di Amerika.

"Saya betah hidup di Damaskus dan kehidupan di Suriah sederhana, tidak rumit," katanya kepada Enab Baladi. Dia membenarkan semua sinagoge di Harit al-Yahud telah ditutup karena kekurangan jemaat.

Pengakuan terhadap komunitas Yahudi di Suriah dimulai pada 1932, ketika Suriah masih menjadi salah satu provinsi di Kekhalifahan Usmaniyah. Mereka tersebar di tiga kota: Damaskus, Aleppo, dan Qamisyli.

Mereka berbaur dan hidup damai dengan penduduk Damaskus lainnya, seperti ditulis Akram Hasan al-Ulabi dalam bukunya the Jews of Damascus in the Ottoman Era. Rumah-rumah orang Yahudi di Damaskus bergaya lama dengan tulisan Ibrani di pintu sebagai penanda mereka berdarah Yahudi.

Menurut peneliti Imad al-Armasyi, orang asli Suriah, komunitas Yahudi di Damaskus kala itu terdiri dari dua kelompok berlawanan, yakni Karait dan Yudaisme Rabbinik, masing-masing memunyai sinagoge dan pemakaman khusus.

Orang-orang Yahudi di Damaskus zaman itu terutama berbisnis di sektor perdagangan, keuangan, penukaran mata uang asing, dan peminjaman uang. Banyak dari mereka menjadi tajir karena kedekatan, kerjasama dan ketergantungan orang-orang Eropa tinggal di sana terhadap mereka dalam banyak kegiatan komersial dan perbankan.

Abdul Aziz Muhammad Awad menulis dalam bukunya the Ottoman Administration in the Province of Syria 1864-1914, jumlah orang Yahudi di Suriah pernah mencapai seratus ribu pada 1909. Di kawasan Harit al-Yahud di Damaskus saja, waktu itu terdapat 12 yeshiva (sekolah seminari Yahudi) memiliki 350 pelajar. Juga ada sepuluh sinagoge, paling tersohor adalah Sinagoge Pasar Jumat.

Banyak keluarga kaya Yahudi bekerja dengan Pasha (sebutan pejabat di zaman Kekhalifahan Usmaniyah). Mereka membeli surat-surat berharga dengan nilai murah kemudian menjual berkali-kali lipat harganya di saat tepat.

Orang-orang Yahudi di Damaskus menguasai industri pembuatan tas dan tongkat olahraga. Mereka juga terkenal sebagai rentenir.

 

Demonstrasi antirezim di Provinsi Khuzestan, Iran. (Video screencapture)

Revolusi Air di negeri Mullah

Ahwaz sebelum Perang Dunia Kedua meletup adalah negara merdeka dan berdaulat bernama Ka'abi. Penguasa terakhirnya adalah Pangeran Khazal al-Kaabi.

Dua Mercedes Benz milik warga Gaza. (Albalad.co/Supplied)

Masih ada surga dunia di Gaza

Keluarga berkocek tebal di Gaza bisa menyewa vila dilengkapi kolam renang di daerah sejuk di utara Gaza. Terdapat satu-satunya klub Mercedes di Gaza.

Perempuan Arab Saudi tengah menggunakan telepon seluler. (Arab News)

Berburu seks halal dan murah meriah di negara Kabah

"Teman saya orang Saudi sudah sebelas kali menikah misyar," ujarnya. Dia ceraikan dan menikah lagi, cerai kemudian menikah kembali."

Antrean mobil mengular di sebuah pompa bensin di Ibu Kota Beirut, Libanon. (Twitter)

Ekonomi ambyar negeri Cedar

Ambruknya militer Libanon karena krisis ekonomi bisa meletupkan perang saudara lagi di negara itu.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Revolusi Air di negeri Mullah

Ahwaz sebelum Perang Dunia Kedua meletup adalah negara merdeka dan berdaulat bernama Ka'abi. Penguasa terakhirnya adalah Pangeran Khazal al-Kaabi.

23 Juli 2021

TERSOHOR