kisah

Duka Al-Qaidah di negara Mullah

Dalam tiga bulan, Al-Qaidah kehilangan dua pemimpin mereka, Aiman Zawahiri dan wakilnya, Abu Muhammad al-Masri.

16 November 2020 06:17

Dua kabar duka itu datang dalam tiga bulan. Membikin syok pentolan dan anggota senior Al-Qaidah. Sebab pemimpin dan wakil mereka, Aiman az-Zawahiri dan Abdullah Ahmad Abdullah alias Abu Muhammad al-Masri, mengembuskan napas terakhir.

Menurut Direktur lembaga kajian the Central for Global Policy Hasan Hasan kepada Albalad.co, Zawahiri meninggal lantaran sakit, sedangkan Al-Masri tewas dibunuh. Keduanya dijemput ajal bukan di pegunungan terpenciil di perbatasan Afghanistan dan Pakistan tapi di tempat mereka bernaung: Iran.

Sejumlah pejabat intelijen Amerika Serikat mengungkapkan kepada surat kabar the New York Times, Al-Masri tewas bareng putrinya, Maryam, dibunuh di sebuah jalan di Ibu Kota Teheran pada 7 Agustus. Pelakunya adalah dua agen Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) menggunakan sepeda motor berboncengan. Maryam adalah janda dari Hamzah Bin Ladin, putra pemimpin pertama Al-Qaidah Usamah Bin Ladin.

Al-Masri, berumur sekitar 58 tahun, merupakan salah satu pendiri Al-Qaidah. Dia mestinya memegang tongkat kepemimpinan kalau Zawahiri wafat.

Dia sudah lama masuk dalam daftar buronan FBI (Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat) karena mendalangi pengeboman terhadap dua kedutaan negara adikuasa itu di Kenya dan Tanzani menewaskan 224 orang. FBI menawarkan fulus US$ 10 juta bagi siapa saja bisa memberitahu lokasi persembunyian Al-Masri.

Rupanya Al-Masri selama ini tinggal di Iran, sebuah hal mengejutkan. Karena selama ini Iran, negara teokrasi muslim Syiah, bermusuhan dengan Al-Qaidah, kelompok jihadis muslim Sunni. Mereka saling bertempur di beragam wilayah konflik, seperti di Irak.

Menurut beberapa pejabat intelijen Amerika, Al-Masri sudah menetap di Iran sejak 2003. Dia bisa hidup bebas di Pasadaran kawasan elite di Teheran, paling tidak sedari lima tahun lalu.

Malam itu, sekitar pukul sembilan, dia mengendarai sedan Renault L90 bareng anak perempuannya, Maryam. Mobil itu sudah mendekati kediaman Al-Masri ketika dua orang berbocengan sepeda motor menembaki dirinya dan Maryam. Lima peluru dimuntahkan dengan sebuah pistol dilengkapi peredam suara. Empat peluru menembus masuk ke dalam mobil dan satunya lagi mengenai mobil di dekatnya.

Kabar penemabkan itu langsung mereebak. Media resmi Iran menulis korban tewas adalah profesor sejarah asal Libanon, Habib Daud, dan putrinya, Maryam, 27 tahun. Stasiun televisi MTV dan media sosial berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Iran menyebut Daud anggota Hizbullah, milisi Syiah sokongan Iran.

Pembunuhan ini terjadi saat ledakan misterius kerap terjadi di Iran, ketegangan meningkat dengan Amerika, beberapa hari setelah ledakan meluluhlantakkan pelabuhan di Ibu Kota Beirut, Libanon.

Kejahatan dilakukan pelaku bersepeda motor itu mirip modus operandi pembunuhan dilakoni Israel sebelumnya atas ilmuwan-ilmuwan nuklir Iran.

Kenyataannya korban terbunuh bukan Habib Daud.

Beberapa pejabat Libanon dekat dengan Iran bilang mereka belum pernah mendengar kabar pembunuhan Daud. Penelusuran di berbagai media Libanon juga tidak ada laporan soal pembunuhan seorang profesor sejarah dari Libanon di Iran. Seorang peneliti memiliki akses terhadap daftar semua profesor di Libanon tidak menemukan data mengenai Habib Daud.

Salah satu pejabat intelijen Amerika memberitahu Habib Daud adalah nama samaran diberikan para pejabat Iran terhadap Al-Masri dan pekerjaannya mengajar sejarah juga cerita bohong. Oktober tahun lalu kepada stasiun televisi Al-Arabiya, mantan pemimpin Jihad Islam di Mesir, Nabil Naim merupakan sahabat lama Daud, menceritakan hal serupa.

Tidak jelas kenapa Iran melindungi pimpinan Al-Qaidah di negaranya. Beberapa pakar terorisme mnduga hal ini dilakukan lantaran negara Mullah itu ingin memastikan Al-Qaidah tidak melaksanakan serangan teror di sana. Para pejabat kontraterorisme Amerika berpendapat Iran melindungi para pentolan Al-Qaidah agar mereka masih bisa melanjutkan operasi melawan negara adikuasa ini.

Tentu bukan hal mengagetkan. Iran juga menyokong kelompok pejuang Sunni, misalnya Hamas dan Jihad Islam di Palestina, serta Taliban di Afghanistan.

"Iran memakai isu sektarian sebagai alat pemukul kalau sejalan dengan rezim tapi juga akan membelah Sunni-Syiah ketika sesuai kepentingan nasionalnya," kata Collin P. Clarke, ahli terorisme di the Soufan Centre.

Negeri Persia itu berkali-kali membantah melindungi para pemimpin Al-Qaidah. Pada 2018, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahranm Ghasimi menjelaskan karena mempunyai perbatasan panjang dengan Afghanistan, sejumlah anggota Al-Qaidah menyusup ke Iran tapi mereka ditangkap dan dikembalikan ke negara asal.

Para pejabat intelijen Barat berkata lain. Iran membiarkan mpara pentolan Al-Qaidah dalam status tahanan rumah, kemudian membikin sedikitnya dua kesepakatan dengan Al-Qaidah untuk membebaskan sebagian dari mereka pada 2011 dan 2015.

Setelah the New York Times melansir kabar pembunuhan Al-Masri, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Said Khatibzadeh Sabtu pekan lalu membantah tidak ada satu pun pentolan Al-Qaidah bermukim di negara Mullah itu. Dia memperingatkan media Amerika untuk tidak membuat skenario semacam film-film Hollywood.

Al-Masri, sudah lama menjadi anggota dewan pemerintahan Al-Qaidah bareng Saif al-Adl, juga pernah menetap di Iran. Keduanya bersama Hamzah Bin Ladin, termasuk rombongan anggota senior Al-Qaidah lari dari Afghanistan dan meminta perlindungan kepada Iran sehabis serangan 11 September 2001.

Di Iran, Al-Masri menjadi mentor bagi Hamzah Bin Ladin, dipersiapkan menjadi pemimpin Al-Qaidah berikutnya. Di negara itulah, putra dari usamah Bin ladin ini menikahi Maryam, putri dari Al-Masri.

Anak perempuan Al-Masri lainnya kawin dengan Abu Khair al-Masri, buka kerabat, juga anggota dewan pemerintahan Al-Qaidah. Abu Khari dibolehkan meninggalkan Iran pada 2015 namun dibunuh oleh Amerika lewat serangan udara pada 2017 di Suriah. Waktu itu, dia adalah orang kedua sehabis Zawahiri.

Iran membebaskan Hamzah dan anggota keluarga Bin Ladin lainnya pada 2011, ditukar dengan pelepasan seorang diplomat Iran diculik di Pakistan. Tahun lalu, Gedung Putih mengumumkan Hamzah tewas dalam perasi militer dilakukan Amerika di perbatasan Afghanistan-Pakistan.

Abu Muhammad al-Masri dilahirkan di Al-Gharbiyah di utara Mesir pada 1963. Semasa mudanya, dia pemain sepak bola tersohor di negara Nil itu. Setelah Uni Soviet menginvasi Afghanistan pada 1979, Al-Masri bergabung dengan gerakan jihadis untuk membantu pasukan Afghanistan menghadapi Soviet.

Soviet mundur satu dasawarsa kemudian tapi Mesir menolak menerima Al-Masri pulang. Dia tetap tinggal di Afghanistan dan bergabung dengan kelompok Bin Ladin, akhirnya membentuk Al-Qaidah. Al-Masri menempati peringkat ketujuh dalam daftar 170 pendiri Al-Qaidah.

Di awal 1990-an, Al-Masri mengikuti Bin Ladin hijrah ke Ibu Kota Khartum, Sudan. Di sana dia mulai membentuk sel-sel militer. Dia kemudian pergi ke Somalia untuk membantu milisi dipimpin Muhammad Farah Aidid. Dia melatih gerilyawan Somalia bagaimana cara menggunakan roket peluncur granat di bahu. Dengan senjata inilah, milisi Aidid pada 1993 di menembak jatuh helikopter Black Hawk kepunyaan militer Amerika di Ibu Kota Mogadishu.

"Ketika Al-Qaidah mulai melancarkan serangan teror di akhir 1990-an, Al-Masri termasuk dalam tiga orang kepercayaan Bin Ladin," ujar Yoram Schweitzer, kepada the Terrorism Project of the Institute for National Security Studies di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. "Dia memimpin departemen operasi di Al-Qaidah."

Tidak lama sehabis pertempuran di Mogadish, Bin Ladin menunjuk Al-Masri sebagai penanggung jawab atas semua operasi militer Al-Qaidah di Afrika. Al-Masri langsung membuat rencana ambisius: melancarkan serangan setara Teror 11/9 akan membetot perhatian dunia.

Segera setelah jarum jam menunjuk angka 10:30 pagi pada 7 Agustus 1998, dua truk bermuatan bahan peledak menghantam Kedutaan Amerika di Ibu Kota Nairobi, Kenya, dan di Ibu Kota Daar as-Salam, Tanzania.

Pada 2000, Al-Masri termasuk dalam dewan pemerintahan Al-Qaidah beranggotakan sembilan orang. Dia mengepalai bagian pelatihan militer.

Dia terus memantau operasi militer Al-Qaidah di Afrika. Pada 2002, dia memerintahkan serangan di Mombasa, Kenya, menewaskan 13 warga Kenya dan tiga pelancong Israel.

Tepat di ulang tahun ke-22 serangan Al-Qaidah terhadap dua Kedutaan Amerika di Kenya dan Tanzania, Al-Masri, perencana dari kedua teror itu, dilenyapkan untuk selamanya. Al-Qaidah kian larut dalam duka karena bulan lalu, pemimpin mereka, Aiman Zawahiri, juga tutup usia.

Puteri Haya binti Husain hadir dalam sidang kasus perceraiannya dengan Emir Dubai Syekh Muhammad bin Rasyid al-Maktum, berlangsung di sebuah pengadilan di Ibu Kota London, Inggris, 9 Oktober 2019. (Sky News)

Asmara terlarang Puteri Haya

Puteri Haya menghadiahi pengawal pribadinya dengan beragam hadiah, termasuk pistol seharga Rp 943 juta. Selingkuhannya ini juga dikasih uang tutup mulut sebesar Rp 22,6 miliar.

Poster wakil pemimpin Al-Qaidah Abu Muhammad al-Masri. Dia ditembak mati pada Agustus 2020 di jalanan di Ibu Kota Teheran, Iran. (FBI)

Pemimpin Al-Qaidah Aiman Zawahiri meninggal

Wakilnya, Abu Muhammad al-Masri, ditembak mati tiga bulan lalu di jalan di Teheran.

Sinagoge Jobar di Harit al-Yahud, Ibu Kota Damaskus, Suriah. (Christy Sherman)

Melawat ke kawasan Yahudi di Damaskus

Di awal abad ke-20, terdapat 12 yeshiva dan sepuluh sinagoge di Damaskus, paling tersohor adalah Sinagoge Pasar Jumat.

Ibrahim Issawi (berjaket merah dan berkaus oblong putih), pelaku penyerangan terhadap Basilika Notre Dame di Kota Nice, Prancis, pada Kamis, 29 Oktober 2020, menewaskan tiga orang. (Daily Mail)

Takbir Ibrahim ajal tiga Nasrani

Yasin mengungkapkan malam sebelum menyerang Basilika Notre Dame, Ibrahim berbicara dengan keluarga dan teman-temannya lewat telepon berjam-jam.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Asmara terlarang Puteri Haya

Puteri Haya menghadiahi pengawal pribadinya dengan beragam hadiah, termasuk pistol seharga Rp 943 juta. Selingkuhannya ini juga dikasih uang tutup mulut sebesar Rp 22,6 miliar.

23 November 2020

TERSOHOR