kisah

Indonesia dan gerbong normalisasi dengan Israel

Ada rencana kunjungan rahasia pejabat Israel ke Indonesia bulan ini.

11 Desember 2020 10:18

Sejak menjabat pada 20 Januari 2017, Presiden Amerika Serikat Donald Trump seolah sudah meluncurkan kereta cepat normalisasi hubungan dengan Israel. Amerika dan Israel menjadi lokomotif

Beragam terobosan dia lakoni seolah membunyikan klakson kereta: Klakson paling keras suaranya adalah pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel diikuti dengan pemindahan Kedutaan Besar Amerika dari Ibu Kota Tel Aviv ke kota suci bagi tiga agama itu, hingga penetapan semua permukiman Yahudi di Tepi Barat tidak melanggar hukum internasional.

Jelang lokomotif pensiun, dalam empat bulan sejak Agustus sudah empat gerbong normalisasi ikut: Dimulai dari Uni Emirat Arab (UEA), disusul Bahrain, Sudan, dan semalam Maroko. Alhasil, sudah empat enam negara Arab sepakat membina hubungan diplomatik dengan Israel setelah Mesir pada 1979 dan Yordania di 1994.

Setelah penandatanganan Perjanjian Ibrahim antara UEA dan Israel pada 15 September di Gedung Putih, Ibu Kota Washington DC, Amerika, Trump mengklaim ada sepuluh negara Arab dan muslim siap bergabung.

Seorang sumber diplomatik Israel mengungkapkan kepada stasiun televisi Channel 12, pembbicaraan mengenai normalisasi juga sedang berlangsung dengan sejumlah negara muslim di Asia dan Afrika. Indonesia bisa jadi salah satunya.

Tentu bukan hal mengejutkan. Israel gencar melakukan pendekatan kepada Indonesia. Selain lewat jalur resmi, juga mengundang tokoh masyarakat, agama, cendekiawan, dan wartawan untuk datang mengunjungi negara Bintang Daud itu. Israel juga memiliki laman Facebook berbahasa Indonesia.

Menurut seorang pengusaha Israel merintis hubungan dagang dengan Indonesia sedari 1992, langkah itu sudah ditempuh dengan seorang menteri senior Indonesia sebagai pemain sentral. "Trump dan Jared Kushner mengetahui betul sepak terjang menteri ini. Dia sangat bisa diandalkan dan cerdas," katanya kepada Albalad.co semalam.

Karena itulah, lanjutnya, menteri senior itu bulan lalu diundang sampai empat kali bertemu Trump di kantornya di Gedung Putih. Dia menjadi pejabat asing pertama menemui Trump di Gedung Putih sehabis pemilihan presiden pada 3 November, berakhir dengan kemenangan Joe Biden dari Partai Demokrat. Jared Kushner, merupakan penasihat senior Trump urusan Timur Tengah juga hadir bareng istrinya, Ivanka Trump, dan Adam Boehler, CEO the US International Development Finance Corporation (DFC)

Hingga kini, Gedung Putih masih bungkam soal isi pertemuan Trump dengan menteri senior asal Indonesia itu. "Hanya dia pejabat asing selain Netanyahu mendapat perlakuan seistimewa itu," ujarnya.

Dan bukan sebuah kebetulan. Sepulang sang menteri senior dari Amerika, Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia mengumumkan pembukaan caling visa mulai 23 November bagi Israel dan tujuh negara lainnya, yakni Afghanistan, Guinea, Korea Utara, Kamerun, Liberia, Niger, Nigeria, dan Somalia.

Negara calling visa adalah negara dinilai memiliki tingkat kerawanan tertentu ditinjau dari aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, serta keimigrasian.

Kepala Bagian Hubungan Kemasyarakatan dan Umum Direktorat Jenderal Imigrasi Arvin Gumilang menjelaskan alasan pembukaan layanan calling visa bagi Israel dan tujuh negara lainnya adalah banyaknya tenaga ahli dan investor berasal dari kedelapan negara calling visa. Selain itu, buat mengakomodasi hak-hak kemanusiaan pasangan kawin campur.

Seorang pejabat pemerintah Indonesia juga kaget karena rencana pembukaan calling visa bagi Israel tidak pernah dibicarakan di Kementerian Luar Negeri.

Dia menyebut pembukaan calling visa bagi Israel ini sebagai bentuk serius komitmen disampaikan menteri senior Indonesia itu.

Ketika dimintai konfirmasi, menteri senior itu tidak menjawab pesan dan panggilan telepon. Seorang duta besar Indonesia ikut menemani pertemuan sang menteri dengan Trump juga bungkam.

Kali ini, menteri senior itu terbang ke Arab Saudi dan UEA. Trump dan Kushner mengklaim Riyadh sudah siap membina hubungan resmi dengan Israel tinggal masalah waktu.

Menurut seorang pengusaha Indonesia bertahun-tahun berbisnis dengan Arab Saudi, ada agenda lain dibicarakan selain investasi. "Saya dapat info dari seorang mantan pejabat keamanan di Saudi, mereka membicarakan soal normalisasi dengan Israel," ujarnya kepada Albalad.co semalam.

Dia menambahkan itu pesanan dari Amerika. Karena itulah duta besar sama kembali diajak dalam rombongan. Ini aneh, duta besar bertugas di negara lain ikut dalam rombongan ke Saudi dan UEA, padahal Indonesia juga sudah memiliki duta besar di sana, yakni Agus Maftuh Abegebriel di Saudi dan Husin Bagis di UEA.

Lagi-lagi ketika dihubungi Albalad.co, menteri senior dan duta besar itu menolak berkomentar.

Pengusaha Israel ini menyebutkan akan ada normalisasi hubungan Indonesia-Israel dalam skala terbatas dan tidak melanggar konstitusi. Apalagi, sejak era Presiden Abdurrahman Wahid, Indonesia membolehkan hubungan dagang antara pihak swasta kedua negara. Skema kerjasama swasta dengan swasta inilah akan dipakai nantinya.

Dia menambahkan akan ada investasi dari Israel lewat lembaga dana investasi dibentuk bersama antara Amerika-Israel-UEA-Bahrain, dimulai dari sektor pertanian sejalan dengan kebijakan Presiden Joko Widodo mengenai ketahanan pangan. "Juga direncanakan ada kunjungan rahasia pejabat Israel setingkat menteri senior ke Indonesia bulan ini," tuturnya.

Seorang sumber diplomatik Indonesia juga terkejut alasan duta besar bertugas di negara lain diikutkan dalam rombongan menteri senior itu ke Saudi dan UEA.

Dihubungi terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah mengaku tidak mengetahui proses normalisasi hubungan Indonesia-Israel. "Saya tidak dapat memberikan konfirmasi mengenai hal itu."

Kereta normalisasi dengan Israel akan terus meluncur cepat dan berupaya membawa gerbong sebanyak-banyaknya. Ia berkejaran dengan waktu karena harus tiba di tujuan akhir sebelum 20 Januari 2021.

Dua pendiri perusahaan es krim Ben & Jerry's, Jerry Greenfield (kiri) dan Ben Cohen, tampil bareng pada 2010. (Wikimedia Commons)

Ben & Jerry's dan Anti-Zionis

Ben dan Jerry menegaskan mereka menyokong Israel tapi menentang penjajahan di Tepi Barat.

Demonstrasi antirezim di Provinsi Khuzestan, Iran. (Video screencapture)

Revolusi Air di negeri Mullah

Ahwaz sebelum Perang Dunia Kedua meletup adalah negara merdeka dan berdaulat bernama Ka'abi. Penguasa terakhirnya adalah Pangeran Khazal al-Kaabi.

Dua Mercedes Benz milik warga Gaza. (Albalad.co/Supplied)

Masih ada surga dunia di Gaza

Keluarga berkocek tebal di Gaza bisa menyewa vila dilengkapi kolam renang di daerah sejuk di utara Gaza. Terdapat satu-satunya klub Mercedes di Gaza.

Perempuan Arab Saudi tengah menggunakan telepon seluler. (Arab News)

Berburu seks halal dan murah meriah di negara Kabah

"Teman saya orang Saudi sudah sebelas kali menikah misyar," ujarnya. Dia ceraikan dan menikah lagi, cerai kemudian menikah kembali."





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Ben & Jerry's dan Anti-Zionis

Ben dan Jerry menegaskan mereka menyokong Israel tapi menentang penjajahan di Tepi Barat.

30 Juli 2021

TERSOHOR