kisah

Indonesia dan Saudi dua target utama normalisasi dengan Israel

Bin Salman berkepentingan mengamankan dirinya agar bisa naik takhta menggantikan ayahnya, karena itulah butuh sokongan Amerika. Sedangkan Indonesia saat ini membutuhkan aliran investasi buat memompa pertumbuhan ekonomi ambruk gegara pandemi Covid-19.

23 Desember 2020 13:21

Keduanya sama-sama memiliki posisi bergengsi di dunia Islam. Yang satu menjadi lokasi kiblat kaum muslim, satunya lagi negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar sejagat. Karena itu wajar saja Israel sejak lama kepincut ingin membuka hubungan diplomatik dengan Arab Saudi dan Indonesia.

Momentum itu tercipta setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghuni Gedung Putih pada Januari 2017. Hanya dalam 16 bulan, pemimpin dari Partai Republik ini mengambil kebijakan kontroversial membikin Palestina kian terpojok dan semua negara muslim tidak berdaya: mengakui Yerusalem ibu kota Israel di awal Desember 2017, disusul pemindahan Kedutaan Besar Amerika dari Ibu Kota Tel Aviv, Israel, ke Yerusalem.

Sila baca: Antre berdamai dengan Israel

Di pihak Saudi, bukan sebuah kebetulan kudeta tidak berdarah terjadi pada Juni 2017. Anak dari Raja Salman bin Abdul Aziz ketika itu menjabat wakil putera mahkota, Pangeran Muhammad bin Salman, mendongkel abang sepupunya dari jabatan putera mahkota, Pangeran Muhammad bin Nayif.

Bin Salman pun menjadi aktor utama dalam upaya normalisasi hubungan Saudi-Israel. Apalagi dia adalah penguasa de facto sekaligus calon raja di negara Kabah itu. Sikapnya pun mendukung kepentingan negara Zionis itu. Dia sama sekali tidak pernah mengecam terobosan-terobosan Trump melegakan Israel.

Dalam pertemuan dengan para pemimpin organisasi lobi Yahudi dan Zionis ketika melawat ke Ibu Kota Washington DC, Amerika, Bin Salman bilang seperti Palestina, Israel juga berhak memiliki tanah air sendiri. Dia bahkan menekan Presiden Palestina Mahmud Rida Abbas untuk menerima proposal damai versi Trump, isinya tidak akan pernah ada negara Palestina.

Perlahan tapi pasti, hubungan Saudi-Israel kian mencair. Pada Januari tahun ini, Sekretaris Jenderal Liga Dunia Muslim Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Isa memimpin delegasi tokoh muslim ke kamp Auschwitz, lokasi pembantaian sekitar satu juta orang Yahudi oleh tentara Nazi Jerman di Polandia semasa Perang Dunia Kedua.

Lima bulan kemudian, Syekh Muhammad Abdul Karim - merupakan orang kepercayaan Bin Salman - menjadi tokoh Saudi pertama menghadiri pertemuan tahunan Forum Global AJC (Komite Yahudi Amerika) digelar secara virtual.

Setelah Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain meneken Perjanjian Ibrahim pada 15 September di Gedung Putih, Trump mengumumkan Saudi mengizinkan semua penerbangan dari Israel ke Timur Jauh dan sebaliknya melewati wilayah udaranya.

Hingga akhirnya, pada 23 November, Bin Salman bertemu Netanyahu di Kota Neom, Arab Saudi. Ini menjadi pertemuan ketiga keduanya setelah pada 2017 dan 2018.

Sila baca: Netanyahu terbang ke Arab Saudi temui Bin Salman

Saudi memiliki ganjalan lebih ringan ketimbang Indonesia dalam menormalisasi hubungan dengan Israel. Sebagai negara kerajaan bersifat otoriter, tidak akan ada warga Saudi berani turun ke jalan memprotes atau menola lewat media sosial. Bin Salman memerintah dengan tangan besi saja tidak segan memenjarakan kerabatnya sendiri kalau berani menentang. Seperti nasib dialami mantan Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Nayif dan Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz, adik dari Raja Salman.

Negara-negara muslim pun diam saja ketika Saudi memutus hubungan diplomatik dengan Qatar, membombardir Yaman sejak 2015 mengakibatkan krisis kemanusiaan terbesar abad ini menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa. Juga tidak ada demonstrasi besar-besaran meski Saudi getol menangkapi ulama dan membunuh serta memutilasi warganya sendiri di Turki.

Dengan kata lain, Bin Salman bebas melakukan apa saja, termasuk menormalisasi hubungan dengan Israel.

Berbeda dengan Indonesia. Dukungan dan pembelaan terhadap Palestina adalah amant dari pembukaan konstitusi. Apalagi Indonesia memiliki utang sejarah: Palestina adalah negara pertama mengakui kemerdekaan Indonesia.

Belum lagi, sebagai negara demokratis, rakyat berhak bersuara dan turun ke jalan menentang rencana normalisasi hubungan dengan Israel. Situasi ini tentu akan menggangu stabilitas nasional, termasuk kelangsungan rezim berkuasa.

Karena itulah, upaya Amerika dan Israel membujuk Indonesia masuk dalam gerbong normalisasi dilakukan perlahan dan dengan samaran investasi. Peran ini dijalankan oleh menteri senior dalam dua bulan belakangan telah berkunjung ke Amerika, Saudi, dan UEA.

Sila baca: Indonesia dan gerbong normalisasi dengan Israel

"Seorang menteri lain ikut dalam rombongan ke Saudi dan UEA juga sudah diperingatkan oleh Ibu Menteri Luar Negeri (Retno Marsudi) agar jangan sampai kena jebakan Batman," kata sumber Albalad.co dalam pemerintahan. "Pesan Ibu Menteri Luar Negeri, jangan gadaikan prinsip dan martabat bangsa serta negara kita demi uang."

Lawatan ke dua negara Arab Teluk itu juga menimbulkan gesekan lantaran menteri senior itu mengajak seorang duta besar bertugas di negara lain. "Pak Agus Maftuh Abegebriel (Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi) tersinggung dan dia tidak setuju terhadap agenda normalisasi dengan Israel," ujarnya.

Karena itulah, lanjut sumber itu, sang menteri dan Agus Maftuh dari partai sama main kucing-kucingan dengan menteri senior. Tadinya keduanya mau berumrah tapi tidak terlaksana. Sampai akhirnya diutuskan mengadakan pertemuan dengan beberapa lembaga, termasuk Itidal.

Menteri ini tadinya tidak mau diajak oleh menteri senior ke Saudi dan UEA lantaran sudah mengetahui ada agenda tersembunyi. Namun Presiden Joko Widodo memerintahkan dia ikut karena untuk mempromosikan Islam Indonesia moderat dan toleran. "Barangkali menteri senior itu melapor ke Presiden lawatan itu untuk menggaet investasi," tutur sumber sama.

Di Saudi, menteri senior itu gagal bertemu Bin Salman. Dia hanya ditemui oleh Gubernur Makkah Pangeran Khalid bin Faisal. Sedangkan di UEA, dia mengadakan pertemuan dengan Putera Mahkota Abu Dhabi Syekh Muhammad bin Zayid an-Nahyan. 

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah membantah ada pembicaraan normalisadi dengan Israel. "Hingga saat ini tidak terdapat niatan Indonesia untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel," katanya pean lalu.

Dalam percakapan telepon dengan Presiden Abbas, Joko Widodo pun menegaskan Indonesia tidak akan pernah mengakui negara Bintang Daud itu sampai negara Palestina merdeka dan berdaulat dengan ibu kota di Yerusalem Timur terbentuk.

Amerika dan Israel barangkali gerah dengan penolakan resmi itu. Sampai akhirnya CEO International Development and Finance Corporation/IDFC (lembaga pengelola dana investasi Amerika) Adam Boehler membongkar misi rahasia sang menteri senior. Dia kemarin mengungkapkan IDFC bersedia meningkatkan dana investasi buat lembaga pengelola investasi dibentuk pemerintah Indonesia Oktober lalu, yakni dari US$ 1 miliar menjadi US$ 2 miliar. Dengan syarat Indonesia menormalisasi hubungan dengan Israel.

Pernyataan Boehler itu sekaligus membongkar isi pertemuan Trump dan menteri senior Indonesia bulan lalu dan dirahasiakan oleh Gedung Putih. 

Kepada Albalad.co, seorang pengusaha Israel mengetahui rencana ini membenarkan untuk tahap awal, investasi akan masuk ke Indonesia, termasuk dari Israel di bidang pertanian. Inis ejalan dengan kebijakan Joko Widodo mengenai ketahanan pangan.

Indonesia sejatinya sudah menjalin hubungan tidak resmi sedari Orde Baru. Hubungan dagang kedua negara, antara swasta dan swasta digulirkan di era Presiden Abdurrahman Wahid, tetap berjalan meski Presiden Joko Widodo pada 2016 menyerukan boikot produk Israel.

Sila baca: Temu rahasia Gus Dur-Peres di Halim

Yang menjadi pertanyaan adalah siapa akan lebih dulu menormalisasi hubungan dengan Israel, Saudi atau Indonesia. Setelah awal bulan ini Maroko sepakat membuka hubungan diplomatik dengan negara Bintang Daud itu, Jared Kushner, penasihat Presiden Trump urusan Timur Tengah, meyakini normalisasi Saudi-Israel adalah cuma masalah waktu saja.

Bin Salman berkepentingan mengamankan dirinya agar bisa naik takhta menggantikan ayahnya, karena itulah butuh sokongan Amerika. Sedangkan Indonesia saat ini membutuhkan aliran investasi buat memompa pertumbuhan ekonomi ambruk gegara pandemi Covid-19.

Amerika dan Israel sangat ingin memelihara momentum normalisasi telah bergerak sejak Agustus lalu.

Siapa pun di antara Saudi dan Indonesia duluan memulai normalisasi dengan Israel, itu akan mempengaruhi konstelasi di kalangan negara muslim lainnya. Dan sekali lagi, ini bakal menjadi kemenangan besar diplomasi Israel. 

 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Saudi Gazette)

Bin Salman bersedia bertemu Netanyahu di Abu Dhabi hari ini

"MBS (Muhammad bin Salman) siap buat bertemu Bibi (nama panggilan Netanyahu)," kata seorang sumber terpercaya di UEA.

Muhammad Saud, wartawan asal Arab Saudi, berpose di gedung Knesset (parlemen Israel) di Yerusalem. (Screengrab)

Netanyahu telepon penggemarnya di Arab Saudi

Muhammad Saud menjadi satu-satunya warga Saudi secara terbuka lewat Twitter menyatakan menyukai Netanyahu dan Israel. Dia mengunjungi Israel pada 2019 bareng lima wartawan dari dua negara Arab lainnya.

Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Israel Ron Prosor (berjas dan berdasi) berpose dengan latar barang-barang bantuan kemanusiaan dari Israel untuk korban tsunami Aceh di Bandar Udara Hang Nadim, Batam, 11 Januari 2005.(Albalad.co)

Garuda dan Bintang Daud nyaris berdekapan

Pertemuan rahasia Indonesia-Israel itu berlangsung sebelum Natal tahun lalu di Singapura. "Yang hadir masing-masing tiga orang dari Indonesia dan Israel, serta dua dari Amerika," kata sumber Albalad.co

Satu keluarga miskin di Kota Gaza bepergian menggunakan gerobak keledai, 22 Otober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Ronen Skaletzky, warga Israel penolak Zionisme dan penentang normalisasi Indonesia-Israel

Indonesia tidak layak mengikuti negara-negara diktator pengkhianat itu," ujar Skaletzky. 





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Lukisan palsu Da Vinci kepunyaan Bin Salman

Bin Salman menuntut Salvator Mundi miliknya dipajang di sebelah lukisan berjudul Mona Lisa. Calon raja kedelapan Saudi ini menjanjikan fulus dalam jumlah sangat banyak kalau Prancis setuju.

09 April 2021

TERSOHOR