kisah

Maut jemput syuhada hidup

Mencari tahu lokasi Sulaimani telah lama menjadi prioritas bagi intelijen dan militer Amerika serta Israel, terutama saat dia sedang berada di Irak.

06 Januari 2020 21:15

Pesawat Cham Wings membawa komandan Brigade Quds Mayor Jenderal Qasim Sulaimani bersama dua orang, termasuk mantu lelakinya, mendarat di Bandar Udara Baghdad, Irak, Jumat pekan lalu, sekitar pukul 00:32 waktu setempat. Pemimpin pasukan elite Iran itu biasa menggunakan pesawat komersial berbaur dengan penumpang umum.

Karena yang datang tamu istimewa, penjemputannya khusus. Dua mobil - minibus Hyundai Starks dan sedan Toyota Avalon - sudah menunggu di landasan.

Dari pintu pesawat terbuka, Sulaimani mengenali wajah sahabat lamanya tengah menunggu di bawah anak tangga pesawat. Dia adalah Abu Mahdi al-Muhandis, wakil pemimpin paramiliter PMF (Pasukan Mobilisasi Rakyat), merupakan payung dari semua milisi Syiah di Irak berhasil mengalahkan kelompok bersenjata ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) pada 2017.

Sehabis berpelukan dan cium pipi kanan kiri khas orang Arab, rombongan Sulaimani dan Al-Muhandis bergegas keluar dari bandar udara melewati pintu khusus. Sulaimani dan mantunya, Al-Muhandis dan juru bicara PMF Muhammad Ridha Jafari menyetir, berada di mobil sedan. Delapan pengawal Al-Muhandis dari PMF berada dalam SUV.

Menurut sejumlah pemimpin Syiah di Irak, konvoi itu akan menuju rumah Al-Muhandis di Zona Hijau, alamat biasa bagi Sulaimani saban singgah di Baghdad. Zona Hijau merupakan pusat pemerintahan dan kantor-kantor kedutaan besar asing. Karena masuk ring 1, pengamanannya sangat ketat.

Sulaimani dan Al-Muhandis sudah masuk daftar buruan Amerika Serikat bertahun-tahun. Para pemimpin milisi dekat dengan keduanya mengungkapkan kepada Middle East Eye, demi alasan keamanan keduanya tidak memakai tekonologi komunikasi modern. Prosedur keamanan mereka amat ketat agar bisa terus menghindari kejaran musuh.

Sulaimani dan Al-Muhandis juga membatasi orang-orang memiliki akses ke mereka. Keduanya juga tidak pernah mau tampil mencolok ketika bepergian.

"Mereka selalu bepergian tanpa jadwal dan tidak memberitahu tujuan mereka. Mereka selalu menggunakan penerbangan reguler," kata seorang pemimpin milisi dekat dengan Al-Muhandis kepada Middle East Eye.

Sulaimani dan Al-Muhandis selalu menggunakan jalur khusus untuk melewati proses pemeriksaan di imigrasi. Keduanya tidak memakai telepon pintar, dan berpindah tempat dengan mobil biasa dengan mengajak sangat sedikit orang.

"Secara keseluruhan, sulit buat mengikuti jejak mereka tapi bandar udara di Damaskus dan Baghdad penuh dengan intel-intel pro-Amerika," ujarnya.

Menurut para pejabat Irak memahami pergerakan Sulaimani, ada sejumlah titik dipakai jenderal tersohor itu buat memasuki negara 1001 Malam. Biasanya, seperti Jumat pekan lalu, dia datang melalui Bandar Udara Baghdad. Kadang lewat bandar udara Najaf atau dengan bermobil dari Iran melewati perlintasan Munthiriya di Provinsi Diyala, berjarak sekitar 120 kilometer sebelah timur Baghdad.

Sulaimani juga sering terbang ke wilayah Kurdistan di utara Irak, kemudian melanjutkan perjalanan ke Baghdad dengan mobil.

Namun kali ini, seorang pemimpin Hizbullah bilang kepada Middle East Eye, rencana perjalanan Sulaimani ke Baghdad sudah bocor 36 jam sebelum dia tiba. "Dia sudah dibuntuti sejak sampai di Damaskus dari teheran pada Kamis hingga dia dibunuh di Baghdad pada Jumat (pekan lalu)," tuturnya.

Sulaimani mendarat di Damaskus Kamis pagi dan tidak menemui siapapun di sana. Turun dari pesawat, dia langsung masuk ke dalam mobil mengantar dirinya ke Ibu Kota Beirut, Libanon, dan bertemu pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah.

Keduanya duduk berjam-jam membahas perkembangan terkini di Irak. "Terutama soal serangan udara Amerika baru-baru ini menewaskan anggota milisi Kataib Hizbullah dan serbuan demonstran ke Kedutaan Besar Amerika," kata lelaki Libanon ini.

Pembicaraan itu untuk mengkoordinasikan semua milisi sokongan Iran di Timur Tengah dan persiapan menghadapi kemungkinan konfrontasi dengan Amerika. Juga buat menyelesaikan sejumlah persoalan besar di beberapa faksi terkait Hizbullah.

Sulaimani tidak lama di Beirut dan kembali ke Damaskus dengan mobil.

Di Bandar Udara Damaskus, dia terbang ke Baghdad menggunakan maskapai Cham Wings, rentang harga tiketnya US$ 100-an hingga US$ 200-an. Lama penerbangan Damaskus-Baghdad sekitar 1,5 jam.

Penerbangan malam itu dijadwalkan jam 20:20 tapi tanpa alasan jelas ditunda menjadi 22:28.

Di jam ini pula, Al-Muhandis mendapat kabar sahabatnya itu segera mendarat di Baghdad. Dia cuma diberitahu nama pesawat dan jam ketibaan.

Al-Muhandis, salah satu tokoh berpengaruh di Irak dan orang kepercayaan Iran, kerap berkeliling Baghdad menggunakan mobil beratap terbuka. Namun tidak malam itu.

Sejak 2003, pengamanan Bandar Udara Baghdad sangat ketat dan dikelola oleh perusahaan asal Inggris, G4S, di bawah pengawasan badan keamanan serta intelijen Irak.

Sedangkan pasukan antiteror Irak, bekerjasama dengan pasukan Amerika, bertanggung jawab terhadap pengamanan pagar, wilayah udara, dan jalan-jalan menuju ke Bandar Udara Baghdad.

Dalam perjalanan dari dan ke Bandar Udara Baghdad, penumpang biasa bakal melewati sejumlah pos pemeriksaan, membentang sepanjang sepuluh kilometer antara Alun-alun Abbas bin Fuirnas sampai terminal keberangkatan.

Sedangkan penumpang dan pejabat dengan kawalan khusus, dibolehkan melewati jalan istimewa hanya terdapat satu pos pemeriksaan untuk mengecek identitas penumpang, pemeriksaan fisik kendaraan, dan detail registrasi lainnya.

Segala informasi ini kemudian dibagikan ke bagian keamanan bandar udara, badan keamanan dan intelijen nasional, serta G4S.

Al-Muhandis dianggap oleh Amerika dan musuh-musuhnya sebagai orang paling berbahaya di Irak. Dia merupakan eksekutor kepentingan Iran.

Seorang pejabat Amerika mengatakan kepada Middle East Eye, pihaknya menerima informasi intelijen: Sulaimani dalam penerbangan ke Baghdad dan Al-Muhandis akan menjemput dia di bandar udara lalu membawa menuju kediamannya di Zona Hijau.

Tiga pejabat keamanan Irak dan sejumlah pemimpin PMF pun mengetahui begitulah rencananya.

Toyota Avalon membawa Sulaimani dan Al-Muhandis serta Hyundai Starks mengangkus delapan pengawal PMF belum bergerak begitu jauh dari bandar udara ketika tiga peluru kendali Hellfire R9X ditembakkan oleh pesawat nirawak MQ-9 Reaper. Dua R9X mengenai Toyota Avalon dan satunya lagi menghantam Hyundai Starks.

Hellfire R9X dibuat secara rahasia pada 2017 dan baru diketahui keberadaannya tahun lalu. Varian ini pernah dipakai buat membunuh Jamal Ahmad Muhammad al-Badawi, dalan pengeboman kapal induk Amerika USS Cole dan menghabisi gembong Al-Qaidah Abu Khair al-Masri.

Sedangkan MQ-9 Reaper adalah sebuah pesawat bisa dilengkapi senjata, multimisi, berdaya tahan lama, dan dikendalikan dari jarak jauh biasa dipakai untuk menyasar target bergerak. Pesawat nirawak ini memiliki sensor lebar, komunikasi multimoda, dan persenjataan tepat sasaran.

Mencari tahu lokasi Sulaimani telah lama menjadi prioritas bagi intelijen dan militer Amerika serta Israel, terutama saat dia sedang berada di Irak.

Sulaimani sering keluar masuk Irak seolah dirinya tidak bakal tersentuh musuh. Tapi seorang komandan senior Amerika mengaku jet militernya pernah diparkir bersebelahan dengan pesawat komersial ditumpangi Sulaimani di Bandar Udara irbil, utara Irak, seperti dilansir the New York Times.

Jumat dini hari pekan lalu itu adalah hari terakhir sang syuhada hidup di dunia. Karena menjadi incaran Amerika dan Israel sejak lama, pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei menyebut Sulaimani sebagai syuhada masih hidup. Meski sadar orang kepercayaannya itu bakal tewas kapan saja oleh musuhnya, Khamenei dan rakyat Iran murka dan bersumpah akan membalas kematiannya.

Belum jauh dari Bandar Udara Baghdad, MQ-9 reaper menembakkan Hellfire R9X pertamanya dan menghantam Hyundai Starks. Peluru kendali kedua dan ketiga meluluhlantakkan Toyota Avalon ditumpangi Sulaimani dan Al-Muhandis.

Maut pun akhirnya menjemput syuhada hidup itu. Khamenei meyakini Sulaimani mati syahid. Dalam situs resminya, Khamenei.ir, terdapat gambar ilustrasi karya seniman Iran, Hasan Ruhul Amin, memperlihatkan Imam Husain, mati syahid di Karbala, memeluk Sulaimani di surga.

 

 

 

 

 

Lautan manusia menghadiri pemakaman jenazah komandan Brigade Quds Mayor Jenderal Qasim Sulaimani di Kota Kerman, Iran, 7 Januari 2020. Penguburan mayat Sulaimani ditunda lantaran 56 pelayat tewas 213 lainnya luka akibat berdesakan. (CNN)

Jumlah pelayat tewas dalam penguburan Sulaimani bertambah jadi 56

Korban meninggal itu terdiri dari 35 lelaki dan 21 perempuan.

Lautan manusi berkumpul dalam prosesi penguburan jenazah komandan Brigade Quds Mayor Jenderal Qasim Sulaimani di Kota Kerman, Iran, 7 Januari 2020. Namun karena 40 pelayat tewas dan 213 orang lainnya luka berdesakan, pemakaman Sulaimani ditunda. (Sky News)

Penguburan Sulaimani ditunda karena 40 pelayat tewas berdesakan

Belum diketahui sampai kapan penundaan itu berlangsung.

Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah bertakziah ke rumah mendiang komandan Brigade Quds Mayor Jenderal Qasim Sulaimani di Ibu Kota Teheran, Iran. (Twitter)

Pemimpin Hamas ikut salat jenazah Jenderal Sulaimani

Selain menghadiri salat jenazah Sulaimani, pimpinan Hamas bertakziah ke rumah mendiang di Teheran. Mereka juga bertemu komandan baru Brigade Quds Mayor Jenderal Ismail Qaani.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Lhamenei menangis sesenggukan saat memimpin salat jenazah komandan Brigade Quds Mayor Jenderal Qasim Sulaimani di Ibu Kota Teheran, Iran, 6 Januari 2020. (Sky News)

Khamenei menangis sesenggukan saat salati jenazah Sulaimani

"Kehilangan Sulaimani sangat menyakitkan," kata Khamenei kemarin.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Berkenalan dengan pemimpin baru ISIS

Muhammad al-Mauli bergelar sarjana syariah lulusan dari Universitas Mosul. Dia memiliki satu putra. Dia bertemu Baghdadi ketika pada 2004 mendekam dalam tahanan Amerika di Kamp Bucca, Irak.

22 Januari 2020

TERSOHOR