kisah

Bin Salman takluk di negeri Saba

Lebih dari empat ribu tentara Saudi tewas dan 20 ribu lainnya cedera dalam pertempuran di Yaman. Riyadh sudah menghabiskan cadangan devisa US$ 225 miliar buat membiayai perang itu.

03 April 2020 08:57

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman, memulai perang di Yaman Maret 2015, akhirnya sadar negaranya tidak berdaya menghadapi milisi Al-Hutiyun sokongan Iran. Empat tahun bertempur di Yaman dengan sokongan sejumlah negara Arab, terutama Uni Emirat Arab, telah membikin anak dari istri ketiga Raja Salman bin Abdul Aziz ini memutuskan buat menyerah.

Tapi untuk menutup malu, lelaki 35 tahun ini tidak ingin mengumumkan perang berakhir. Dia sejak tahun lalu diam-diam menjalin dialog dengan Iran melalui pihak ketiga, yakni Presiden Irak Adil Abdul Mahdi. Dan yang menjadi penyampai pesan dari pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei untuk Saudi melalui Abdul Mahdi adalah komandan Brigade Quds Mayor Jenderal Qasim Sulaimani, terbunuh akibat serangan pesawat nirawak Amerika Serikat di sekitar Bandar Udara Baghdad awal Januari tahun ini.

Meski begitu, Duta Besar Arab Saudi untuk Yaman Muhammad al-Jabar bilang proposal damai untuk mengakhiri Perang Yaman telah disampaikan negaranya kepada Al-Hutiyun tapi belum ada tanggapan.

Arab Saudi sejatinya memang sudah kehilangan segalanya dalam palagan di negeri Saba itu. Perang telah menewaskan lebih seratus ribu orang dan membuat jutaan rakyat Yaman kelaparan dan anak-anak kekurangan gizi ini menyebabkan pamor Saudi tercoreng. Negara Kabah selama ini bersifat pasif dalam tiap konflik di Timur Tengah berubah agresif dan arogan di bawah kendali Bin Salman.

Ketika meluncurkan perang lima tahun lalu, Bin Salman - waktu itu masih menjabat wakil menteri pertahanan - mengira pertempuran bakal berlangsung singkat, beberapa bulan saja. Tapi ternyata pengaruh buruknya amat terasa bagi Saudi. Perang ini melibatkan sekitar seratus jet tempur dan 150 ribu serdadu, ditambah sejumlah kapal perang, puluhan ribu tentara sewaan asal Sudan, dan orang-orang direkrut di Yaman.

Sebanyak 40 persen dari tentara bayaran itu adalah anak-anak berumur 14-17 tahun. Mereka dijanjikan bayaran US$ 10 ribu. "Saudi memberitahu kami apa yang mesti dilakukan melalui telepon," kata Muhammad Sulaiman al-Fadil, 28 tahun. Lelaki dari suku Bani Husain ini kembali ke Sudan dari Perang Yaman pada 2017. "Tentara Saudi tidak pernah bertempur bersama kami (di Yaman)."

Perang Yaman berdampak negatif pada perekonomian Saudi. Bruce Riddle, penasihat kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan di Dewan Keamanan Nasional Amerika, pada 2017 menulis berdasarkan sebuah penelitian oleh Universitas Harvard, negeri Dua Kota Suci itu menggelontorkan US$ 200 juta sehari atau US$ 72 miliar saban tahun buat membiayai perang di Yaman. Bahkan sejumlah sumber lain menyebut ongkos tiap tahun lebih besar dari angka itu.

Satu peluru kendali Patriot ditembakkan buat menghadang peluru kenali balistik ditembakkan milisi Al-Hutiyun ke wilayah Saudi - biasanya menyasar Abha, Jizan, dan Najran, serta kadang ke Riyadh - menghabiskan US$ 3 juta. Untuk menghadang satu peluru kendali balistik ditembakkan Al-Hutiyun membutuhkan paling tidak tiga Patriot.

Artinya, Saudi mesti merogoh kocek US$ 9 juta buat menghancurkan satu peluru kendali balistik dari Al-Hutiyun. Sedari 2015, Al-Hutiyun telah menyerang Saudi menggunakan 119 peluru kendali balistik. Sehingga Riyadh sudah rugi lebih dari US$ 1 miliar. Belum lagi buat menjegal peluru kendali jarak pendek ditembakkan Al-Hutiyun dari Yaman.

Biaya buat menerjunkan jet-jet tempur mencapai US$ 230 juta per bulan, termasuk operasional, amunisi, dan pemeliharaan. Alhasil, Saudi telah merogoh kocek lebih dari US$ 10,5 miliar selama empat tahun berperang di Yaman.

Pasukan koalisi sudah melancarkan lebih dari seratus ribu serangan udara terhadap Al-Hutiyun. Ongkosnya tiap serangan antara US$ 84-104 ribu. Selama setengah tahun pertama saja, penggunaan dua satelit untuk kepentingan militer menghabiskan US$ 1,8 miliar. Sedangkan untuk pesawat peringatan dini (AWACS), Saudi menghabiskan lebih dari US$ 1 miliar tiap tahun.

Selama pertempuran, milisi Al-Hutiyun menghancurkan lebih dari 650 tank Saudi dan ratusan kendaraan lainnya. Juga menembak jatuh dua jet tempur F-16 milik negeri Dua Kota Suci itu, tiga helikopter tempur, dan tiga pesawat intai.

Surat-surat terbitan Barat memperkirakan sekitar 2.500 tentara Saudi terbunuh, mencakup prajurit dan perwira. Namun media-media setempat melaporkan lebih dari empat ribu serdadu Saudi tewas dan 20 ribu lainnya cedera.

Al-Hutiyun tidak berhenti menyerang di perbatasan Saudi saja. Mereka juga menyasar fasilitas-fasilitas penting di dalam wilayah negara itu, seperti bandar udara dan instalasi minyak. September tahun lalu, sebuah serangan oleh pesawat nirawak dan peluru kendali Al-Hutiyun terhadap dua fasilitas kepunyaan Saudi Aramco membuat produksi minyak Saudi anjlok hingga setengahnya. Kejadian ini menyebabkan Saudi rugi miliaran dolar Amerika.

Saudi tidak sekadar rugi dalam konteks ongkos militer. Negara ini sudah memberikan bantuan kemanusiaan US$ 14 miliar bagi Yaman sejak perang meletup. Meski begitu, bantuan ini tidak sebanding dengan kerugian ekonomi dan korban manusia dialami Yaman.

Akibat perang Yaman masih berlangsung, dalam waktu kurang dari lima tahun, Saudi sudah menghabiskan cadangan devisa sebesar US$ 225 miliar. Utang pemerintah meroket ke angka lebih dari US$ 167 miliar dari sebelum perang terjadi tidak sampai US$ 12 miliar.

Bin Salman mengambil langkah berani buat mengatasi semua kerugian itu dengan mencabut subsidi di bidang energi: listrik, air bersih, dan bahan bakar kendaraan bermotor.

Perang Yaman juga membuat konflik dalam keluarga kerajaan Saudi meruncing. Siapa saja menolak dan mengecam disingkirkan, termasuk dua putera mahkota merupakan paman dan abang sepupunya: Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz dan Pangeran Muhammad bin Nayif.

Sehabis lima tahun berlalu, Saudi belum mampu meraih tujuannya dalam Perang Yaman: memusnahkan Al-Hutiyun dan menempatkan kembali pemerintahan sah dipimpin Presiden Abdu Rabbu Mansur Hadi, kini bersembunyi di Riyadh.

Karena itu, Bin Salman menempuh cara politik sebagai satu-satunya cara buat keluar dari medan perang ditahbiskan sebagai Perang Vietnam ala Saudi. Tapi yang membikin dia kalut sekaligus gelisah adalah bagaimana agar strategi itu tidak dilihat sebagai kemenangan Iran atas Saudi.

Arogan tapi miskin pengalaman kian membuktikan Bin Salman tidak pantas menggantikan ayahnya menjadi raja. Dia sesumbar menciptakan perang di Iran buat merobohkan rezim Mullah, tapi baru melawan satu milisi saja di Yaman, Saudi sudah keteteran.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Tipuan Bin Salman di malam Ramadan

Proses pemilihan Bin Salman menjadi putera mahkota Arab Saudi tidak sah.

Bakal lokasi pembangunan kota raksasa Neom senilai lebih dari US$ 500 miliar di wilayah barat Arab Saudi. (Neom)

Kilau Neom petaka Huwaitat

Paling sedikit akan ada 20 ribu orang dari suku Huwaitat bakal terusir dari kampung halaman mereka tanpa ada informasi di mana mereka bakal diberi lahan pengganti.

Chairman SoftBank Masayoshi Son dan Wakil Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Saudi Press Agency)

Salah urus Bin Salman dan kebangkrutan ekonomi Saudi

Propek Saudi menjadi negara pengutang murni bukan khayalan. Pertanyaannya, seberapa cepat hal itu akan terjadi.

Poster Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman terpasang di Ibu Kota Beirut, Libanon. (news.sky.com)

Revolusi Saudi

Takut terjadi huru hara, pihak keamanan mengubur jenazah Abdurrahim di Tabuk dan hanya boleh dihadiri segelintir orang.





comments powered by Disqus

Rubrik kisah Terbaru

Mengenal Lembah Yordania

Netanyahu akan memulai proses aneksasi Lembah Yordania dan 30 permukiman Yahudi di Tepi Barat pada 1 Juli.

29 Mei 2020

TERSOHOR